Senin, 25 Desember 2017

Membangun Kebersamaan Untuk Keluarga Tercinta


Banyak keluarga, terutama di kota-kota besar, yang kadang merasakan waktu untuk hubungan keluarga sangat kurang. Apalagi, bagi pekerja kantoran yang setiap hari terjebak macet. Sampai-sampai, istilah "tak pernah kenal matahari" pun menjadi sesuatu yang lazim terjadi. Berangkat subuh, kembali larut.

Tak salah memang, asal kebersamaan dan komunikasi dalam keluarga tetap terjalin dengan erat. Namun, justru inilah yang kadang menjadikan keluhan banyak keluarga. Sebab, waktu yang tersita untuk pekerjaan sangat besar porsinya dibandingkan dengan waktu untuk keluarga. Paling, hanya libur Sabtu dan Minggu saja, jadwal untuk keluarga bisa dimaksimalkan. Itu pun dengan catatan, asal tak lembur di akhir minggu.

Akibatnya, karena terus-menerus didera kerja tak henti, komunikasi jadi tak lagi intens terjadi. Orangtua sibuk bekerja, anak pun “dididik” oleh pembantu atau sekolah saja. Parahnya, jika kedua orangtua bekerja, komunikasi ayah dan ibu pun sering kali jadi terkendala. Ujungnya, saat komunikasi mampet, harmonisasi keluarga jadi taruhannya.

Sebelum yang ditakutkan terjadi, ada baiknya kita segera mengoreksi diri. Ada kok hal-hal kecil yang jika dibiasakan bisa melanggengkan hubungan. Berikut ini ada beberapa kiat-kiat bermanfaat yang bisa kita terapkan agar—setidaknya—membuat jadwal supersibuk yang kita jalani lebih memiliki arti bagi sekeluarga:

1. Mulai hari ini, rencanakan lebih matang jadwal dalam sepekan
Jika selama ini belum sempat, buatlah daftar acara atau kegiatan yang diketahui oleh seluruh keluarga. Dengan cara ini, komunikasi tertulis setidaknya bisa membuat kita saling tahu apa yang akan dilakukan, minimal dalam sepekan. Ayah bisa menulis jadwal tetap di kantor, ibu pun demikian. Tak lupa, si kecil pun harus kita ketahui jadwal pasti sekolah atau ekstrakurikuler maupun les-les yang diikutinya.

2. Buatlah jadwal khusus kegiatan keluarga
Berdiskusilah dengan keluarga setiap akhir pekan atau setidaknya sebulan sekali. Buatlah jadwal kegiatan yang bisa melibatkan seluruh keluarga. Cobalah cek apakah ada tanggal libur ekstra di bulan yang akan dijalani. Jika perlu, ambil cuti tambahan agar bisa makin intens berkumpul dengan keluarga. Tak perlu pergi jauh, tapi setidaknya ada kegiatan yang bisa diprioritaskan untuk kebersamaan keluarga.

3. Biasakan membuat rekreasi keluarga minimal sebulan sekali
Jauh-jauh hari, jika memungkinkan, buatlah jadwal rekreasi keluarga. Seperti namanya, re-kreasi—atau kreasi ulang—sebenarnya bertujuan agar ada penyegaran atau kreasi dalam hubungan yang terjalin di sebuah keluarga. Pergi ke kebun binatang, nonton film bersama, bersepeda keliling, piknik kebun, atau aneka kegiatan mengasyikkan lainnya bisa kita pilih agar kebersamaan makin terjalin. Pastikan, semua keluarga menyenangi dan menikmati aktivitas rekreasi yang dipilih. Karena itu, libatkan semua keluarga dalam memilih acara sebelum diputuskan hendak ke mana.

4. Batasi waktu menonton televisi setiap hari
Menonton televisi memang menghibur. Kadang, bahkan dapat menjadi sarana relaksasi kita dari kesibukan bekerja seharian. Namun, jika kebablasan, waktu yang digunakan menonton televisi sering kali tanpa disadari malah bisa mengurangi waktu untuk keluarga. Untuk itu, jika memungkinkan, batasi waktu menonton televisi dan ganti dengan kegiatan bersama keluarga yang lebih bisa menjalin kebersamaan. Misalnya, main monopoli, ular tangga, atau beragam permainan mengasyikkan yang mengundang tawa.

5. Batasi juga penggunaan komputer dan internet
Jika memungkinkan, jangan bawa pekerjaan kantor ke rumah. Maksimalkan internet dan komputer di rumah untuk interaksi dengan anak, bukan untuk pekerjaan kantor yang tersisa. Untuk itu, bantulah si kecil mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dengan komputer. Saat itu, jalinlah komunikasi lebih intens dengan si kecil bersama dengan pasangan.

Load disqus comments

0 comments