Rabu, 28 Oktober 2015

Merajut Kenangan Manis


Berapa banyak kasus kekerasan yang dilakukan pada anak terhadap anak yang lain ternyata terjadi karena anak yang melakukan tindakan kekerasan tidak memiliki kenangan manis dari orangtua mereka kepada mereka.

Beberapa waktu lalu, ada kasus tentang anak yang memukul teman lainnya, dan menyebabkan kematian beberapa hari kemudian pada teman yang dipukulnya. Masalahnya sepele. Hanya karena temannya menjatuhkan pisang goreng yang baru dibelinya itu dan temannya itu tidak meminta maaf.

Anak-anak menjadi kasar karena tidak diberi kenangan manis. Mereka dapat kenangan manis hanya sedikit karena orangtua yang sibuk. Bisa jadi orangtua ada di rumah tapi sibuk dengan kesibukan sendiri, seperti keluar rumah tanpa tujuan atau menghabiskan waktu untuk menonton televisi.

Padahal kita dan anak-anak dalam satu rumah itu bisa diibaratkan seperti segumpal benang berwarna-warni. Untuk menjadikan hubungan kita dan anak-anak menjadi indah dan berwarna, maka kita harus merajut benang itu menjadi satu rajutan yang bernama kenangan manis.

Kenangan manis itu tentu saja bukan sekadar kenangan. Kenangan itu adalah sebuah peristiwa yang dialami anak-anak yang melekat, bukan sekadar pada memori jangka pendek saja tapi melekat di memori jangka panjang mereka, untuk kemudian meresap menjadi pelajaran kehidupan untuk mereka.

Pelajaran kehidupan seperti ini akan berkembang lagi, ketika anak-anak berteman dengan teman-teman mereka. Kenangan yang manis dari kedua orangtua mereka akan membuat mereka menjadi pribadi yang manis. Penghargaan orangtua kepada mereka akan membuat mereka menjadi generasi yang mudah menghargai orang lain.

Merajut kenangan manis antara kita dan anak-anak memerlukan kekuatan cinta, kekuatan pola pikir bertahun-tahun ke depan. Untuk itu, ada banyak hal sederhana yang sebenarnya ada di sekitar kita yang kadang kita abaikan, karena kita menganggapnya kecil. Cobalah untuk membiasakan beberapa hal sederhana ini untuk menciptakan berbagai kenangan manis:

1. Mulai Dari Pujian
Pujian adalah hal sederhana yang justru sering menjadi sesuatu hal yang kita sepelekan. Alasannya karena kecil, karena menurut kita, kapan pun bisa kita lakukan. Padahal justru ketika kita mengabaikan hal yang kecil, dan menunda-nundanya untuk melakukan hal itu, waktu akan terasa berlari begitu cepat. Dan anak-anak akan tumbuh besar dengan lingkungan yang lebih kuat memengaruhi mereka.

Anak-anak butuh pujian. Sama seperti kita yang suka dipuji. Hanya pujian untuk anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Pujian untuk orang dewasa pada individu tertentu justru terasa tidak baik, karena akan menghambat langkah mereka untuk maju. Memberikan pujian untuk anak-anak bisa menjadi sinyal bagi mereka, bahwa kita sebagai orangtua menyukai cara mereka melakukan hal yang sedang mereka lakukan. Jika kita tidak mampu menggunakan kata-kata pujian, cukup dengan dua jempol kita yang diangkat tinggi untuknya, sesuai mereka melakukan kegiatan mereka. Hal-hal seperti itu pasti akan mereka kenang hingga mereka menjadi orangtua kelak.

2. Piknik Bersama
Ada lagi kegiatan yang menurut kita hanya bisa dilakukan ketika kita sudah memiliki banyak uang, sehingga kita menunda-nunda kegiatan itu. Kegiatan itu adalah liburan bersama atau sekedar piknik bersama. Kegiatan bersama seperti piknik bersama atau liburan bersama itu, bisa dilakukan tanpa harus menguras dana kita. Yang penting kita sebagai orangtua memiliki keinginan untuk merajut kenangan manis bersama anak-anak.

Kita bisa makan bersama di warung makan yang tidak menghabiskan banyak dana. Yang kita butuhkan adalah membuang jauh keegoisan kita dari rasa malas dan ingin istirahat di rumah. Kita bisa menuju sebuah museum dan melakukan eksplorasi ke museum bersama anak-anak. Ongkos masuk ke museum jauh lebih murah dari ongkos ke wahana rekreasi yang dipenuhi permainan. Tapi dengan ongkos yang minim, ketika kita punya niatan baik untuk anak-anak, maka sensasinya tidak akan kalah dengan ketika kita menghabiskan waktu di wahana permainan. Atau, bisa juga ambil satu waktu kosong di halaman depan rumah kita, dan lakukan kegiatan camping bersama anak-anak. Kita bisa memakai tenda dari kain atau sarung yang kita ikat dengan karet atau tali. Anak-anak pasti akan merasakan bukan sekadar sensasi, tapi kenangan yang tidak bisa diganti dengan hal lain.

3. Membagi Pengetahuan
Pengetahuan ada di mana saja. Hanya sebagai orangtua pikiran kita suka sempit dan menganggap bahwa pengetahuan hanya bisa didapatkan di tempat tertentu bernama sekolah atau lembaga kursus. Padahal, kita bisa membagi pengetahuan pada anak dari rumah. Dari mulai pengetahuan yang sifatnya sederhana sampai pengetahuan yang sifatnya rumit. Yang sederhana misalnya, kita membagi ilmu memasak kita pada anak-anak dengan melibatkan mereka dalam kegiatan memasak.

Atau jika kita bisa berdagang, kita mulai libatkan anak-anak untuk belajar menghitung modal awalnya berapa, keuntungan berapa, dan dana yang ada diputar untuk apa. Pengetahuan seperti ini tidak perlu menunggu anak besar. Ketika kita menyampaikan dengan santai anak-anak akan lebih mudah paham. Dan tentu saja pengetahuan seperti ini tidak didapatkan anak dari lembaga kurus dan sekolah.

4. Menjadi Murid
Menjadi murid tentu tidak terbayang oleh kita sebagai orangtua. Apalagi bila yang mengajarkan itu anak kita. Tapi untuk mengangkat kepercayaan dan keyakinan diri anak-anak kita, tindakan menjadi murid ini bisa kita lakukan. Caranya tentu saja, apa saja yang dibagi oleh anak dan dianggapnya sebagai sesuatu yang baru, harus mau kita dengarkan dan lakukan.

Apa contohnya? Permainan baru yang dimainkan anak-anak yang bisa jadi tidak ada di zaman kita dulu. Bisa jadi permainan itu ada, tapi sudah mengalami modifikasi sehingga kita tidak paham lagi bagaimana memainkannya. Tukar informasi tentang bagaimana permainan itu dulu, dan menerima penjelasan anak bagaimana permainan itu sekarang dimainkan, akan membuat kita paham dan anak-anak juga paham. Lalu, bisa kita buat komitmen untuk melakukan permainan itu menurut cara kita, atau menurut cara anak-anak.

5. Ayo Lakukan Mulai Dari Sekarang
Setiap kegiatan positif tidak perlu ditunda. Lakukan dari sekarang. Selama anak-anak masih bisa kita rangkul, selama lingkungan belum terlalu memengaruhinya, dan selama anak kita masih mengidolakan kita sebagai orangtua mereka, maka hal sederhana yang sifatnya positif ini harus sesegera mungkin kita lakukan. Matikan televisi, jauhkan gadget, dan nikmati kebersamaan dengan anak-anak. Kelak, ketika kita sudah menua, rajutan kenangan manis bersama kita akan membuat anak-anak melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan pada mereka.
Load disqus comments

0 komentar