Selasa, 04 Februari 2014

Pemkab Banyuwangi Menggelar Festival Endog-endogan



Ribuan telur diarak dalam Festival Endog-endogan yang digelar Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (30/1/2014) dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Festival ini diikuti oleh ribuan peserta yang terdiri atas pelajar mulai tingkat sekolah taman kanak-kanak (TK) hingga SMA, komunitas sanggar, dan perwakilan kelurahan se-Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Mohammad Yanuarto Bramuda kepada media mengatakan tema besar festival endog-endogan tahun ini adalah Arak-arakan Endog-endogan. "Arak-arakan endog-endogan adalah salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain," katanya.

Festival Endog-endogan diawali dengan zikir maulid dan pujian-pujian lalu dilanjutkan dengan musik Hadrah Kuntulan dengan judul lagu "Bulan Mulud". Selain itu juga ada penampilan teatrikal yang menceritakan masuknya Islam di Nusantara. Termasuk pula kisah awal Sunan Kalijaga menjadi salah satu Wali Songo hingga perjalanan dakwahnya melalui seni diiringi dengan gending-gending yang pernah dibawakan Sunan Kalijaga seperti Dandanggula, Semarangan, dan Lir-ilir.

"Selain itu juga ada tema teatrikal yang menceritakan masuknya Islam di Bumi Blambangan dengan mengangkat kisah Syekh Maulana Ishak dan Sekar Dalu. Syekh Maulana Ishak yang berhasil menyembuhkan putri Kerajaan Blambangan, Putri Sekar Dalu, hingga akhirnya keduanya menikah. Setelah menjadi bagian keluarga kerajaan, Syekh Maulana pun mengembangkan ajaran Islam dari dalam Istana," jelas Bramuda.

Selain itu juga ada teatrikal yang menjelaskan kisah awal tradisi Endog-endogan di Banyuwangi yang konon diawali pada abad 19. Yakni pertemuan di Bangkalan antara Mbah Kyai Kholil, pimpinan Ponpes Kademangan Bangkalan dengan KH Abdullah Fakih pendiri Ponpes Cemoro Balak, Songgon, Banyuwangi.

Dalam pertemuan tersebut, Kyai Kholil mengatakan bahwa kembange Islam wes lahir di nusantara (Nadlatul Ulama) yang dipersonifikasikan sebagai endhog (telur). Yaitu kulit telur melambangkan kelembagaan NU sendiri, sementara isi telur melambangkan amaliyah.

Sepulang dari pertemuan tersebut, Kyai Fakih pun menyebarkan amanah tersebut dengan cara mengarak keliling kampung gedebog (batang) pisang yang telah dihias dengan tancapan telur-telur dan bunga, dengan disertai lantunan sholawat dan dzikir. "Inilah cikal tradisi endog-endogan yang ada di Banyuwangi," ujar Bramuda.

Selain menampilkan beberapa teatrikal, ada juga beberapa kreasi endog-endogan yang ditampilkan dalam beberapa bentuk seperti bunga, masjid, ataupun dikreasikan dalam bentuk baju.


 Shinta Nurahman (8) yang memakai baju kreasi dari telur mengaku senang ikut bergabung dalam acara tersebut. "Biasanya cuma bawa kembang telur, tapi sekarang sudah dimodifikasi jadi baju yang saya pakai sekarang," katanya sambil menunjukkan beberapa ornamen baju merahnya yang dibuat dari telur.

"Ini kulitnya saja. Tapi ada yang benar-benar dari telur rebus," sambungnya sambil menunjukkan hiasan di bagian kepalanya.

Sementara itu Anton Hidayatullan (47), salah satu warga Blitar mengaku senang melihat Festival Endog-endogan. "Saya kaget saja ada juga karnaval yang bernuansakan Islam seperti ini. Bawa telur rebus yang dihias macam-macam. Unik, baru menemukan tradisi seperti ini di Banyuwangi," ujar  lelaki yang mengaku sedang berlibur di Banyuwangi ini.
Load disqus comments

0 komentar