Senin, 25 Desember 2017

4 Tips Mengenalkan Kepada Anak Konsep Meminjam


Kita sebagai orangtua sering mendapati ada seorang anak yang senang sekali meminjam barang temannya untuk diakui sebagai barang miliknya, meski barang seperti itu sudah ia miliki di rumahnya. Sering kali anak juga tidak pernah bisa mengatakan "tidak" untuk barang yang baru ia miliki, baru ia sentuh, dan kemudian dipinjam oleh temannya dalam jangka waktu lama.

Proses pinjam-meminjam barang ini adalah proses pembelajaran yang bukan saja mengenai pemahaman yang harus dikenal oleh seorang anak. Tapi juga proses bagaimana orangtua mengajarkan sebuah nilai penting kepada anaknya, seperti bagaimana menghargai diri orang lain, menghargai diri sendiri, serta melihat nilai sebuah beda.

Masa usia 1-5 tahun adalah masa paling efektif untuk seorang anak merasa egois. Tapi pada masa itu juga masa efektif orangtua untuk mengenalkan nilai-nilai luhur lewat teladan sehingga anak paham tanpa merasa digurui.

Bagaimana pinjam-meminjam barang bisa menjadi suatu pembelajaran karakter dan kehidupan yang efektif untuk anak? Berikut beberapa hal yang bisa kita coba lakukan sebagai orangtua…

1. Jangan dipaksa
Ketika buah hati baru saja kita belikan sepeda yang sudah lama diimpikannya, lalu ia baru saja bermain lima menit dengan sepeda itu, tiba-tiba ada teman yang datang untuk meminjam sepeda itu, apa reaksi kita sebagai orangtua?

Kalau kita meminta buah hati kita meminjamkan sepeda itu, artinya kita belum mengajarinya meminjamkan barang dengan benar. Sepeda itu sepeda yang sudah lama diinginkan buah hati kita. Ia menanti kita membelikannya dalam tempo waktu yang cukup lama. Ia belajar menahan diri, mungkin untuk berbuat baik sesuai permintaan kita agar sepeda itu didapatkan. Jadi ketika sepeda itu ia mainkan lalu ada teman yang meminjam, wajar jika ia tidak ingin meminjamkan.

Dalam kondisi semacam ini, sebagai orangtua kita tidak boleh memaksa. Biarkan ia puas dengan sepedanya satu atau dua hari. Lalu setelah puas, ajak ia bicara dari hati ke hati tentang temannya yang memang tidak punya sepeda, yang kemudian ingin meminjamnya. Katakan bahwa sekali dua kali putaran mungkin akan memuaskan temannya. Sehingga, sepeda itu akan jadi barang yang bermanfaat untuk buah hati kita atau temannya.

Bila belum berminat juga meminjamkan pada temannya, kita sebagai orangtua harus bisa membuat alternatif seperti memasangkan boncengan sepeda di sepeda buah hati kita. Sehingga, buah hati kita dan temannya bisa saling bermain bersama sebagai pengemudi dan pembonceng.
Cara ini efektif untuk mengajarkan rasa berbagi tanpa merasa kehilangan. Sehingga, lama-kelamaan anak merasa percaya bahwa temannya memang bisa diajak untuk menjaga sepedanya.

2. Barang yang mana?
Ketika proses pinjam-meminjam tidak diajarkan sejak dini, maka ke depannya akan sulit untuk mengajarkan akan hal ini. Proses pinjam-meminjam bukan sekadar permainan sederhana atau sepele. Ini akan melebar menjadi sebuah prinsip dan pemahaman untuk anak. Anak tidak boleh meminjamkan sesuatu dengan terpaksa. Sehingga ketika mereka besar kelak, mereka akan tahu kenapa mereka harus meminjamkan barang yang mereka miliki.

Anak boleh meminjamkan barang yang mereka miliki tapi bukan barang yang bukan miliknya. Misal, mereka boleh meminjamkan mainan mereka untuk teman-temannya dengan batas waktu yang mereka tentukan. Atau mengajak teman-teman mereka bermain bersama. Tapi jangan pinjamkan barang yang bukan milik mereka. Seperti pajangan di rumah milik orangtua mereka, mereka harus berkata tidak pada teman yang ingin meminjamnya dengan alasan itu barang milik orangtua mereka. Ketika metode ini diajarkan pada anak-anak, itu artinya kita mengajarkan mereka juga hal lain seperti sikap tegas.

3. Jangan meminjam
Setelah sering dipinjam barangnya oleh teman yang lain, mungkin anak kita akan jadi terpengaruh, lalu merasa bahwa tentu saja ia boleh melakukan seperti yang sebagian besar teman-temannya lakukan padanya.

Bisa jadi kita menemukan barang milik temannya di rumah. Jika itu terjadi, ajak anak bicara, dan tanyakan kenapa ia meminjam barang milik temannya itu? Kalau ia bilang karena suka, biarkan ia menikmati kesukaannya itu. Lalu beri tenggat waktu satu hari. Lebih dari itu, barang di rumah akan terasa sebagai barang milik sendiri, sehingga akhirnya anak kehilangan tanggung jawab untuk mengembalikannya.

Ingatkan terus agar ia mengembalikan barang itu sehingga anak merasa tidak nyaman dengan barang milik orang lain yang ada di rumah. Dengan cara itu, kita juga mengajarinya bertanggung jawab untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya.

4 Menyeleksi teman
Pelajaran dalam proses meminjam ini adalah anak-anak jadi belajar “memilih” mana teman yang cocok untuk mereka. Ketika kita terus mendampingi dengan berusaha menjadi teladan dan memasukkan prinsip yang baik untuk mereka, mereka jadi akan paham bagaimana menyeleksi teman mereka.

Teman yang suka merebut mainan mereka pasti lama kelamaan mereka tidak suka. Bahkan anak usia rentang dua tahun sudah membuat proteksi tentang hal ini. Teman yang suka meminjam mainan mereka dengan baik, akan lebih mereka sukai. Dan ke depannya tentu saja kita berharap segala prinsip dan teladan yang kita tanam untuk anak kita, akan berbuah manis. Mereka tahu bagaimana menempatkan diri dalam pergaulan dan memilih teman yang baik untuk mereka.

Semoga bermanfaat. Salam sukses Luar Biasa!
Load disqus comments

0 comments