Senin, 05 Oktober 2015

The Power of Now



Pernah mengatakan hal semacam ini? “Wah.. pas banget ya...” atau “Kebetulan sekali... kok pas banget waktunya...” Jika pernah mengatakan hal tersebut, apa yang kita rasakan? Pastinya lega, senang, dan bahagia. Sebab, hal yang menyenangkan datang tepat pada waktunya. Pertanyaannya, tepat waktunya itu sebenarnya kapan terjadinya? Dan, apakah hal yang terasa pas itu bisa kita “ulang” kejadiannya?


Banyak orang mengatakan, faktor keberuntungan dan kebetulan adalah hal yang tak diduga-duga. Sebagian menyebut itu adalah “bakat”. Namun sebenarnya, keberuntungan adalah hal yang lumrah dan bisa dialami oleh siapa saja. Sebab, hampir semua orang pasti pernah merasakan seperti ungkapan kalimat di atas. Setidaknya, sekali—dan mungkin malah berkali-kali hingga lupa—merasakan sesuatu pas dengan yang diinginkan. Lalu, “menyimpulkan” hal tersebut sebagai kebetulan atau keberuntungan.

Kembali ke pertanyaan semula, lalu kapan sebenarnya hal tersebut terjadi? Dan, bagaimana kita bisa “mengulanginya”? Jawabannya sederhana. Namun, sebelumnya, mari kita coba telaah. Kita berpikir sejenak tentang beberapa hal berikut. Jika kita berpapasan dengan orang yang tunanetra, apakah kita sudah bersyukur bahwa kita bisa melihat dengan sempurna. Jika kita menengok orang sakit, apakah kita sudah bersyukur bahwa kita masih sehat. Jika ziarah ke orang yang meninggal, apakah kita sudah bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Apakah kita sadar sepenuhnya, betapa beruntungnya kita jika dibandingkan dengan mereka?

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah betapa sebenarnya setiap hari, setiap waktu, setiap saat, kita merasakan begitu banyak keberuntungan dan kebetulan. Yang—saking banyaknya—kita justru malah kerap melupakan. Seolah-olah, berkah yang kita rasakan tersebut sudah otomatis menjadi milik kita, sehingga kerap lupa, itu adalah bagian dari begitu banyak keberkahan yang kita miliki.

Karena itu, menjawab pertanyaan tentang kapan waktu yang paling tepat untuk meraih keberuntungan, jawabannya sangat jelas, sekarang! Dalam bahasa Jawa, sekarang disebut sebagai saiki. Seperti juga yang sering kita dengar dalam ulasan lain, ada yang disebut sebagai the power of NOW.

Hari ini adalah hari penuh keberlimpahan. Hari ini, sekarang, saat ini, adalah waktu terbaik yang kita miliki. Maka, seperti yang sering saya ungkap, jangan menyesali masa lalu, jangan takut dengan masa depan. Sebab, hari inilah—saiki¬¬, detik ini—adalah waktu yang tak kan terulang. Karena itu, kewajiban kita adalah dengan memaksimalkan apa yang ada saat ini. Apa pun profesi kita, apa pun tugas dan tanggung jawab kita, saiki adalah “jawaban” paling tepat untuk selalu mendatangkan dan mengulangi keberuntungan. Dengan bekerja keras, bekerja tuntas, berkarya cerdas, saiki akan jadi kekuatan pembeda yang bisa membuat banyak hal terasa “pas” datangnya.

Sekali lagi, apa pun bentuknya (pekerjaan, tanggung jawab, dll), bisa dipastikan, hanya yang mau dan mampu selalu memaksimalkan waktunya saat ini—saiki—dengan maksimallah, yang akan tersenyum senang, tertawa bahagia, dan mendapatkan “keberuntungan” yang akan selalu bisa diulang dalam berbagai wujud dan kesempatan.

Mari, maksimalkan hari ini. Jadikan saiki sebagai semangat untuk berkarya luar biasa. Maka, apa pun yang terjadi di masa depan, kita selalu siap menghadapinya!
Load disqus comments

0 komentar