Minggu, 20 Mei 2018

Kekuatan Sebuah Visi


Seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan yang sedang bekerja. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor, ”Pak, Apa yang sedang bapak kerjakan?” Tukang tersebut menjawab singkat, “Saya sedang menyusun batu bata, Den.” Demikian penjelasan tukang pertama, persis seperti apa yang memang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.

Sang mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan ia pun mengajukan pertanyaan yang sama, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?” Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda, “Saya sedang membangun sebuah tembok, Den.” Bahkan tukang yang kedua inipun bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembik tersebut serta di mana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.

Terakhir, sang mandor menghampiri tukang yang ketiga dan kembali bertanya, “Pak, apa yang sedang bapak kerjakan?” Maka tukang yang ketiga pun menjawab, “Saya sedang membangun sebuah rumah yang sangat indah, Den.” Selain itu, tukang yang ketiga ini pun bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Lebih dari itu, tukang ketiga ini pun mampu mengilustrasikan aktivitas-aktivitas yang bakal terjadi di rumah tersebut. “Pokoknya, rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi, Den.”

Dari ketiga tukang tersebut, mana yang menurut Anda akan bekerja dengan lebih baik?

Jawabannya tentu saja tukang yang ketiga. Mengapa?

Apa yang membedakan tukang pertama, kedua, dan ketiga? Jawabannya adalah VISI.

Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu-bata.

Tukang yang kedua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok.

Sebaliknya, Tukang yang ketiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya itu. Bukan hanya itu, tukang yang ketiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.

Sepintas  perbedaan visi ini nampaknya tidak memberikan perbedaan. Toh, ketiga tukang tersebut tetap bekerja dengan baik.

Namun bila diperhatikan dengan teliti, semangat, ketekunan, ketelitian, dan gairah dari ketiga tukang di atas benar-benar berbeda.

Tukang yang pertama memulai pekerjaan dengan mengeluh. Pada saat bekerja, ia mengerjakan tugasnya tidak dengan sungguh-sungguh. Ketika batu-bata yang disusunnya kurang rapi, ia pun tidak berusaha membetulkannya kecuali bila ia ditegur oleh sang mandor. Beberapa saat sebelum waktunya pulang, tukang yang satu ini pun sudah membersihkan dirinya saat sang mandor memberitahu bahwa jam kerja sudah selesai,maka tukang ini pun segera bergegas meninggalkan tempat kerjanya.

Perilaku yang benar-benar berbeda diperlihatkan oleh tukang yang ketiga. Ia memulai pekerjaannya dengan riang gembira dan penuh semangat karena ia sudah memiliki gambaran mengenai keindahan rumah tersebut. Ia berusaha memasang batu bata yang disusunya serapi mungkin. Seandainya terdapat batu bata yang kurang rapi susunannya maka ia pun segera membetulkannya.

Selain itu, sebelum pulang, ia pun selalu menyempatkan diri memeriksa hasil pekerjaannya.  Karena itu, tidaklah mengherankan apabila tukang yang ketiga memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan dibandingkan tukang yang pertama.
Read more

Kamis, 04 Januari 2018

7 Langkah Untuk Perubahan yang Lebih Baik

Sebagian besar dari kita seringkali menjadikan momen tertentu, seperti saat pergantian tahun, ulang tahun, dan lainnya, sebagai momen untuk membulatkan tekad bertransformasi ke arah yang lebih baik. Visi besar sering kita tetapkan, namun seiring berjalannya waktu, kita tidak beranjak dari tempat semula. Hingga saat berakhirnya tahun, keinginan yang sudah kita tetapkan belum ada perubahan atau tidak terlaksana.


Sebenarnya, visi besar dan rencana pelaksanaan belumlah cukup untuk menciptakan satu perubahan. Pemetaan arah dan langkah-langkah nyata perlu dilakukan! Di samping itu, Anda perlu melakukan langkah-langkah nyata dengan kesungguhan hati agar mencapai kemajuan seperti yang Anda inginkan.

Itu hanyalah gambaran umum, sedangkan realitanya sangat banyak tantangan, tanggung jawab, dan gangguan yang harus Anda hadapi. Oleh sebab itu, kebanyakan orang gagal dalam meraih perubahan ke arah yang lebih baik. Anda tidak perlu berkecil hati, simak dan jalankan beberapa tips berikut ini untuk memastikan langkah Anda dalam meraih perubahan bisa berjalan lebih cepat, dan memperoleh hasil terbaik.

1. Waspadai gangguan dan segera singkirkan gangguan tersebut
Sebagian dari kita mungkin mampu bertindak fokus dan mengerjakan perkerjaan sebaik mungkin. Tetapi sebagian besar lainnya, belum mampu fokus dalam berpikir maupun bertindak. Pikiran mereka melayang-layang seperti tertiup angin dan tindakan mereka beraneka ragam, tetapi sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Contoh aktivitas yang mengganggu pekerjaan adalah menelepon teman, mengobrol ke sana kemari, bermain game, browsing internet tentang hal-hal yang kurang penting (dalam lingkup pekerjaan), melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan tujuan selama berjam-jam, dan lain sebagainya. Sebelum waktu, tenaga, dan pikiran Anda terbuang sia-sia, lebih baik segera kenali segala sesuatu yang dapat mengganggu fokus dan usaha Anda. Observasi apa yang menyebabkan waktu Anda tidak produktif, kemudian ganti dengan tindakan-tindakan yang lebih produktif setiap hari.

2. Fokus terhadap satu hal dalam satu waktu
Kebanyakan orang ingin mengerjakan 10 pekerjaan sekaligus dan berharap semua pekerjaan cepat selesai. Padahal langkah ini sangat tidak efektif dan cenderung mengganggu produktivitas. Otak kita memerlukan sedikit waktu untuk melakukan penyesuaian ketika kita beralih mengerjakan yang lain. Sebab otak kita sudah didesain mampu mengerjakan sesuatu dengan hasil maksimal jika kita fokus 100%.

3. Miliki rencana tindakan dan konsisten memperbaruinya secara berkelanjutan
Perencanaan adalah salah satu cara mengatasi penundaan. Tetapkan perencanaan yang matang, ditambah dengan strategi untuk mencapai tujuan. Perencanaan juga akan sangat membantu Anda fokus dan bekerja secara efektif.

Tetapi usaha Anda melaksanakan rencana kerja tidak akan selalu berjalan mulus; tentu Anda akan menemui banyak tantangan. Oleh karena itu, jangan terpaku pada satu cara, bersikaplah terbuka. Salah satunya adalah memikirkan cara lain dan siap melakukan perubahan cepat demi mencapai tujuan.

4. Miliki Pola Hidup Sehat
Kesehatan adalah unsur penting dalam mencapai cita-cita setinggi apapun. Tingkatkan kualitas kesehatan dengan makan makanan bergizi, mengadopsi pola hidup sehat, dan rutin berolah raga. Olah raga akan meningkatkan ketahanan fisik sangat banyak dan meningkatkan hormon endorphins and serotonin yaitu hormon yang menjadikan pikiran lebih tenang, penuh semangat, bahagia, dan berenergi.

5. Sederhanakan pekerjaan Anda, dan fokuslah terhadap pekerjaan yang paling penting
Semakin sederhana kehidupan dan pekerjaan Anda, semakin banyak pekerjaan yang dapat Anda selesaikan. Tetapi kita seringkali menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah pada kehidupan atau pekerjaan.

Oleh karena itu, identifikasikan kegiatan Anda sehari-hari. Beri kredit nilai 1-10 untuk setiap aktivitas harian Anda. Tandailah dengan angka 10 untuk aktivitas yang memberikan perubahan terbesar. Lakukan tindakan yang mempunyai kredit angka terbesar terlebih dahulu.

6. Rapikan ruang kerja
Merapikan ruang kerja adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas, sebab ruang kerja yang rapi dapat mempercepat pekerjaan. Luangkan waktu membersihkan meja dan membuang dokumen yang tidak diperlukan lagi. Biasakan untuk menempatkan segala sesuatu secara rapi, sehingga waktu Anda juga tidak terbuang sia-sia untuk mencari-cari dokumen atau barang yang Anda butuhkan. Ruang dan barang yang tertata rapi membuat Anda siap beraksi cepat kapanpun Anda mau.

7. Sesekali lakukan sesuatu untuk menenangkan pikiran Anda
Keputusasaan, kekhawatiran, jenuh, dan bermacam perasaan buruk lainnya dapat hinggap dalam proses menciptakan perubahan. Jika hal itu terjadi, berhentilah sejenak. Gunakan waktu sebentar untuk melakukan beberapa aktivitas yang dapat meregangkan otot, supaya pikiran dan badan Anda segar kembali.

Sangat banyak aktivitas yang dapat meredakan ketegangan pikiran dan lebih santai, contohnya:
- Beribadah
- Merebahkan diri sambil mendengarkan musik lembut atau klasik.
- Latihan pernafasan.
- Tidur siang.
- Berjalan-jalan atau melakukan beberapa peregangan otot.
- Rekreasi ke tempat wisata yang disukai
- Mengerjakan hobi, misalnya berkebun, memancing, memasak, dan lain sebagainya.

Semua langkah di atas adalah pengalaman pribadi, dan terbukti telah memberikan dampak perubahan yang cukup besar. Kalau bukan dimulai sekarang, kapan lagi? Lakukan segera langkah-langkah perubahan secara konsisten dan bersiaplah menyongsong kehidupan yang jauh lebih menyenangkan. Salam sukses!
Read more

Berubah dengan Prinsip Cermin

Sukses bukan sekadar berlimpah materi. Sukses adalah rangkaian amat panjang yang berkaitan dengan pemahaman pada diri kita seutuhnya. Karakter kita, masa lalu kita, pemahaman kita akan trauma masa lalu dan impian masa depan akan membuat diri kita paham bagaimana memperlakukan dan bersikap pada orang lain. 


CEO dari perusahaan teknologi ternama NCR Corp, yakni Stanley C. Allyn (periode 1957–1962) pernah mengatakan bahwa manusia paling berguna di dunia dewasa ini adalah pria atau perempuan yang tahu bagaimana bergaul dengan orang lain. Hubungan manusia adalah ilmu terpenting dalam hidup.

Mampu melihat keburukan orang lain, kerap kita lakukan. Tapi kadang kita lupa untuk memikirkan kesalahan diri sendiri. Kita juga lupa bahwa sebagian masalah yang kita hadapi sebenarnya datang bukan dari orang lain, tapi malah lebih banyak dari diri kita sendiri.

Konsep melihat ke dalam diri sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain itu lebih dikenal dengan Prinsip Cermin. Cermin, sebuah benda bening, akan memantulkan bayangan orang yang berada di depannya. Tidak berbeda sama sekali bayangan yang ada di dalam cermin dengan aslinya.
Lalu apa istimewanya prinsip cermin ini? Prinsip ini akan membuat kita mengerti bahwa sesungguhnya banyak dari sebuah kesalahan yang kerap kali berulang di mata kita, terjadi bukan karena orang lain yang melakukan kesalahan berulang. Tapi, bisa jadi hal tersebut karena kita memiliki sudut pandang yang berbeda.

Beberapa langkah untuk menggunakan Prinsip Cermin:

1. Siapa yang Terlihat di Cermin?
Bayangan yang kita lihat ketika sedang bercermin adalah diri kita sendiri, bukan bayangan orang lain yang tidak ada di samping kita. Itu artinya bahwa yang harus kita perhatikan adalah diri kita sendiri. Cermati makna pantulan cermin baik-baik. Pandangi diri kita baik-baik. Kenali raut wajah kita, pakaian yang kita kenakan, bahkan mungkin selera pakaian dan cara berpakaian yang menjadi style kita sehari-hari.

Makna yang bisa kita ambil adalah bila ada kesalahan yang kita rasakan berulang terjadi dari orang lain kepada kita, coba untuk berpikir lebih jernih lagi sebelum mengambil suatu kesimpulan bahwa kita benar dan orang lain yang salah. Bila satu orang melakukan kesalahan pada kita dan kita merasa ia bersalah adalah hal yang wajar. Tapi bila tiga sampai sepuluh orang di mata kita selalu salah, jangan-jangan standar kita yang harus diubah. Pola pikir kita yang harus dibenahi.
Prinsip ini sama dengan prinsip jari telunjuk. Ketika satu telunjuk kita mengarah pada orang lain, sebenarnya tiga jari kita menuding pada diri kita sendiri. Itu artinya intropeksi wajib kita lakukan menyeluruh untuk diri sendiri. Prinsip cermin jelas mengajarkan pada kita untuk mengevaluasi dalam diri sendiri.

2. Masih Diri Kita Juga di Dalam Cermin
Sekian menit di depan cermin, bahkan sekian jam di depan cermin, siapa yang kita lihat? Masih diri kita dengan apa yang kita kenakan dengan segala atribut karakter dan garis wajah kita. Bisa jadi kita tidak lagi melihat minyak rambut yang membuat tampilan rambut kita menjadi menarik. Tapi kita melihat lebih dalam lagi. Sorot mata kita, redup atau tajam. Tarikan bibir kita yang menggambarkan kita pribadi yang humoris atau justru pribadi yang sinis.

Maknanya sederhana. Yaitu bersahabat dengan diri kita. Bukan dengan tampilan luar seperti atribut pakaian atau penataan gaya rambut. Tapi, setiap helai luka yang bersarang di hati kita. Setiap trauma yang ada dan kerap membuat kita merasa menjadi orang yang selalu melihat orang lain dengan penilaian salah. Sehingga kita melakukan hal yang sama pada teman baik kita.
Bila kita memiliki pengalaman di masa lalu yang sering kali diremehkan orang lain atau dianggap tak berguna, bisa jadi luka itu mencuat dan membuat kita mudah sekali meremehkan orang lain. Bila kita tumbuh dalam lingkungan pesimis, maka jangan salahkan lingkungan kita sekarang ini yang tidak bisa membuat diri kita berubah menjadi optimis. Bisa jadi karena kita tidak pernah memiliki kemauan untuk berubah menjadi pribadi yang optimis.

3. Cek Penampilan Kita
Di dalam cermin kita bisa melihat penampilan kita. Baju yang kita kenakan bisa jadi tidak serasi warnanya. Dasi yang kita kenakan tidak lurus di bawah kerah baju. Perfeksioniskah kita dalam memandang penampilan diri kita sendiri? Jangan-jangan karena sikap selalu ingin sempurna itu yang membuat orang lain selalu saja tidak sempurna di mata kita.

Jika ada hal-hal kecil semisal tersembul satu uban di rambut kita dan itu membuat mood kita berubah total, artinya jelas. Kita adalah orang yang perfeksionis yang selalu menginginkan kesempurnaan. Jika karena cermin kita tidak bening lalu kita merasa penampilan kita secara keseluruhan buruk, maka itu suatu tanda bahwa kita adalah orang yang menganut paham kesempurnaan. Dalam kondisi semacam itu, maka mengubah pola pikir kita adalah hal yang paling efektif.

4. Ingin Berbeda? Ubah Penampilan Kita
Dari cermin yang memantulkan bayangan, kita bisa mengerti lebih dalam bahwa jika ada yang salah dalam kehidupan, bisa jadi itu adalah dari cara pandang kita sendiri.

Di dalam cermin, wajah cemberut kita bisa berubah dengan usaha kita menarik garis senyum. Di dalam cermin juga kita bisa membenahi tali pinggang kita dengan mengeraskan atau mengendorkan dengan usaha kita. Bukan dari bantuan orang lain.

Dari bayangan di dalam cermin kita juga bisa melihat mimik muka kita ketika berbicara. Apakah tegang, kaku atau sangat ramah sehingga menyenangkan orang yang berbicara dengan kita?
Mulai dari sekarang, bila merasa tidak puas dengan diri kita dan penampilan kita, ubah secepatnya. Hingga, tidak ada kesempatan untuk menyalahkan orang lain.

5. Berpindah ke Cermin yang Lain
Bila kita merasa cermin yang kita gunakan rusak alias penuh retak dan merasa bahwa apa yang ditampilkan pada cermin itu adalah bukan diri kita sebenarnya, coba pindah ke cermin lain. Lihat tampilan pada cermin kedua itu sebagai second opinion kita. Apakah bayangan dari cermin itu sama persis dengan kita atau tidak?

Jika bayangan yang ditampilkan sama, itu artinya jawabannya ada pada diri kita. Yakin dan mau berpindah ke cermin yang lain lagi? Kalau sudah begitu itu artinya kita harus mencari orang lain untuk membantu kita berubah!

Selamat bercermin. Semoga, dengan lebih menyelami segala hal mulai dari dalam diri sendiri, kita akan menemukan  lebih banyak poin pembelajaran hidup yang bermanfaat bagi diri sendiri dan saat berhubungan dengan orang lain.
Read more

Mencari Jam Emas Ayah

Alkisah, suatu hari, seorang bangsawan yang kaya raya ingin menghadiahkan sebuah jam saku emas kuno kepada salah satu anaknya di hari ulang tahunnya nanti. Si bangsawan mempunyai tiga orang anak yang sama-sama dicintainya, tetapi hanya mempunyai satu jam emas. Maka, dibuatlah semacam kompetisi. Nantinya, anak yang dapat mencari dan menemukan jam tangan itulah yang akan memilikinya. Maka, segeralah dipanggil ketiga anaknya.


“Anakku, jam ayah terjatuh di tumpukan jerami di gudang kita. Jam itu sangat ayah sayangi karena itu warisan kakek kalian yang tidak ada duanya. Karena itu, aku tugaskan kalian untuk mencarinya. Nah, sulung, engkau mendapat giliran pertama untuk mencari dan membawa jam itu kepada ayah.”
“Baik ayah,” jawab si sulung. Ia kemudian mengambil sebatang tongkat. Dengan tongkat itu, sambil bernyanyi nyaring, dia bekerja keras membolak-balikkan jerami. Tetapi, sampai tenaga habis dan suaranya serak, jam tetap tidak berhasil ditemukan.

Tiba giliran anak kedua memasuki gudang jerami dengan membawa senter di tangan. Raut wajahnya tampak kesal dan tidak senang mematuhi perintah sang ayah. Ia merasa sang ayah terlalu mengada-ada. Mengapa demi sebuah jam tua, mereka harus bersusah payah membuang tenaga dan waktu untuk mencarinya di gudang yang kotor. Maka, sambil mengomel panjang pendek, ia mulai mencari jam tersebut. Karena tak sepenuh hati mencari, walau telah memelototi setiap sudut, hingga batu baterai senter itu habis, jam tetap tidak ditemukan.

Kemudian giliran anak ketiga memasuki gudang jerami. Dengan pembawaannya yang tenang dan senyum manis di bibir, dia memasuki gudang lumbung padi. Tidak berapa lama kemudian dia keluar dengan wajah berseri dan membawakan jam emas itu kepada ayahnya. Melihat itu, sang ayah gembira dan bertanya, “Anakku, bagaimana engkau dapat menemukan jam itu dengan waktu yang cukup singkat? Sedari tadi kakak-kakakmu telah berusaha begitu lama, tetapi mereka tidak berhasil menemukan jam tersebut.”

Si bungsu pun menjawab, “Ayah, saya hanya duduk diam, berkonsentrasi di dalam gudang lumbung padi. Dalam keheningan dan ketenangan itulah saya bisa mendengarkan suara detak jam tangan tik tik tik... sehingga dengan mudah saya dapat mencari dan menemukan di mana jam tersebut berada. Tapi atas semuanya, syukurlah kami dapat membantu Ayah mendapatkan kembali jam emas kesayangan itu..”

Maka, jam emas itu diberikan kepada si bungsu tepat di hari ulang tahun sang ayah. “Anakku, karena engkau yang telah menemukan jam ini, maka ayah berikan ini kepadamu. Ayah percaya, engkau akan menyimpan dan memelihara dengan baik jam emas kesayangan ayah ini.” Dengan wajah gembira, si bungsu pun menerima pemberian ayahnya.

Dear Readers,
Sebuah hadiah, pantas diberikan kepada mereka yang berprestasi dan berjuang sepenuh tenaga untuk mewujudkan cita-cita. Demikian juga dalam kehidupan. Saat kita sedang berhadapan dengan aneka masalah dan tantangan yang harus ditaklukkan, jika kita mau berjuang dengan semangat pantang menyerah dan tekad membaja, pasti akan ada hadiah di balik keteguhan kita memecahkan masalah tersebut.

Untuk itu, dalam menghadapi setiap masalah, berat maupun ringan, kecil ataupun besar, kita seharusnya mampu menjaga keluasan hati dan ketenangan berpikir, agar sebuah masalah bisa kita urai berdasarkan sumber masalahnya. Ibarat mengurai benang kusut, kalau sudah ditemukan ujung pangkalnya, pasti akan lebih mudah mengurainya. Sebaliknya, emosi yang meledak-ledak, terburu-buru dalam berbuat, atau menyepelekan masalah yang timbul, hanya akan memicu masalah yang lebih besar.

Mari kita jaga kejernihan daya pikir dengan selalu menjaga hati, mampu menciptakan ketenangan dan keheningan. Dengan begitu kita akan mendapatkan solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang ada secara efektif dan bijaksana.
Read more

Memberi

Suatu sore, seperti biasanya seorang pemuda pulang kantor & mengendarai sepeda motornya. Ia tertarik melihat seorang anak yang berumur kurang lebih 10 tahun dengan sangat sigap menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan yang berhenti di lampu merah.


Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak, dikayuhnya sepedanya. Lalu setiap beberapa meter, ia berhenti sambil membagikan bungkusan yang dibawanya itu. Ia menyapa akrab setiap orang mulai dari tukang koran, penyapu jalan, tunawisma sampai polisi.

Kejadian ini sangat menarik dan membuat pemuda itu penasaran. Lalu, ia pun memanggil anak tersebut. Tanyanya, "Kalau boleh tahu, apa yang barusan kamu bagikan ke tukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi?"

Anak kecil itu menjawab, "Oh... Itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memangnya kenapa?" Pemuda itu lantas menjawab, "Kakak tertarik melihat cara kamu berbagi, kamu terlihat terbiasa & akrab. Apa kamu sudah lama mengenal mereka?"

Lalu anak itu pun bercerita, “Dulu, aku & ibuku sama seperti mereka, hanyalah seorang tunawisma, setiap hari bekerja & mengharapkan belas kasihan. Kami begitu susah hingga suatu hari ibuku bisa membuka warung nasi & kehidupan kami mulai membaik. Maka dari itu, ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi ketika kita diberi rejeki yang cukup. Kenapa kita tidak mau berbagi kepada mereka?”

Lanjutnya, "Ibu selalu mengatakan bahwa hidup kita haruslah berarti buat banyak orang. karena ketika kita kembali pada Sang Pencipta, kita tidak akan membawa apa-apa. Jadi jika ada kelebihan, mengapa kita mau untuk berbagi dengan yang lain agar banyak orang juga bisa sedikit merasakan kebahagian yang kita miliki.."

Dear Readers,
Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain & tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri sendiri saja. Menyenangkan diri sendiri memang membuat bahagia. Namun menyenangkan orang lain membuat bahagia diri kita berlipat ganda. Sebab kebahagian yang kita timbulkan pada orang tersebut akan mempengaruhi kebahagiaan diri kita juga secara lebih berlimpah.

The more we give the more we get….
Kindness in words creates confidence. Kindness in thinking creates profoundness. Kindness in giving creates love.” - Lao Tzu

Have a GREAT Day!
Read more

My Bag, My Mind (Tasku, Pikiranku)

Setiap hari sebagian besar dari kita membawa tas untuk bekerja/kuliah. Jika sedang ada waktu luang, cobalah lihat/bongkar isi tas kita.


Ternyata, kadang-kadang separuh dari isi tas itu adalah barang-barang yang sudang tidak kita perlukan: struk ATM yang sudah buram, bungkus tisu, agenda yang jarang dibaca, recehan yang kotor, ballpoint yang sudah macet, kumpulan tagihan kartu kredit, dan sebagainya.

Meski mungkin ringan, tetapi umumnya barang-barang yang tidak diperlukan membebani tas kita. Sebaiknya sortir dan buang barang-barang yang sudah tidak berguna tersebut.

MY MIND
Kadang, mirip dengan tulisan My Bag di atas, pikiran kita (tanpa disadari) selama ini sering kita bebani dengan hal-hal yang tidak perlu: penyesalan masa lalu, rasa kecewa, perasaan jengkel, iri, kurang puas atas kondisi yang terjadi, rendah diri, dan sebagainya.

Pikiran-pikiran yang tidak perlu akan terus membebani perjalanan hidup kita, sehingga dampaknya raut wajah akan kelihatan suntuk, stres, dan hidup kurang nyaman. Kita juga akan membenci hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Lakukan terhadap My Mind sama dengan apa yang kita lakukan dengan My Bag di atas. Sortir dan buanglah segala beban pikiran yang tidak ada manfaatnya itu. Lakukan setiap hari dan ciptakan kebiasaan berpikir positif agar kita bisa menjalani hari-hari dengan "ringan" dan menyenangkan.
Read more

Keras Pada Diri Sendiri, Toleran Pada Orang Lain

Kita terlahir sebagai makhluk sosial di mana satu dan yang lainnya, saling bergantung dan tak bisa lepas begitu saja. Karena itu, menjaga hubungan baik di lingkungan sosial adalah mutlak adanya. Sebab, tanpa keharmonisan dengan sesama di sekitar kita, maka hidup bisa jadi terlunta-lunta.


Untuk itu, rasa saling menghargai dan toleransi harus selalu menjadi hal yang utama. Menghormati sesama, saling menolong, saling membantu, adalah beberapa hal kunci yang harus dibiasakan agar kita mampu menjalin keharmonisan di lingkungan dan sekitar kita.

Sayangnya, belakangan ini, entah mengapa, justru makin banyak hal yang mendorong ke arah terjadinya ketidakharmonisan. Tidak cocok sedikit, berujung pada perdebatan. Melirik sedikit, sudah dianggap sebagai tantangan. Salah ucap sedikit, sudah dianggap sebagai kesalahan yang tak patut dimaafkan. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan seperti merebak di mana-mana. Hampir setiap hari, hampir semua berita, selalu saja ada kisah memilukan akibat emosi tak tertahankan.

Bukan itu saja. Saat ada masalah, banyak orang justru berusaha mencari-cari kambing hitam karena takut disalahkan. Akibatnya, bukan solusi yang didapat, tapi justru mengundang kebencian dan emosi. Demokrasi yang tadinya bertujuan memberi kebebasan berpendapat, justru sering kali berujung pada perpecahan pendapat. Tak jarang, kritikan justru berbuah tonjokan.

Padahal sejatinya, jika kita mau merenung dan berpikir lebih jernih, semua masalah pasti ada solusi. Semua kendala, pasti bisa diatasi. Semua perbedaan, pasti bisa dijembatani. Karena itu, di tengah berbagai kondisi yang kita alami belakangan ini, pepatah Tiongkok Kuno ini barangkali bisa menjadi refleksi, “Keras pada diri sendiri, yan yu li ji; Toleran pada orang lain, kuan yu dai ren.”

Dalam hal ini, "keras pada diri sendiri" dimaksudkan sebagai bentuk evaluasi diri yang menyeluruh sebelum melihat ke luar. Jika kita membiasakan diri untuk selalu bercermin dalam diri, maka kita pun akan lebih terbuka untuk selalu bisa mengoreksi. Sehingga, saat ada kesalahan, kita tak akan mencari-cari alasan. Namun, kita mampu mencari jawaban dari dalam diri hingga solusi lebih mudah dicari.

Sebaliknya, "toleran pada orang lain" bermakna lebih terbuka untuk menerima kesalahan dan segera memaafkan. Tentu, hal sebatas hal yang dilakukan masih dalam titik kewajaran. Dengan bertoleransi, kita akan bisa lebih berpikir tenang dan berjiwa lapang sehingga saat menghadapi kendala, bisa saling bahu-membahu menyelesaikan bersama-sama.

Kedua sikap ini, jika dikembangkan secara bersamaan, akan memberikan harmonisasi kehidupan sosial yang menyejukkan. Apalagi, jika hal ini diterapkan oleh seorang pemimpin, baik di lingkungan keluarga, organisasi, usaha, ataupun pemerintahan.

Lihatlah contoh pada tokoh-tokoh dunia. Salah satunya pada Mahatma Gandhi. Tokoh pergerakan dari India ini memilih gerakan damai dengan berlaku keras pada diri sendiri. Ia tidak terpancing untuk meladeni hujatan dan makian dari lawan-lawan politik dan penjajahnya. Namun, dengan cara keras pada diri sendiri itulah, hingga kini ia dikenang sebagai tokoh yang sangat dikagumi di berbagai belahan dunia.

Atau, lihat pulalah bagaimana reaksi yang dicontohkan dari tindakan Nelson Mandela. Pejuang kesetaraan kulit hitam dan putih di Afrika Selatan ini terang-terangan mendapat berbagai ujian dan cobaan selama perjuangannya. Namun, dengan toleransi yang sangat besar, ia memberi maaf pada orang-orang yang pernah kejam padanya. Dengan cara itulah, ia menyatukan bangsa Afrika Selatan hingga tahun ini sukses menyelenggarakan pesta sepakbola Piala Dunia.

Simak juga langkah Steve Jobs, pendiri Apple Corp yang dipecat dari perusahaannya sendiri. Tapi, ia justru memilih “berbicara” dengan karya. Jobs “keras” pada dirinya sendiri dengan menyibukkan diri membuat berbagai inovasi di bidang komputerisasi berdasar keyakinannya. Akhirnya, ia kembali pada perusahaan tersebut dan dengan toleransi yang besar, berhasil menyatukan kembali semua visi di Apple sehingga kini Apple makin dikenal sebagai perusahaan inovatif dengan iPod, iPhone, dan iPad-nya.

Itulah bukti nyata, betapa pepatah Tiongkok Kuno, “Keras pada diri sendiri; Toleran pada orang lain” mampu jadi solusi. Karena itu, jika ada persoalan, cobalah lihat ke dalam. Jika menghadapi tantangan, cobalah evaluasi diri. Mari kita bukakan hati dan tenangkan pikiran agar toleransi selalu kita kedepankan. Sehingga, semua persoalan dan tantangan, bisa diselesaikan dengan semangat persaudaraan.
Read more