Minggu, 01 November 2015

5 Bahasa Cinta untuk Anak


Bicara tentang anak adalah bicara tentang masa depan. Seperti penyair Kahlil Gibran katakan bahwa anak-anak adalah pemilik jiwa di masa depan. Mereka hadir ada di dekat kita tapi bukan milik kita utuh. Bicara tentang anak juga bicara tentang ketidakpahaman banyak orangtua akan dunia anak-anak. Apa yang harus mereka lakukan untuk anak-anak? Kenapa setelah apa yang orangtua lakukan selalu saja ada anak yang merasa tidak disayangi?

Gary Champman dan Rose Campbell penulis buku tentang anak dan pasangan mengatakan bahwa setiap anak memiliki bahasanya sendiri. Bahasa itu disebut bahasa kasih primer. Bahasa kasih primer setiap anak yang satu dan lainnya tidaklah sama. Fungsi pemenuhan akan bahasa kasih sebenarnya adalah untuk membuat mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi yang sadar akan potensinya. Sebab, hanya anak-anak yang merasa benar-benar dicintai dan diperhatikan akan mampu berusaha melakukan yang terbaik.

Bahasa kasih primer (utama) sebenarnya semacam bensin untuk tangki emosional mereka, tempat kekuatan emosional mereka. Bila tangki itu terisi penuh dengan bahan bakar cinta yang tepat, maka mereka akan melaju melewati masa anak-anak dan remaja tanpa hambatan. Untuk menemukannya, memang dibutuhkan waktu dan tidak bisa dalam sehari atau dua hari. Kedekatan kita sebagai orangtua sangat diperlukan untuk menemukan dengan tepat bahasa kasih terbaik untuk anak-anak kita.

Tolak ukurnya bahwa kasih dan sayang yang kita berikan (bahasa kasih) sudah tepat dan memang dibutuhkan anak-anak adalah mereka akan terlihat semakin bersemangat dan tumbuh motivasinya untuk menjadi semakin baik dan melakukan yang terbaik.

Bila saat ini kita sebagai orangtua merasa bahwa apa yang kita berikan selama ini tidak mendapat respons yang baik dari anak, mungkin bahasa kasih yang sudah kita berikan adalah bahasa kasih yang keliru untuk mereka. Bahasa kasih itu tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Apa bahasa kasih atau cinta yang kita berikan untuk anak kita sudah tepat? Cek lima bahasa kasih di bawah ini.

1.  Sentuhan Fisik
Seorang anak yang bahasa kasihnya adalah sentuhan fisik, tidak akan puas hanya dengan pujian atau hadiah dari orangtuanya. Anak semacam ini butuh sesuatu yang lain. Pelukan hangat atau ciuman di pipi dari kedua orangtua atas apa yang telah mereka lakukan. Tentu saja sentuhan fisik tidak akan menjadi efektif bila orangtua melakukannya dengan wajah tanpa ekspresi dan menganggap hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Anak-anak paham apa yang dilakukan orangtua dengan hati dan mana yang dilakukan dengan setengah hati. Coba tepuklah pipi anak kita atau beri kecupan di pipi untuk prestasinya. Bila mereka semakin bersemangat, itu tandanya kita sudah memenuhi tangki emosional mereka.
Untuk anak yang bahasa primernya adalah sentuhan fisik, sebuah pukulan di tubuh ketika kita marah bukan saja menimbulkan sakit hati, tapi trauma berkepanjangan yang mungkin oleh anak lain dengan bahasa primer bukan sentuhan fisik akan mudah dilupakan.

2. Kata-kata Penegas
Kata-kata penegas untuk anak bukan sekadar kata-kata pujian. Kata-kata penegas lebih kepada kata-kata untuk membesarkan hatinya. Pujian kerap disalahartikan oleh anak-anak sebab banyak dari orangtua yang tidak memahami bagaimana cara mereka memberikan pujian. Seringnya orangtua memberikan pujian untuk segala yang dilakukan anak tanpa melihat dampak buruk pujian itu pada anak-anak. Orangtua lebih sering berkata seperti ini,” Hebat, besok kamu kalahkan Tono lagi biar dia tahu kamu hebat.”

Kata-kata penegas bukan mengajarkan anak membenci kawan tapi lebih pada mengarahkan tindakannya ke arah tindakan yang lebih terpuji. “Terimakasih kamu sudah melakukan yang terbaik. Ini karena kamu berusaha keras.” Atau,” Ibu suka lo melihat kamu tadi membantu temanmu yang jatuh. Membantu orang lain itu hebat.” Kata-kata seperti itu akan membangun motivasi anak hingga mereka mencoba untuk melakukan yang terbaik karena telah tumbuh motivasi di hati mereka bukan karena mengharapkan suatu pujian.

Setiap orangtua adalah role model  untuk anak. Masalah kerap terjadi bila orangtua tidak pernah memberikan kata-kata penegas yang dibutuhkan anak-anak sebagai bahasa primer mereka, lalu kata-kata itu justru didapatkan dari lingkungan yang tidak baik dan televisi. Tak heran, muncul generasi anak-anak yang lebih suka bicara kasar dan kotor, padahal kedua orangtuanya tidak mengajari mengucapkan hal seperti itu.

3. Waktu Berkualitas
Kita sering bersama anak tapi tidak memberikan waktu  yang berkualitas untuk anak-anak. Berada di dekat anak tapi dengan pikiran yang tidak berada di samping anak. Sehingga anak-anak tidak merasa jika mereka dicintai. Faktor terpenting dari waktu berkualitas yang kita berikan sebagai orangtua kepada anak bukanlah peristiwanya atau event di mana kita bersama dengan anak. Tapi kebersamaan itu sendiri yang mereka butuhkan, yakni bersama berdua dengan orangtua tentunya. Untuk itu ada baiknya orangtua membagi waktu khusus. Membuat jadwal kapan berdua dengan anak yang nomor satu dan mana jatah yang bisa diberikan untuk anak nomor dua.

Sekadar berdua di kamar untuk bicara dari hati ke hati selama beberapa jam atau  makan di sebuah warung makan berdua akan  membuat anak merasa mereka benar-benar ada untuk dicintai. Dan yang seperti itu yang dibutuhkan dan akan dikenang terus oleh anak dengan bahasa kasih waktu berkualitas.

4. Hadiah
Konsep hadiah untuk anak dengan bahasa kasih hadiah adalah bukan hadiah yang diberikan karena reward atas prestasi mereka.Hadiah bukan imbalan. Mereka membutuhkan hadiah karena memang ini tanda bahwa orangtua mereka sayang pada mereka. Dan hadiah itu tanpa syarat. Kerap untuk bahasa kasih yang ini orangtua suka salah mengartikan dan akhirnya anak menjadi salah pula menyikapi makna hadiah itu.

Hadiah sebuah baju untuk anak ketika anak membutuhkannya atau hadiah sebuah buku harian untuk anak yang senang menulis adalah bentuk kasih sayang yang akan dihargai oleh anak dengan bahasa kasih primer seperti ini. Hadiah seperti ini mungkin tidak ada harganya untuk anak lain bahkan bisa jadi hanya akan memenuhi gudang-gudang hartanya.

Anak yang bahasa cintanya adalah hadiah akan memperlakukan hadiah yang diterimanya dengan berbagai cara. Mulai dengan membungkusnya, memajangnya atau membanggakannya di depan teman-temannya. Anak-anak dengan model bahasa kasih seperti ini biasanya merawat hadiahnya dengan sangat baik dibanding anak lainnya.

5. Layanan
Bahasa primer layanan sering sekali tidak dapat terlihat bila komunikasi antara anak dan orangtua tidak terjalin dengan baik. Anak dengan bahasa cinta seperti ini lebih bahagia bila orangtuanya mau membetulkan baju bonekanya yang sobek atau membawanya ke bengkel sepeda dan membetulkan sepedanya yang rusak.Anak dengan model bahasa cinta seperti ini juga akan sangat menikmati ketika orangtuanya mengajak untuk membantu sesama. Hatinya lebih mudah tersentuh dan sensitif.

Mari, pahami dan praktikkan bahasa kasih primer untuk memberikan yang terbaik untuk masa depan buah hati kita. Dan semoga bermanfaat :)
Load disqus comments

0 komentar