Minggu, 16 Februari 2014

Cerpen - First Love



“Ahaaha…” tawaku terheran-heran mendengar cerita Vira tentang pacar barunya yang ingusan dan ngompol ketika sd. “Vio… kamu kok malah nertawain sih…!” kesalnya. “eh Sorry-sorry habis cowokmu aneh sih…” kataku sambil mengusap air mata yang keluar akibat tertawa. “Waktu itu dia kan masih kecil jadi wajar lah dia punya kebiasaan kaya gitu” belanya. “cie… belain pacarnya ni ye…” ejekku. “Iya dong bebeb Rio gitu…!!” serunya.
“Vio…!” panggil seseorang kepadaku. Ternyata yang memanggilku adalah Bu Winda guru matematikaku. Aku segera datang kepadanya. “Ada apa bu?” tanyaku sopan. “Kamu tolong ambilkan ulangan-ulangan anak kelas X-13 di perpustakaan ya, lalu berikan saya. Saya ada di kelas X-8.” perintahnya. “OH Baik Bu” jawabku.
Aku segera menuju perpustakaan, ketika aku sedang melewati lapangan basket, terlihat Dimas sedang bermain basket. Entah mengapa aku tak dapat mengalihkan pandanganku terhadap Dimas. Namun tiba-tiba Dimas pun Menoleh ke arahku, aku segera memalingkan wajahku darinya. Jantungku berdebar cepat ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku. Dengan langkah cepat aku segera menuju perpustakaan.
Setelah mengambil kertas ulangan, Aku segera memberikan kertas ulangan-ulangan X-13 kepada Bu Winda yang kebetulan sedang mengajar anak-anak X-8 kelas Dimas. “Permisi…” kataku. “Masuk…” jawab Bu Tun. “Aku segera masuk dan memberikan kertas ulangan-ulangan tersebut. Aku melihat sepintas Dimas yang sedang asik bercanda dengan teman sebangkunya. Entah mengapa aku kembali berdebar ketika melihat Dimas. Aku segera keluar dari kelas tersebut agar aku tak salah tingkah.
Aku segera kembali ke kelasku untuk kembali mengikuti pelajaran selanjutnya, yaitu Fisika. Di tengah-tengah Pelajaran, Kak Tia anak basket senior mengetuk pintu kelasku. “permisi pak… maaf sudah mengganggu… saya ingin memanggil Vio dan Reno.” katanya singkat. “Ada apa ya..?” Tanya Pak Hamzah. “Anak basket lagi kekurangan anggota untuk pertandingan bulan depan maka dari itu, mereka akan saya tambahkan ke dalam tim Pak… apakah boleh saya meminjam murid Bapak?” ijin Kak Tia. “Baiklah semoga kalian menang ya…” kata Pak Hamzah. “yo… moga-moga berhasil ya…!” seru Vira menyemangati. Aku hanya tersenyum membalas perkataan Vira. “Baik Pak.. kami permisi dulu ya Pak…!” seru Kak Tia. “Assalamualaikum..!” pamit kami. “Waalaikumsalam”
Kami dikumpulkan di kantor basket bersama anak basket yang lain. “Kak… kenapa aku yang dipilih…? aku gak bisa basket loh kak.” tanyaku pada kak Tia yang berada di sampingku sambil menunggu Pak Jono datang. “Aduh.. aku Cuma ikut perintah aja Dek..!” seru kak Tia. “Aduh kak… tapi…” kataku terpotong. “assalamualaikum…” salam Pak Jono. “waalaikumsalam”. “Tia.. sudah panggil Vio sama Reno untuk pertandingan bulan depan…?” tanya Pak pelatih. “sudah pak…” jawab Kak Tia. “Baiklah…” kata beliau terpotong. “assalamualaikum pak maaf terlambat” kata seseorang yang ternyata adalah Dimas. “Dim…” panggil Reno yang berada di sampingku. Dia pun menghampiri Reno dan duduk di antara aku dan Reno. Hatiku terasa deg-degan lagi ketika dia duduk di sampingku. Aku mencoba untuk tidak salah tingkah namun itu sangat sulit. Namun tidak lama setelah duduk di sampingku tiba-tiba dia bertanya kepadaku. “Halo.. kamu anak tambahan itu ya…?!” tanyanya penuh karisma. “A.. Iya… tapi aku gak seberapa mahir main basket.” kataku merendah. “Ohhh tapi kan kamu murid pilihan pak Jono ya pastinya kamu punya skill lah…!” katanya menyemangati. aku hanya dapat tersenyum mendengar kata-kata Dimas.
Setelah Pak Jono menjelaskan mekanisme pertandingan, setelah pulang sekolah kami langsung latihan basket tanpa Pak Jono karena beliau ada keperluan. Karena sudah lama tidak bermain basket aku menjadi kaku. Sehingga banyak teknik yang salah. “Vio… kamu gimana sih…!” kata Risa yang sepertinya jengkel terhadapku karena dia lebih mahir dibandingkanku. “Maaf…” kataku pasrah. Beberapa kali aku salah menggunakan teknik dan aku pun sering dimarahi oleh Risa.
Setelah latihan beberap kali aku memutuskan untuk istirahat sebentar.
“Uh bodoh…” kataku lirih setelah meneguk air minum yang segar. “apanya yang bodoh?” tanya seseorang yang mengagetkanku. aku menoleh ke arah orang tersebut dan dia ternyata adalah Dimas. Dia kemudian duduk di sebelahku. “Heehee aku yang bodoh…” jawabku lirih. “Kenapa kamu menganggap dirimu bodoh..?” tanyanya kepadaku. “Habis aku mau aja dipilih untuk ikut dalam pertandingan ini… aku kan udah lama gak main basket mankannya teknikku banyak yang salah.” jawabku lagi. “Ehm… kok nyalahin diri sendiri sih…? percuma kan kamu nyalahin diri sendiri toh ternyata gak ngerubah apa-apa!” serunya. “Iya sih… tapi…” kataku terpotong. “udah deh… latihan lagi yuk… nanti kuajarin deh…!” katanya menyenangkan sambil menarik tanganku ke lapangan. “eh…”
“Gini nih caranya…!” jelasnya kepadaku. aku memperhatikan cara yang dijelaskan Dimas. “Nih coba…” katanya sambil melempar bola basket tersebut yang tanpa sengaja mengenai kepalaku. “aduh” kataku kesakitan. “eh… kamu gak papa kan…?” tanyanya menghampiriku. “aduh sory aku gak sengaja melempar ke kepalamu.” katanya meminta maaf sambil mengelus lembut dahiku. “Gak papa kok.” kataku malu-malu. “kalau pusing mending udahan aja.” katanya peduli. “Enggak kok… aku gak pusing kita lanjutin latihannya yuk…!” seruku. kami berdua berlatih sambil penuh canda. Dalam hati aku berfikir apakah aku menyukai Dimas. Rasanya aku bahagia ketika aku di dekatnya. Tapi apakah dia juga menyukaiku..? tanyaku dalam hati.
Banyak anak yang sudah mengakhiri latihannya, namun aku dan Dimas belum pulang. “Gimana bisa kan…?” tanyanya. “iya makasih ya.. Eh ya udah sore nih udahan yuk…!” kataku. “Okey…” jawabnya. “Eh kamu naik apa..?” tanyanya kepadaku. “aku naek bemo…” jawabku. “tapi… kamu yakin… ini udah jam 5 loh?” tanyanya. “ayo kuantar aja… arahnya kan sama…” ajaknya. sejenak aku terdiam, bagaimana dia tau kalau aku searah dengannya tanyaku dalam hati. “gimana mau ndak…?” tawarnya lagi. “baiklah…”. Aku pun akhirnya dibonceng Dimas sampai rumah.
Sesampainya di rumah. “makasih ya…!” seruku. “ehm… iya…” katanya sedikit malu-malu. Sejenak kami terdiam dalam keheningan kami saling menatap dan tersenyum. “sampai jumpa besok..” kata kami bebarengan. Kami pun tertawa. “aku pulang dulu ya…!” katanya. “ehm iya hati-hati di jalan…!” kataku. Dia tersenyum membalas perkataanku. Setelah dia pergi aku pun kegirangan sendiri menuju kamar. “Kak gak papa kan…?” tanya adikku yang keheranan melihatku lompat–lompat kegirangan. “gak papa kok.” kataku sedikit malu. Di kamar, aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat kejadian hari itu. “Ehm senangnya…!” seruku sambil memeluk boneka teddy bearku. “sepertinya aku sedang jatuh cinta…” seruku dalam hati.
Aku pun menceritakan kepada Vira tentang kejadian hari itu.
Hubunganku semakin dekat dengan Dimas setelah kejadian hari itu. kami selalu latihan dan latihan untuk menyiapkan pertandingan bulan depan.
Suatu hari, seminggu sebelum pertandingan. Pak Jono menyuruh kami untuk berlatih di luar sekolah. Dengan biaya sekolah dan dengan alasan refresing kami pun berlatih di DBL arena. Anak perempuan lebih dulu berlatih. Setelah latihan, kini giliran tim Laki-laki yang berlatih. Aku bersama Vira yang menemaniku latihan, melihat mereka latihan di bangku penonton. “go go Dimas…!!” histeris anak cewek yang merupakan fans dari Dimas. “Norak..!!” seru Vira lirih. “Hus… kalau denger gimana…?” seruku. “Biar aja… habis lebay banget sih…!!” balasnya “oh ya… Yo kenapa kamu tidak mengutarakan perasaanmu terhadap Dimas.. kamu suka kan ma Dimas?” tanya Vira kepadaku. “Ehm aku gak berani Vir” kataku. “tapi apa salahnya kamu ngungkapin perasaanmu terhadap Dimas…? nanti nyesel loh kalau gak kamu utarain” serunya. Aku terdiam mendengar kata-kata Vira.
Tiba-tiba di tengah latihan, Dimas pingsan. “Dimas…” teriak spontan beberapa anak yang melihat Dimas pingsan. Aku pun segera turun dari blangkon penonton dan menghampiri Dimas.d engan segera aku langsung memangkunya “Dimas…!” teriakku sambil menampar-nampar pipinya. Aku mencoba membangunkan Dimas, namun Dimas tidak sadar juga Aku mulai panik dan khawatir dengan keadaannya. “Tolong telfonin rumah sakit dong…” kataku cemas. Ketika Vira akan menelepon rumah sakit, Dimas tiba-tiba sadar dan langsung menggengam tanganku dengan erat, aku sedikit kaget karena hal itu, namun aku juga bersyukur. “mas… kamu gak papa kan..?” tanya Reno. Dia mengangguk dan tersenyum. “Sebaiknya kamu pulang aja ya…” kataku peduli. Akhirnya Dimas diantar pulang oleh Rio ke rumah dengan selamat.
Akhirnya pertandingan dimulai. Setelah melewati beberapa tahap pertandingan akhirnya, kami tim cewek menang dengan merebut juara ke 2, sedangkan tim cowok menjadi juara pertama. Setelah pemberian penghargaan, aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku terhadap. “Dimas..!” panggilku kepadanya. Dia pun menoleh ke arahku. “kenapa Yo…!” jawabnya sedikit pucat. “Kamu gak papa kan… kenapa wajahmu pucat…?” tanyaku sambil memperhatikan wajahnya. “Gak papa kok.” katanya sedikit aneh. “Dim… aku mau ngomong sama kamu… sebenernya aku suka sama kamu… sejak masuk sekolah ini.” kataku lirih. Dia hanya terdiam mendengar perkataanku. sejenak suasananya menjadi tegang. “Dim… ehm… e… aku gak perlu jawaban dari kamu aku Cuma pengen kamu tahu perasaanku aja…!” seruku dan segera pergi. namun ketika aku akan pergi, Dimas memanggilku. “Vio… maaf aku tak bisa menyukaimu.” katanya singkat sambil langsung pergi begitu saja. Aku terdiam mendengar pernyataan dari Dimas. Tak terasa air mataku mulai menetes dan semakin deras. “jadi selama ini dia…” kataku dalam hati.
Keesokan harinya, mungkin karena terus menangis mataku menjadi lebab. tiba di sekolah aku melihat beberapa anak perempuan menangis entah mengapa. Aku pun segera berlari menuju kelasku, dan disana kulihat Vira yang sedang termangun, aku segera menghampirinya. “Vir… ada apa sih kok pada nangis?” tanyaku lugu. Vira melihatku. “Vio… Dimas.. Meninggal” seru Vira yang membuatku kaget. Aku langsung tergeletak lemas tanpa tenaga mendengar kata Vira. Vira pun memelukku dengan erat. “Sabar ya Yo… ini surat dari Dimas yang ia tulis khusus buat kamu.” kata Vira sambil memberikan sepucuk surat berbungkus amplop berwarna pink.
Dari Dimas untuk Vio
Vio… mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku tidak bisa berada di sisimu untuk selamanya. Di surat ini aku hanya ingin kamu tau bahwa sebenarnya aku juga menyukaimu semenjak aku bertemu kamu di sekolah ini. Rasa suka ini tak sempat dan tak mampu kuucapkan.
Maaf telah mengecewakanmu, aku memang tak pantas untukmu. penyakit yang kuderita membuatku semakin lemah, namun aku tak ingin kau tau bahwa aku sedang sakit. aku hanya ingin melindungimu di sisa hidupku ini.
Yo… maaf tadi aku telah melukai hatimu. mungkin aku yang bodoh karena gak jujur ke kamu dari awal. sekali lagi maafkan aku Vio… aku tak dapat melindungimu lagi. jangan sedihkan kepergianku. aku mohon kepadamu agar tak menangis lagi. Aku akan sedih jika kau menangis, aku akan bahagia jika kau juga bahagia…
terima kasih telah membuatku tersenyum di sisa hidupku ini. I LOVE YOU VIO..
Aku menangis tersedu-sedu membaca surat darinya. Vira mencoba untuk mnegarkanku. Aku hanya dapat memeluk sepucuk surat dari DImas yang telah meinggalkanku dalam kesendirian ini. “Semoga kau dapat hidup tenang di Alam sana”
Load disqus comments

0 komentar