Selasa, 31 Maret 2015

8 Kiat untuk Keluarga Digital



Banyak yang tak menyadari kalau kebanyakan keluarga sekarang sudah menjadi “keluarga digital”. Makin terjangkaunya alat komunikasi digital membuat keluarga sederhana pun bisa memiliki peralatan itu, setidaknya memiliki telepon seluler. Penggunanya juga makin muda, termasuk anak TK atau SD pun sudah bisa berkomunikasi digital. Padahal perkembangan ini tak selalu baik.

Jika ditelusuri, untuk keluarga-keluarga di perkotaan mungkin komunikasi lewat SMS atau layanan teks lain seperti layanan chat via WA/BBM/Line yang populer justru lebih banyak dilakukan dibanding komunikasi tatap muka dalam keluarga. Bisa jadi ketika semua anggota keluarga ada di rumah pun, komunikasi teks ini lebih diandalkan ketimbang komunikasi tatap muka, karena lebih praktis.

Suatu penelitian di AS menunjukkan bahwa anak usia 8 hingga 18 tahun di sana rata-rata menghabiskan waktu 7,5 jam sehari menggunakan peralatan digital (smartphone, tablet, dll). Mungkin ini belum mencerminkan keadaan global di Indonesia. Namun melihat perkembangan pengguna digital yang begitu pesat, jangan-jangan hal yang sama bisa terjadi pada keluarga kita.

Masalahnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan pada media digital bisa mendatangkan efek negatif yang mengkhawatirkan. Anak-anak jadi lebih paham berkomunikasi digital dibanding berkomunikasi secara nyata. Lebih dari itu, para ahli menyebutkan, bahaya paling besar dari perkembangan ini adalah rusaknya hubungan orangtua-anak. Juga anak-anak jadi tidak bisa belajar kehidupan dan membangun  karakternya seperti tak belajar berempati, malas komunikasi (lisan), kurang berkembang emotional intelligence-nya, kurang keterampilan dalam bersosialisasi, pemecahan masalah, mendengar, dan sejenisnya.

Untuk mengatasi akibat buruk itu, orangtua tidak mungkin menghalangi mereka terlibat dalam dunia digital. Yang harus dilakukan sebagai orangtua adalah memfilternya. Untuk itu parenting expert,  Dr. Michele Borba, memberikan kiat agar hubungan orangtua tetap erat dengan anak-anaknya.

1. Belajar digital
Untuk bisa menyaring mana yang bermanfaat bagi anak-anak dan mana yang harus dihindari, para orangtua harus tahu perkembangan teknologi. Karena itu, jangan abaikan untuk membaca tentang teknologi yang diminati anak-anak. Diskusikan dengan orangtua lain kalau tidak paham. Jangan segan menanyakan pada anak mengenai teknologi apa yang disukainya, kalau perlu minta anak-anak mengajarkan bagaimana menggunakannya. Dengan cara ini orangtua bisa paham seperti apa teknologi digital itu.

2. Masuklah ke dunia digital mereka
Mintalah bergabung dengan permainan mereka dalam waktu-waktu tertentu (main bersama atau hanya sekadar melihat mereka bermain). Tanya video musik/film apa yang jadi favorit mereka dan nontonlah bersama. Namun jangan lupa, selama nonton untuk tetap berkomunikasi. Misalnya jika melihat mereka sibuk chatting ke temannya sambil menonton televisi, tanya apa yang sedang dilakukannya tanpa perlu melihat isi pesan yang ia tulis.

3. Susun acara tatap muka rutin dengan anak
Misalnya, jika selama ini anak malas jika diajak makan malam bersama di ruang makan dan lebih suka menonton televisi di kamarnya atau di depan komputernya, kali ini buat aturan agar bisa makan malam bersama sambil mendengar cerita mereka di sekolah atau kehidupan bersama teman-temannya.

Selama makan malam bersama, matikan televisi, agar perhatian tidak terpecah dan komunikasi bisa berjalan baik. Bahkan kalau perlu, pesan SMS, panggilan chatting, dan panggilan telepon tak perlu segera dijawab. Yang penting,  “family time” ini harus didiskusikan dahulu dengan anak-anak agar mereka bertanggungjawab untuk mengikutinya dan merasa tak dipaksa.

4. Buat aturan menggunakan mobile phone
Mungkin di sekolah anak-anak, sudah ada aturan kalau mereka tak boleh membawa telepon seluler. Namun orangtua juga harus meyakinkan mereka bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana menggunakan telepon genggam/tablet tidak dianjurkan. Selain di sekolah, anak-anak tidak dianjurkan menggunakan peralatan digital waktu makan bersama, berolahraga, belajar, serta saat pergi/pulang ke rumah. Lebih baik memberi salam pada orangtua ketimbang sibuk menelepon teman-temannya.

5. Perhatikan penempatan televisi dan komputer
Jangan tempatkan televisi di kamar anak-anak. Begitupun dengan komputer. Lebih baik letakkan komputer di ruang keluarga sehingga orangtua bisa dengan mudah menyapa anak atau melihat apa yang sedang dilakukannya.

6. Tingkatkan face-to-face interaction
Komunikasi tatap muka antara anak dan orangtua akan memperkaya hubungan keduanya. Gunakan interaksi semacam ini untuk mengajari anak-anak mengembangkan kemampuan komunikasinya. Misalnya, jika anak suka menyaksikan pertandingan sepakbola, diskusikan siapa tim yang akan memenangkan pertandingan atau kira-kira apa yang akan terjadi. Jika anak-anak menyukai hal lain, ajak berdiskusi mengenai itu. Tekankan bahwa saat berdiskusi, lakukan dengan tatap muka, lihat mata lawan bicara.

7. Dorong untuk memiliki waktu dengan teman
Teman bermain adalah bagian penting dalam kehidupan anak-anak untuk pengembangan keterampilan sosialisasi dan emosi. Karena itu lihat jadwalnya, apakah ada agenda mereka bertemu teman-temannya pada waktu tertentu di luar waktu sekolah. Jika tidak ada dan lebih banyak waktu untuk bermain dengan peralatan digitalnya, maka dorong agar mereka memiliki banyak waktu untuk teman-temannya juga, tidak hanya berkomunikasi melalui peralatannya itu.

8. Tekankan “kita”, bukan “saya”
Ini untuk memberi pelajaran bahwa hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Sebagai makhluk sosial kita punya lingkungan di sekitar yang berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Tak mungkin hidup sendiri. Karena itu cari cara agar anggota keluarga kita punya waktu atau berperan dalam komunitas, misalnya bertetangga dengan baik. Ajarkan bagaimana agar bisa menolong orang lain dan menghormati yang lebih tua.

Selamat mencoba! Semoga bisa membantu dalam mempererat hubungan dalam keluarga, serta bermanfaat dalam mengembangkan mental buah hati kita. :)

Load disqus comments

0 komentar