Kamis, 29 Oktober 2015

Sang Pendaki


Alkisah pada hari Jumat, 10 Mei 1996, ada 31 orang pendaki dari lima kelompok ekspedisi berhasil mencapai puncak Gunung Everest, puncak tertinggi diantara segala gunung. Tiba-tiba, sebuah badai ganas menerpa dan menghempaskan para pendaki tersebut.

Di antara mereka ada seorang pendaki bernama Beck Weathers, yang jatuh pingsan di salju. Malam harinya, sekelompok regu penyelamat berhasil menemukan Weathers, tapi regu itu memastikan bahwa Weathers tidak mungkin bisa diselamatkan. Tempatnya terlalu gelap, jalannya terlampau berbahaya, dan kalau toh bisa dievakuasi, sepertinya Weathers juga akan tetap meninggal. Maka regu penyelamat pun meninggalkan Weather di tempatnya.

Namun beberapa jam kemudian, jauh di dalam dirinya Weathers merasakan sesuatu yang kemudian menyelamatkannya dari ajal, dan membangkitkan dirinya untuk menghadapi situasi yang sangat buruk. Kepada Newsweek, Weathers mengisahkan, “Saya telentang di es. Rasanya lebih dingin daripada semua yang bisa Anda bayangkan. Sarung tangan kanan saya hilang, dan tangan saya rasanya seperti terbuat dari plastik.”

Weathers mempunyai banyak alasan untuk menyerah. Dia telah menghadapi gunung itu dan kalah. Dia kekurangan bekal, kehilangan timnya, tidak mempunyai tempat berteduh, dan tidak punya kemungkinan untuk bertahan hidup. Namun, karena dihadapkan pada kematian, entah bagaimana sesuatu dalam diri Weathers terpicu bangkit untuk tetap hidup. Dengan tubuh beku, lelah, sendirian, dan setengah hidup, Weathers memaksa dirinya untuk terus bergerak, berdiri, dan menempuh kembali perjalanan yang berbahaya menuju Kemah Induk, yang hanya tampak bagaikan sebuah bintik di belantara salju yang putih.
Sebuah perasaan yang sangat mendalam menggugahnya untuk bertindak. Saat telentang di salju itu, katanya, “Saya bisa melihat wajah istri dan anak-anak saya dengan sangat jelas. Saya membayangkan bahwa saya masih punya waktu sekitar tiga atau empat jam lagi untuk hidup, sehingga saya mulai berjalan.” Meski bagi Weathers, beberapa jam berikutnya serasa seperti berabad-abad lamanya. Akan tetapi, mengetahui bahwa kalau ia beristirahat berarti mati, maka ia pun terus berjalan.

Hari semakin terang dan Weathers tersandung sesuatu yang tampak seperti sebuah batu biru. Dia beruntung, karena ternyata benda itu adalah sebuah tenda. Timnya lalu membawa Weathers ke dalam. Pakaiannya sudah kaku terbalut es sehingga mereka terpaksa meotongnya. Mereka meletakkan sebuah botol berisi air panas ke dadanya dan memberinya oksigen. Tak seorang pun berharap weathers bisa selamat. Karena situasi buruk akibat badai yang menimpanya telah mengakibatkan beberapa pendaki yang memiliki kecakapan yang jauh lebih hebat sekalipun bisa mati. Bahkan, beberapa jam sebelumnya, istri Weathers telah menerima khabar tentang kematian suaminya. Akan tetapi nyatanya, beberapa jam berikutnya, khabar tersebut diralat, Weathers masih hidup. Meski tidak ada seorang pun memperhitungkan adanya suatu unsur di dalam diri Beck weathers yang bisa membuatnya mampu bertahan dalam situasi yang begitu buruk, tetapi terbukti ia bisa selamat.

Setiap manusia—pada prinsipnya—terlahir dengan sifat “mendaki.” Siapa pun dan dengan latar belakang apa pun, kita semua senantiasa terdorong bergerak terus kedepan untuk mencapai tujuan hidup. Apakah itu dalam kegiatan bisnis, berumah tangga, kegiatan sosial, politik, hukum, budaya, organisasi keagamaan dan lain sebagainya. Secara naluri, kita ibarat para pendaki yang selalu ingin mencapai puncak. Hanya saja, dalam prosesnya mendaki, kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai hambatan, tantangan dan kesulitan. Yang sayangnya, semuanya tidak cukup diselesaikan hanya dengan hanya menggunakan kecerdasan intelektual.

Dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities, Paul G. Stoltz, PhD—memperkenalkan sebuah jenis kecerdasan yang disebutnya sebagai Adversity Quotient (AQ). Menurutnya, AQ menggambarkan daya tahan seseorang dalam menanggung penderitaan. Karenanya AQ menjadi penentu kesuksesan seseorang dalam mencapai puncak pendakian. Seseorang yang memiliki AQ tinggi—menurut Stoltz—tidak akan pernah takut dalam menghadapi berbagai tantangan dalam proses pendakiannya. Bahkan dia akan mampu mengubah berbagai tantangan yang dihadapinya menjadi sebuah peluang. AQ sekaligus dapat menjadi semacam tolok ukur, tentang seberapa kuat seseorang dapat terus bertahan dalam suatu pergumulan, sampai orang tersebut keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan, atau malah tidak sanggup menerima tantangan sedikit pun.

Yang menarik—Stoltz menggunakan metafora para pendaki gunung—untuk menguraikan konsepnya tentang AQ. Di mana, ia membagi tiga golongan tipe manusia, berdasarkan sikapnya dalam merespon kesulitan serta perubahan-perubahan yang dihadapi:

1. Quiters, yaitu mereka yang sekadar bertahan hidup, mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan. Orang dengan tipe ini kurang memiliki kemauan untuk menerima tantangan dalam hidupnya. Celakanya, sikapnya itu secara tidak langsung juga menutup segala peluang dan kesempatan yang datang menghampirinya, karena pada umumnya, peluang dan kesempatan seringkali terbungkus dalam bentuk masalah dan tantangan.

2. Campers, adalah kelompok orang yang berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi risiko yang aman dan terukur. Mereka cepat merasa puas, dan mudah berhenti di tengah jalan. Kelompok ini memiliki kemauan untuk berusaha dan juga sudah mencoba menghadapi masalah dan tantangan yang ada, namun mereka merasa bahwa perjalanannya hanya cukup sampai disini saja. Berbeda dengan kelompok Quiter, kelompok ini sebetulnya sudah pernah menima tantangan, sudah pula berjuang menghadapi berbagai masalah yang ada dalam suatu pergumulan pada bidang tertentu, namun karena banyaknya tantangan dan masalah yang terus menerjang, mereka akhirnya memilih untuk berhenti di tengah jalan dan berkemah.

3. Climbers, merupakan kelompok orang yang memilih untuk terus bertahan dan berjuang menghadapi berbagai macam hal yang akan terus menerjang, baik itu berupa masalah, tantangan, hambatan, atau hal-hal lain yang setiap hari selalu muncul. Kelompok ini memilih untuk terus berjuang tanpa mempedulikan latar belakang serta kemampuan yang mereka miliki. Mereka pun terus mendaki dan mendaki. Mereka adalah orang-orang yang berani menghadapi risiko dan menuntaskan pekerjaannya. Sehingga tak heran kalau hanya merekalah—umumnya dalam jumlah sanagt sedikit—yang benar-benar berhasil sampai di puncak.

Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan, bahwa orang-orang sukses tersebut memiliki tiga karakter yang sama:

Pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, passion, kecintaan atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

Kedua, mereka memiliki determinasi; yaitu sebuah kemauan untuk mencapai tujuan, bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan keras untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Ketiga, mereka selalu berbeda dari orang lain. Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang sama-sekali berbeda dengan orang lain pada umumnya.

Dari ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa dua dari tiga karakter orang sukses berkaitan erat dengan kemampuan menghadapi tantangan. Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Thomas J Stanley (2003), yang kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul; “The Millionaire Mind” menjelaskan hal yang sama. Bahwa mereka yang berhasil menjadi miliarder di dunia ini adalah mereka yang memiliki prestasi akademik biasa-biasa saja, tetapi mereka adalah para pekerja keras yang ulet, penuh dedikasi, dan sangat bertanggung jawab, termasuk tanggung jawabnya yang sangat besar terhadap keluarga.

Apakah Anda salah satunya? Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua, khususnya generasi yang lebih muda, agar tidak mudah menyerah dan terus bangkit berjuang, hingga akhirnya berhasil menggapai manisnya kemenangan.
Load disqus comments

0 komentar