Jumat, 26 Desember 2014

Sejarah Asal - Usul Kota Glenmore Banyuwangi


Seorang petugas Human Reources Development (HRD) sebuah perusahaan mencermati daftar riwayat hidup calon karyawan yang sedang diwawancarainya. Kata Glenmore yang termaktub sebagai tempat kelahiran membuat dia ingin bertanya lebih jauh.
“Apakah orang tuamu seorang diplomat atau bekerja di luar negeri ketika kamu lahir?” “Orangtua saya pedagang dan saya lahir di Indonesia, pak.”
“Loh, bukankah Glenmore itu di Eropa atau Amerika?,”
“Ah nggak pak. Glenmore itu nama kecamatan di Banyuwangi,” katanya.
“Oh, I’am very surprised,” kata petugas HRD tadi.
Nama Glenmore sering melemparkan asumsi orang tentang sebuah tempat di Eropa yang sejuk dan kadang berselimut salju. Padahal ini nama sebuah kecamatan yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Glenmore memang terkesan seperti kosakata Inggris. Dibanding nama kecamatan lain yang lebih “njawani” seperti Siliragung, Bangorejo, Tegaldlimo, Cluring, Gambiran, dan Srono, nama Glenmore terdengar asing dan berbeda. Bukan hanya kebarat-baratan serta easy lestening, tapi juga keren abis.
salah satu peninggalan Belanda (dok.jlj/iqbal fardian)
Nama Glenmore yang asing itu sering memicu rasa penasaran untuk mencari tahu asal usulnya. Pasalnya, setiap nama pasti punya sejarah dan jalan ceritanya sendiri. Seperti Banyuwangi yang semula dikenal dengan Blambangan. Begitu juga Glenmore yang asal-usul dan sejarah namanya belum terungkap jelas. Yang ada hanya cerita lisan yang serba samar-samar. Maklum, tidak ada dokumen tertulis, apalagi prasasti, kenapa daerah ini dinamakan Glenmore. Yang sekadar tafsir berdasarkan cerita dari mulut ke mulut.
Glenmore merupakan daerah perkebunan dengan hawa yang lebih sejuk dibanding Kecamatan Ketapang di bagian timur Kota Banyuwangi, misalnya. Tapi, udara di Glenmore kalah sejuk dibandingkan Kalibaru, kecamatan tetangga di bagian barat. Selain nama yang asing, jejak-jejak berbau asing, terutama peninggalan kolonial Belanda masih ditemukan saat ini. Selain stasiun kereta api, ada juga jembatan, hingga gudang dan peralatan pabrik di perkebunan. Namun, tidak satu pun yang menceritakan “asbabun nuzul” tentang nama Glenmore.

Javasche courant tempat mengumumkan informasi undang-undang, termasuk izin kepemilikan lahan perkebunan di masa kolonial Belanda
Sebagian besar orang meyakini Glenmore merupakan gabungan dari dua kosa kata yakni “Glen” dan “More”. Kata Glen untuk menggambarkan daerah berhawa sejuk yang memiliki hamparan lahan berkontur. Sedangkan More untuk menunjukkan daerah ini memiliki hamparan berkontur yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Gabungan dua kata itu kemudian disatukan menjadi Glenmore. Konon, gabungan dua kosakata ini banyak digunakan oleh warga Belanda yang menghuni daerah ini sejak abad ke-18. Tapi, dugaan ini sulit dicari pembenarannya karena tidak ada bukti yang kuat.
Versi lain menyebutkan nama Glenmore tidak lepas dari Ros Taylor, bangsawan Skotlandia yang membeli lahan perkebunan di daerah ini. Izin pembukaan lahan ini ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 24 Februari 1909 dan diumumkan di Javasche Courant tanggal 30 Maret 1909. Javasche Courant merupakan lembar penyebaran informasi tentang perundangan yang menjadi cikal bakal Berita Negara yang kita kenal sekarang. Berita Negara pertama kali dipakai pada tahun 1810 dengan nama Bataviasche Koloniale Courant yang kemudian berubah menjadi Javasche Courant pada tahun 1815.
monumen lokomotif peninggalan Belanda
Lahan perkebunan seluas 163.800 hektar itu baru resmi dibuka pada tahun 1910. Kepemilikan perkebunan ini sempat berpindah tangan ke penugsaha Liem Tek Hie setelah Perang Dunia II. Tapi, setelah pergolakan politik pertengahan tahun 1960-an, perkebunan ini jatuh ke tangan petani penggarap tahun 1969. Kepemilikan perkebunan ini terus beralih hingga perusahaan perkebunan Margosuko Group masuk pada tahun 1980 hingga sekarang.
Menurut versi ini, Ros Taylor sangat dihormati oleh penduduk lokal maupun warga Belanda karena kekayaan dan status sosialnya. Sebagai penghormatan kepada bangsawan Skotlandia ini Belanda menamai perkebunan yang telah dibeli dengan nama Glenmore. Kata Glen untuk menggambarkan lahan perkebunan yang berkontur dan sangat luas. Sedangkan More merupakan marga keluarga besar Taylor. Jadi, Glenmore merupakan lahan berkontur yang luas milik keluarga More.
Salah satu bukti untuk memperkuat asumsi ini adalah adanya perkebunan Glen Falloch dan Glen Nevis di Kecamatan Glenmore. Tapi, Nama Falloch dan Nevis tidak sampai menjadi nama suatu daerah karena status kebangsawanan dan luas lahan yang dimiliki tidak seperti milik Ros Taylor. Penggunaan nama pemilik untuk nama perkebunan ini juga terjadi pada Perkebunan Trebasala di Kecamatan Glenmore. Trebasala merupakan penyebutan terbalik untuk alas (lahan/hutan) milik Tuan Albert. Tapi, asumsi ini juga diragukan karena di Skotlandia tidak ada marga More.

Meski Ros Taylor tidak memiliki marga More, dia diduga kuat berperan dalam menemukan kata Glenmore untuk perkebunan ini. Kata Glenmore bisa dilacak dari Bahasa Gaelic sebagai bahasa asli Skotlandia tempat Ros Taylor berasal. Dalam Bahasa Gaelic, Glenmore berarti “big glen” yakni daerah dengan kontur perbukitan yang menghampar sangat luas. Istilah Glenmore biasa digunakan orang Skotlandia untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan daerah berkontur perbukitan atau hal yang berhubungan dengan lahan perbukitan.
Istilah Glenmore cukup popular di Skotlandia. Selain untuk menyebutkan daerah dengan kontur perbukitan, kata Glenmore juga digunakan untuk nama hotel, plaza, taman hutan, pusat latihan olahraga luar ruangan, dan lain-lain. Glenmore Lodge misalnya sebagai Pusat Pelatihan Olahraga Luar Ruangan Nasional Skotlandia. Ada juga Glenmore Forest Park (Taman Hutan Glenmore). Beberapa perusahaan wisata dan penginapan di daerah pegununan di Skotlandia juga memakai nama Glenmore.
Selain di Skotlandia, nama Glenmore juga ditemukan di negara-negara lain seperti Amerika, Inggris, Australia, dan lain-lain. Di Inggris ada Glenmore Caravan and Camping Site, sebuah kawasan perkemahan. Di Amerika, Glenmore digunakan untuk nama pusat perbelanjaan (plaza) dan hotel berbintang serta menjadi nama kota kecil di Wisconsin dan Virginia. Glenmore juga menjadi nama daerah di distrik Rockhampton, Queensland, Australia dan menjadi nama properti bersejarah. Glenmore sebagai nama kota juga ditemukan di distrik City of Kelowna, British Columbia di Kanada. Begitu juga nama Glenmore di Irlandia.
rumah peninggalan meneur Belanda di salah satu perkebunan di Glenmore
Nama Glenmore yang tersebar di berbagai negara itu tidak lepas dari kehadiran orang Skotlandia di negara tersebut di masa lalu dengan beragam kepentingan. Nama Glenmore di Australia tidak lepas dari kehadiran sejumlah anggota resimen ketiga Skotlandia di benua tersebut sekitar akhir abad ke-18. Daerah-daerah bernama Glenmore biasanya memiliki kemiripan yakni lahan yang berkontur di sekitar daerah pegunungan atau lembah. Jika nama Glenmore dipakai untuk merek atau komunitas, tetap memiliki nuansa alam yang sangat kuat.
Meskipun tidak ada data dan bukti tertulis bahwa Ros Taylor yang memberi nama Glenmore di lahan perkebunan yang dia beli di Banyuwangi, jejak dan asal-usul Kecamatan Glenmore dapat dilacak dari kebiasaan orang Skotlandia memberikan nama pada tempat yang dia miliki. Apalagi kondisi alam daerah bernama Glenmore rata-rata memiliki kesamaan yakni lahannya berkontur dan berada di sekitar pegunungan, perbukitan, atau lembah.
Gambaran lahan berkontur dengan latar pegunungan ini cocok dengan kondisi Glenmore di Banyuwangi. Selain memiliki hamparan perkebunan yang luas, daerah ini tepat berada di bagian selatan Gunung Raung. Di pagi hari, Gunung Raung tampak seperti benteng yang melindungi Glenmore yang tenang dan berudara sejuk. Karena itu pula kenapa nama Glen Falloch dan Glen Nevis hanya disematkan pada perkebunan dan tidak menjadi nama sebuah kecamatan.

Meskipun nama Glenmore lebih dekat dengan Skotlandia, secara fisik Glenmore cukup dekat dengan hal-hal yang berbau Belanda karena Belanda cukup lama menguasai lahan perkebunan di daerah ini. Bahkan bangunan-bangunan peninggalan Belanda seperti markas, stasiun kereta uap, sistem irigasi, hingga gudang penimbunan hasil perkebunan masih ditemukan hingga sekarang. Salah satu yang cukup dikenal adalah pipa air sepanjang 500 meter di Desa Margomulyo yang dikenal dengan Pipa Sarengan.
Kondisi yang membuat Kecamatan Glenmore, terutama perkebunannya, menjadi tujuan turis asal Belanda. “Kami mendengar cerita tentang Glenmore yang indah dari kakek kami yang bertugas di perkebunan karet di sini,” kata Johann van Dulken. Pada tahun 1980-an hingga 1990-an turis-turis Belanda sering terlihat berseliweran di Glenmore. Mereka biasa membeli barang kerajinan dari bambu seperti seperti tudung saji, topi petani, tampah, dan lain-lain
Load disqus comments

0 komentar