Jumat, 03 Juni 2016

Alasan Google Translate Dipermak: Gara-gara Orang Indonesia!

Kebiasaan orang Indonesia dalam menggunakan aplikasi Google Translate di ponselnya, ternyata ikut menginspirasi Google dalam memperbarui fitur layanan terjemahan lintas bahasanya di seluruh dunia.


"Orang Indonesia kan punya kebiasaan suka copy paste accross apps, baik itu saat mereka chatting, browsing, maupun di social media," kata Head of Communications Google Indonesia Putri Silalahi saat ngobrol santai dengan detikINET di kantor Google, Sentral Senayan, Jakarta, Jumat (13/5/2016).

Dari kebiasaan itu, Google memperhatikan bagaimana sulitnya orang Indonesia ketika harus berkomunikasi via aplikasi chat. Misalnya, kata Putri, ketika chatting dengan orang asing pemilik kamar AirBnb saat akan bepergian ke luar negeri.

Setidaknya ada enam tahapan yang harus dilewati untuk bertukar pesan dengan bahasa berbeda, mulai dari menyalin teks, menerjemahkan ke aplikasi Google Translate, hingga membalas dengan bahasa yang dipahami lawan bicara.

"Nah, update terbaru dari Google Translate ini bisa bekerja within apps. Basically anything yang memungkinkan copy paste. Jadi begitu kita ngetap dan pencet copy, fitur translate langsung muncul," jelas Putri lebih lanjut.

Fitur layanan Tap-to-Translate ini sendiri sudah tersedia dalam semua 103 bahasa di mana Google Translate tersedia, dan bisa digunakan tanpa koneksi Internet (offline).

Fitur Offline untuk 51 bahasa juga tersedia bagi pengguna Google Translate di iOS, di mana kita bisa menerjemahkan tanpa harus menggunakan internet, sekarang dengan ukuran paket bahasa unduhan yang lebih kecil.

Jika aktif menggunakan bahasa Mandarin, Google Translate juga menambahkan fitur terjemahan instan lewat kamera (word lens) dalam bahasa Mandarin (Simplified and Traditional Chinese).

Lebih lanjut dikatakan, sekitar 500 juta netizen di seluruh dunia menggunakan Google Translate secara aktif untuk menerjemahkan beragam bahasa. Indonesia masuk dalam 20 besar negara yang berkontribusi paling banyak untuk jumlah tersebut.

Tak heran jika pasar Indonesia sangat diperhitungkan dalam merumuskan fitur-fitur baru di Google Translate. Hal itu diakui oleh Product Manager Google Translate Julie Cattiau saat presentasi melalui video conference.

Diungkapkan olehnya, fitur Tap-To-Translate yang mereka kembangkan ikutbterinspirasi oleh kehidupan masyarakat Indonesia. Inspirasi itu muncul kala Cattiau berlibur ke Indonesia beberapa saat lalu.

Di pesawat, ia bertemu dengan orang Indonesia yang sehari-hari harus berkomunikasi dengan orang berkebangsaan dan berbahasa lain.

"Saya bertemu orang Jakarta. Neneknya berbicara bahasa China, pacarnya orang Singapura, dan ada juga keluarganya yang berbahasa Jepang," kata dia.

Cattiau pun paham bagaimana sulitnya ketika orang tersebut harus berkomunikasi via aplikasi chat. Dari situ, muncul ide Cattiau untuk memboyong fungsi Google Translate ke berbagai aplikasi pihak ketiga, yakni WhatsApp, Path, dan kawanannya.

Pengguna tak perlu lagi bolak-balik membuka dan menutup aplikasi hanya untuk membalas sebuah pesan. Pengguna cukup menyalin pesan berbahasa asing yang diterima via aplikasi chat.

Selanjutnya, ikon Google Translate akan menyempil di aplikasi tersebut untuk menawarkan bantuan penerjemah. Pengguna hanya perlu menekan ikon itu dan memilih bahasa yang ingin diterjemahkan.

"Pembaruan ini cocok banget untuk orang Indonesia, apalagi kalau kita melakukan pekerjaan yang mengharuskan berkomunikasi dengan orang luar yang bahasanya beragam," timpal Putri.

Alikasi Google Translate dengan fitur terbaru ini sudah bisa didapatkan di Play Store untuk para pengguna Android minimal Jelly Bean. Sementara pengguna iOS masih harus bersabar menunggu giliran. (rou/rns)


sumber : net.detik.com
Load disqus comments

0 komentar