Jumat, 07 Februari 2014

Bendung Impor, Banyuwangi Pacu Pengembangan Buah Lokal

.
Kabupaten Banyuwangi terus menggenjot pengembangan buah lokal. Kabupaten berjuluk "The Sunrise of Java" ini memang dikenal sebagai salah satu basis hortikultura di Indonesia.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, sejumlah komoditas andalan antara lain buah naga, jeruk, dan manggis. "Saat ini buah impor membanjiri pasar Indonesia. Kita tak bisa tinggal diam. Gemari buah lokal agar petani sejahtera, ekonomi daerah bergerak," kata Anas saat melakukan panen buah naga di Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Selasa (5/2).
Anas mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah proteksi buah lokal. Di antaranya melarang buah impor disajikan di wilayah perkantoran Banyuwangi dan di dalam acara-acara di lingkungan Pemkab Banyuwangi. "Dengan demikian, pembelian buah lokal meningkat," ujarnya.
Selain itu, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi promosi buah lokal hingga ke luar daerah. "Pemkab juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti jalan-jalan di basis hortikultura hingga peningkatan nilai tambah komoditas hortikultura dengan memproduksi produk turunan dari buah segar," jelas Anas.
Saat ini, luas lahan perkebunan buah naga di Banyuwangi mencapai 678,8 hektar. Produktivitas tanaman buah yang juga diikenal sebagai buah dewa ini, per hektarnya mencapai 30 ton. Produksi buah naga pada 2013 mencapai 20.364 ton, meningkat dibanding 2012 sebesar 12.936 ton.
Anas mengatakan, buah naga asal Banyuwangi telah memenuhi pasar Surabaya, Jakarta, dan Bali. Besarnya produksi buah naga itu juga mampu mendongkrak pendapatan petani. Ditambah, harga buah naga di pasaran lebih terkontrol karena buah naga lebih tahan lama jika dibandingkan dengan komoditas lain seperti cabai atau tomat. 
“Peningkatan penghasilan petani buah naga sangat luar biasa. Jika harganya Rp. 10.000 per kilogram, coba berapa yang dihasilkan jika satu hektar menghasilkan 30 ton,” tutur Bupati.
Bupati Anas mengungkapkan, potensi buah naga juga dapat disinergikan dengan program agro-tourism. Travel agent bisa membangun komunikasi dengan petani agar bisa bekerja sama pada saat musim panen buah naga. "Misalnya setelah dari Pantai Pulau Merah, wisatawan dapat dibawa ke sini untuk memetik langsung buah naga dan menikmatinya. Saya akan dorong konsep semacam ini," tambahnya.
Anas menambahkan, produksi komoditas lain seperti jeruk juga meningkat pesat. Pada 2012, produksi jeruk mencapai 140.602 ton, lalu meningkat pesat menjadi 222.804 ton pada 2013. "Komoditas hortikultura lokal harus juara. Kita bukannya anti-asing, tapi dalam konteks penguatan petani, pemerintah daerah harus ambil sikap. Banyuwangi ada di garda depan proteksi buah lokal. Ini harga mati," kata Anas.
 
Sumber: http://www.jpnn.com/
Load disqus comments

0 komentar