Minggu, 31 Desember 2017

Cerita Embun Dan Daun

Aku kembali melihatnya hari ini. Dan ini yang ke .... kira-kira lima kali. 

Entah kenapa meski aku tak tahu siapa dia, aku selalu suka memperhatikannya diam-diam. Emm.. kita sebut saja dia 'Daun'. Dia memiliki bola mata coklat dengan sorot mata yang teduh. Rambut ikal hitam, lumayan jangkung, dan kulit kuning langsat - tapi cenderung lebih putih dari kuning langsat, sih.

Setiap kali ia tersenyum, rasanya aku ingin ikut tersenyum. Tapi aku nggak mau melakukan itu. takut disangka gila!


Semua berawal sebulan lalu, ketika aku akan ke ruang Departemen Sastra Inggris untuk menanyakan tugas Linguistic. Aku melihat Daun diinterogasi oleh salah seorang dosenku dan kedua temannya. Dia diinterogasi perihal cuti kuliah dan penyebab ia harus menggunakan tongkat untuk membantu semua aktivitasnya. Aku bisa mendengar karena kebetulan volume suara si penginterogasi dan yang diinterogasi lumayan keras. Di samping itu, entah kenapa aku penasaran. Entah kenapa aku terkesan olehnya. Oleh Daun yang kala itu terlihat gembira dan sangat tegar ketika harus menjawab pertanyaan yang mungkin bisa membuka trauma yang ditimbulkan akibat kecelakaan yang menimpanya.

Seusai menanyakan tugas Linguistic, aku kembali menemukannya. Ia sendirian. Sudah tak ada lagi si penginterogasi. Dia duduk di bangku coklat memanjang dengan tangan kanan yang memegang kedua tongkatnya. Aku memandangnya sekilas. Mencoba merasakan apa yang ia rasa. Tapi aku tak bisa dan tak mau. Dalam hati aku bersyukur masih tetap normal sampai sekarang. Aku bersyukur Allah SWT masih mengutuhkanku. Detik itu, Daun seolah menjadi pengingat akan betapa selama ini aku kurang mensyukuri keadaanku yang sehat wal'afiat.

Dan, Daun membuatku terkesan. Detik itu pula, di saat aku memandangya, entah kenapa aku berharap dapat kembali berjumpa dengannya lain waktu. Aku berharap bisa kembali melihat senyum dan eskpresi bahagianya. Aku berharap bisa curi-curi pandang dan merasakan getaran hati di setiap aktivitas curi-curi pandangku. Aku berharap tetap menyukainya seperti saat aku mengetik tulisan ini meski bahkan ia sama sekali tak tahu aku.

Aku berharap merindukannya seperti saat ini, 16:46 WIB.

"Embun kembali menemukan daunnya. Ia tak tahu sampai kapan beningnya menetes di atas lembar hijau itu. Ia belum tahu kapan akan berheti karena ia justru baru akan memulai tetesan baru. Dan... Embun belum mau berpikir kapan Daun akan jatuh"

Salam dari Embun.
Load disqus comments

0 comments