Minggu, 16 Februari 2014

Cerpen - CintaMu Bukan UntukKu

Ruang Aula sudah sesak dipenuhi oleh banyak siswa-siswi. Ya! Dimulai dari ruangan ini aku mempunyai sekolah baru. Aku sedang masa orientasi siswa, ya.. yang biasanya disingkat dengan MOS. Di awal sekolah baruku ini aku hanya sendiri. Karena memang sama sekali aku tak mempunyai teman dari sekolah asal ku.
Dan bodohnya lagi, aku sangat susah untuk akrab dengan orang yang baru ku kenal. Lantas? Aku harus apa? Menanyakan soal tentang apa yang harus dibawa pada MOS hari selanjutnya saja gelagapan. Tapi, untungnya, ada satu cewek yang tiba-tiba sok kenal dan sok dekat gitu deh.. dia memperkenalkan diri. sebut saja namanya Lubna.
Kupikir, di sekolah yang baru ini, aku benar-benar memang tidak bakal mempunyai teman. Tapi, Alhamdulillah.. Tuhan masih adil kan?
Kami selalu bersama sepanjang MOS tersebut. Sampai kami dipisahkan oleh kelas yang berbeda. “Lubna Putri Salsabila, kamu di kelas sepuluh satu ya,” Kata kakak kelas yang diakui bernama Satria tersebut. Haruskah aku berpisah? Tuhan, kenapa secepat itu kau memisahkan seorang teman yang baru saja akrab ini
“Claudy Syifatunisa, kamu di kelas sepuluh tiga.” Aku sedikit terkejut. Ku kira, aku dan Lubna akan terpisah hanya beda satu kelas. Tapi? Ternyata beda dua kelas. Sama artinya, kelas kita pasti berjauhan.
Setelah, pembagian kelas tersebut. Tugas terakhir di MOS ini adalah bersih-bersih daerah sekolah. Ada yang membersihkan kelas, ada yang memunguti sampah-sampah yang tergeletak di hamparan hijaunya rumput dekat lapangan. Ada yang mengabil juga sampah yang terlihat dekat aula. Dan sampai ada yang bersih-bersih ruangan-ruangan lainnya.
Untung saja, Aku dan Lubna kebagian sama. Kami kebagian membersihkan derah taman dekat lapangan tersebut. “Dy, walaupun kita tak sekelas. Tapi bersih-bersih ini kita akhirnya bareng juga ya.” Lubna tiba-tiba memecahkan keheningan saat aku dan dia sama-sama sudah habis bahan pembicaraan.
“Eh, iya, Na. Tapi kita tetap temanan kan? Ya.. walaupun dipisahkan kelas seperti itu.” Aku berbicara sedikit lesu. Ya, mungkin karena baru hanya dia yang ingin berteman denganku.
Aku. Yap! Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang wanita yang tak mempunyai paras cantik nan anggun. Aku wanita kurus kering seperti tak pernah diisi gizi. Walaupun tinggi badanku sudah mencangkup wanita yang ideal. Tapi, aku bersyukur kepada sang Pencipta. Pasti, ada sesuatu dibalik badanku yang seperti ini. Ya, walaupun aku jelek. Tapi aku perempuan yang cerdas. Hobi ku yang sering baca buku ternyata membawakan sebuah hasil yang memuaskan untuk diriku. Apalagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi. Alhamdulillah, ulangan pelajaran itu aku selalu mendapat 100. Hobiku ini tertular dari Ayah yang sering membacakan ataupun menceritakan tentang apa saja hal yang menarik. Ngomong-ngomong menarik, aku sangat suka sekali dengan hal yang seperti itu. Terlebih jika tentang artikel-artikel.
Selain parasku yang tak cantik ini. Aku juga bukan sosok orang yang berada. Ayah hanya seorang penjual tas. Dan Ibu hanya menganggur, mengurusi keluarga di rumah. Apalagi, adik sedang sakit. Entah penyakit apa yang diserangnya. Tapi kata Ibu, duit yang ia punya tak mencukupi untuk membayar pengobatan Adikku.
Adikku bernama Damar. Dia masih sekolah SD. Tapi, setelah ia mempunyai penyakit ini, ia sudah tak sekolah karena tubuhnya yang tak kuat apabila sinar matahari merasuki badannya itu. Aku jadi bingung sendiri… Tapi, pernah aku membaca buku. Manusia akan kuat jika terkena matahari. Tapi kok Damar? Entahlah, namanya juga penyakit.
“Hey! Kalau jalan lihat-lihat dong. Jangan sambil bercanda seperti itu.” Aku terkejut setelah mendengar perkataan seperti itu. Aku menoleh ke arah suara yang mengangetkan barusan. Oh. Ternyata dia. Ya! Dia kakak kelas yang sejak tadi diceritakan oleh Lubna. “Maaf, kak.” dengan sopan aku meminta maaf kepadanya. Dia agak sedikit terpesona. Ya! Tersepona. Tapi bukan dengan ku. Melainkan dengan Lubna. Wah, jangan jangan.
“Hey, kak! Sudah dimaafin kan? Kami duluan ya, kak!” Aku langsung menyeret Lubna untuk menjauh dari kakak itu. Kalau sudah seperti ini. Pasti ada sesuatu di antara dia dan kakak-kakak itu. “Fa, biasa aja dong nariknya. Gak bisa ngelihat orang seneng apa!” Dia memprotesi aku karena aku tadi menariknya dan menjauh dari kakak yang tak sengaja tertabrak dengan kami itu.
Kami sudah setahun berteman. Tidak ada pertengkaran di antara kami. Dan kalian tahu? Setiap kami bertemu dengan kakak yang disukai oleh Lubna pasti dia langsung menjerit fanatik. Ya. Lubna sangat suka sekali dengan kak Rendi. Seorang cowok yang pernah tertabrak oleh kami sewaktu dahulu dan memberikan pandangan pertama pada sosok Lubna.
Semakin hari aku juga lelah sih kalau terus-terusan mendengar cerita dari Lubna itu. Bayangkan setiap pagi, setiap kami nunggu angkutan umum jika kami ingin berangkat sekolah, dia hanya menceritakan tentang kak Rendi. Siapa yang tidak bosan?. Akhirnya, jika dia sedang ingin hanya membicarakan tentang Kak Rendi lagi, aku langsung memotongnya dengan pembicaraan lain. Entah itu menanyakan PR atau tugas lainnya. Biar tau rasa gimana rasanya di gituin!
Sampai suatu saat dia merasa kalau cerita yang ia lambungkan ke udara tersebut diacuhkan oleh ku. “Fa, lo kenapa sih? Setiap gue cerita gak pernah dengerin gue lagi?” Tanyanya. Akhirnya dia merasa juga. Kenapa bukan dari dahulu merasanya? Dasar orang yang tak pekaan! “Hah? Emang ya? Maaf deh, lagi lo cerita kak Rendi terus sih. Gue kan juga bosen..” Frontal ku. Maaf deh, Na. Bukan itu yang aku maksud. Hanya ingin memberitahumu kalau dunia tak sesempit cerita kamu dengan Kak Rendi.
Dia hanya diam. Tak menjawab pembicaraan ku lagi. Sampai kami sampai di sekolah. Dan waktu kami ingin pisah kelas aku jadi tak enak sudah berbicara se-Frontal seperti tadi. “Maafin gue ya, Na. Gak seharusnya gue ngomong gitu tadi,” Kataku gugup. Aku gugup, mungkin karena sudah menyakitkan hati sahabatku ini.
“Gak apa-apa kok. Gue yang salah. Sudah ya, nanti istirahat bareng..” Ucapnya sembari tersenyum. Tapi, itu bukan senyum yang pernah ia lengkungkan jika sedang senang. Melainkan itu senyum terpaksa. Benarkah ia sakit hati sudah dengan ucapan ku tadi? Pastilah!
“Fa, gue jadian sama Agung! Coba lo bayangin, tiba-tiba dia nembak gue semalem. Waktu kita lagi jalan,” Tiba-tiba datang ke rumah ku tanpa mengucapkan salam. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa melihat adakah orang di rumahku. Ya seperti biasa. Dia yang selalu rutin menghampiri rumahku sebelum kami berangkat sekolah. Mentang-mentang di rumah Ayah sama Ibu sedang ke rumah sakit. Uh! “Whaaa.. selamat ya. PJ dong..” Aku meminta traktir darinya. Selamat deh, Na. mungkin cerita tentang Kak Rendi akan punah. Oh god! Memang cerita Ka Rendi bakalan punah. Tapi pasti cerita tentang Agung akan mengudara di mulut kamu. Huuuh!
Untungnya, perkiraan ku salah. Dia jarang menceritakan tentang Agung. Ya. Walau masih cerita sedikit demi sedikit, yang jelas tidak seperti menceritakan tentang Kak Rendi.
“Fa, kenal sama yang namanya Dwiqi?” tanyanya. Dwiqi? Oh. Dia teman semasa kecil ku. Dan sekarang kami satu sekolah yang sama. Tetap, walaupun dia beda kelas dengan ku. “Kenal. Kenapa emang?” aku bertanya kembali.
“Dia ganggu gue mulu tuh. SMS-in gue mulu lagi. Norak banget caranya.” Hahaha. Aku hanya tertawa mendengar opininya tersebut. Dwiqi? Cowok kecil tapi manis. Memang sewaktu SD dia terkenal dengan kepintarannya. Tapi, aku dengar-dengar akhir-akhir nilainya selalu turun. Entah karena pengaruh apa? Aku pun tidak tahu. “Mana sini gue minta nomornya?” entah dari setan mana, aku meminta nomornya pada Lubna. Mungkin sekedar ingin mengerjai balik.
Malamnya, aku mengirimkan sebuah SMS kosong kepadanya. Lalu dia menjawab. “Siapa nih?” Akhirnya aku terus menjawab dan menjawab dan menjawab. Ternyata ketahuan siapa aku. Dan kami menjadi sahabat hingga sekarang. Dan sampai suatu saat, dia bilang kalau dia suka dengan Lubna. Aku sudah tahu dari awal. Pasti alasan dia mengodai Lubna pada jam-jam yang sedang dilalui bersama dengan Agung karena dia ingin mereka putus terlebih dahulu. Lalu Dwiqi menyatakan perasaannya. “Ya udah, tembak lah.” Ucapku asal saat dia menelepon ku malam-malam. Waktu itu sudah pukul 1 pagi. Waktu yang sangat larut bukan? Aku bisa tidur selarut itu karena Dwiqi. Entah jadi kebiasaan atau memang keasyikan berbicara lewat telepon dengannya.
Hari demi hari ku lewati, bulan bertemu bulan ku jalani, dan sudah 1 tahun aku bersamanya. Aku jadi terlarut dengan perasaan ini. Aku terlarut saat dia perhatian denganku. Aku terlarut saat dia tersenyum manis kepadaku. Ya. Aku suka dengannya. Tapi, aku tak pernah menceritakan semua tentang ini kepada Lubna. Untuk apa? Dia sudah sibuk dengan Agung sang kekasih. Mungkin bisa dibilang, dia sudah lupa denganku. Bahkan di sekolah pun, kami jarang bertemu.
Sampai suatu saat, dia merasa ada yang janggal atau apa. Dia bisa-bisanya bilang begini, “Lo perhatian banget sama gue, Fa? Lo suka ya sama gue?” Dengan suara sedikit lembut namun agak serak dia berbicara seperti itu. Dan bodohnya. Padahal itu sebuah kesempatan, tapi aku malah mengumpatnya dengan rada malu bercampur kaget. “Hah? Engg..gak salah? Iyuh banget gue suka sama lo!” Seruku agak meninggikan kan ‘Gak salah?’
Tuhan, bodoh sekali aku. Kenapa sih? Ego ini. Gengsi ini. Ini yang membuat semuanya menjadi hancur berantakan. Seharusnya jika aku jujur, akan menjadi indah. Apakah ini sebuah teguran darimu, agar aku menjauh darinya? Agar aku tak sakit hati lagi? Haaaah!
Akhirnya, tiba-tiba hubungan kami tidak membaik. Dia sudah jarang menelepon ku saat malam-malam biasanya. Dia hanya sekali-dua kali SMS ku, hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting. Dan sampai pada akhirnya, semuanya hilang saat terakhir kali dia mengataiku dengan sebutan ‘hewan’ yang sangat tidak sopan dilakukan oleh seorang laki-laki kepada perempuan. Dia mengataiku memang tidak langsung, melainkan lewat SMS.
Tuhan, bunuh aku sekarang! Sakit sekali tiba-tiba dapat SMS dari orang yang kita sayangi seperti itu. Salah apa aku? Setahuku, aku tak pernah ngapa-ngapain dengannya. Aku tidak pernah menceritakan kalau aku suka dengannya pada orang lain.
Sudahlah! Memang dari awal tak seharusnya aku mengenal dia. Tak seharusnya aku dekat dengan dia jika hanya ini yang aku dapatkan. Sakit hati sekali. Ini melebihi sakitnya, saat aku tahu bahwa Damar, adikku koma di rumah sakit. Perih sekali.
Sudah 2 tahun aku masih memendam perasaan ini. Tak mengharapkan apa-apa sebenarnya, mungkin hanya membuang waktuku saja, untuk orang yang tak sepenting dia. Tapi, kalau sudah sayang? Haaah! Hanya membuat sesak jika mengingat itu.
Ini sudah tahun ke-3 aku memendam rasa kepadanya. Ya! Selama ini hanya dia seorang laki-laki di hidupku selain Ayah. Setiap teman yang lain menceritakan cowok baru atau entahlah selingkuhan atau apapun itu. Aku hanya menceritakan dia. Hanya dia tak ada yang lain. Tanpa ku beri tahu namanya kepada teman-temanku.
Coba bayangkan? 3 tahun bukankah waktu yang sangat lama? Kalau seorang bayi saja sudah bisa berlari-lari kencang. Ya. Sama seperti dia, sudah berlari-lari di pikiranku.
Tapi aku baru menyadari kembali. Temanku. Teman beda kelas tepatnya. Namanya Ami. Dia bilang kepadaku begini, “Fa, lo kenal Dwiqi? Dia bilang sadis banget tadi. Dia bilang katanya lo jangan ngaku-ngaku sebagai mantan dia! Dia gak suka sama cewek kayak lo. Jelek aja belagu.”
Tuhan! Aku ingin mengakhiri hidupku sekarang juga. Akhirnya, pada jam pelajaran Bu Radji guru Bahasa Indonesia aku menangis. Menangis yang hanya mengeluarkan air mata tanpa suara apapun. Aku terdiam dengan tatapan yang sangat kosong. Aku baru menyadari karena hal itu dia menjauh dari ku. Sesak sekali rasanya di fitnah oleh orang yang aku bangga-banggakan secara tidak langsung seperti itu. Mantan? Jangankan bilang mantan, aku bilang suka sekali sama kamu saja tidak ada yang tahu!
Kok kamu jahat banget sih? Kenapa? Oh. Mungkin memang aku bukan seleramu. Mungkin semua yang ada di diriku bukan pilihanmu. Oke. Aku terima, aku bakalan menjauh darimu. Lihat saja! Aku akan temukan yang terbaik dari mu. Sombong sekali mentang-mentang sekarang menjadi idola cewek-cewek di sekolah.
Akhirnya aku memutuskan. Memutuskan untuk menjauh darinya. Memutuskan untuk berlari ke ujung dunia. Memutuskan untuk mengakhiri perasaan ini. Terima kasih untuk semua yang kau berikan tentang arti bertahan karena yakinnya cintaku padamu, tapi hanya kau lukai perasaanku ini. Yang jelas, aku belajar arti bertahan darimu.
Jujur cinta itu memang membutuhkan waktu untuk tetap hidup. Dan sayangnya waktu itu tidak untuk aku dan kamu.
Load disqus comments

0 komentar