Sabtu, 08 Februari 2014

APAKAH WANGSA ARYA LELUHUR ORANG BANYUWANGI ?



Sejak kecil saya telah diberitahu oleh mbah saya, ayah saya, dan Kakek Lilir seorang sepuh dari Paiton, orang “pintar” ,penyembuh orang  sakit( pada tahun 1950an di Banyuwangi tidak ada dokter dikota Kawedanan), bahwa leluhur orang Banyuwangi adalah orang seperti Kakek Lilir, Kakeek Latief, dan orang yang berperawakan seperti beliau, tinggi besar , kukuh , sawo matang, berhidung mancung dan perempuannya seperti mbah wadon (nenek) ,langsing, berhidung mbangir ( mancung kecil) . Dan saya bertemu banyak orang seperti itu pada saat kecil . Laki lakinya berikat kepala yang mengarah kebawah ( perhatikan lukisan Mr Bonet, yang melukis panorama Panen zaman 30an , terutama lelaki berudeng/tutup kepala kebawah)  dan perempuannya tidak lepas memakan sirih. Tidak hanya itu, ayah saya ,telah mengenalkan petilasan leluhur Banyuwangi, patung watu kebo , di halaman S.D Watu Kebo lama, Watu loso di Alasmalang, Watu Kenong ( Batu berbentuk gamelan kenong) di Paiton, Sitinggil di Muncar dan banyak tempat , yang kebanyakan berbentuk batu halus ( Dolmen?).Tetapi belum pernah ke Macan Putih, karena sangat angker.
Oleh karena itu saya selalu menaruh minat yang besar untuk membaca dan mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Banyuwangi. dan  saya mulai menghimpun data tentang Banyuwang, baik mengenai adat, sejarah maupun pernak perniknya.Menyadari bahwa saya bukan ahli sejarah , saya hanya mencatat , menyimpan catatan tersebut.Tetapi ketika saya menjadi facebooker, melihat adik2 yang begitu antusias membicarakan Banyuwangi , adat istiadat, kesenian,saya beranggapan , saya perlu mereconstruksi ingatan dan catatan saya tentang leluhur Banyuwangi.
Apalagi ada kepedihan dalam hati saya , ketika menemukan tulisan Sir Stanford Rafless dalam Hystory of Java yang menulis sbb:
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.
Dan pada kenyataannya , perawakan orang Banyuwangi seperti yang saya temui waktu kecil , semakin menghilang dari tanah Banyuwangi..
Mereka yang teguh memegang Bahasa , Tradisi , Adat , Kebudayaan
Bisa dibayangkan betapa luar biasanya daya tahan manusia Blambangan ini, karena pembunuhan yang luar biasa itu  ,dari tanah seluas 10.ooo km persegi hanya tinggal 140 desa (Thomas Stanford Raffless. Hystory Of Java. (618) Mereka digiring dari Lumajang , Jember, Bondowoso , Situbondo, menuju Banyuwangi.  Yang tak tergiring menuju Banyuwangi , samapai tahun 60an masih exist, dalam kelompok kecil. Dan pada tahun 60an , kami masih mendapati hubungan kekeluargaan. Tetangga saya memiliki saudara di Puger. Ada juga yang berhubungan dengan orang di Panarukan. Tetapi  sebagian besar telah lenyap penghuninya , dan di seratus empat puluh desa  yang tercatat pada tahun 1811 kadang kadang hanya 4 orang penghuni  , terdiri satu orang ibu , dua orang anak perempuan , dan satu anak laki laki. Mereka terhimpun pada daerah yang kita kenal kemudian Segitiga Emas Ibu Nagari Blambangan yaitu Bayu ( ibu kota kerajaan Blambangan tahun 1659 sd 1665), Macan Putih ( 1665 sd 1774) dan Kota Lateng ( 1697 sd 1774). Mereka terdiri dari rakyat sedang para bangsawan habis  terkena operasi Tumpas Kelor ( DIBUNUH SAMPAI HABIS) atau melarikan diri ke Madura atau ke Bali. Mereka inilah penjaga bahasa , tradisi , adat dan kesenian.  Karena itu bahasa wong Blambangan di Banyuwangi adalah bahasa Jawa kuno rakyat tetapi kadang campur dengan kromo. Sebutan saya dalam bahasa Blambangan adalah Isun dari Jawa kuno Ingsun, Kamu , bahasa Blambangan adalah Siro. Dalam kekurangan dan penindasan Belanda dan anteknya mereka tetap exist. Pemerintahan Raffless , Inggris mereka menikmati kesempatan hidup bebas. Apalagi Raffless membangun jalan kerajaan Blambangan yang dihapuskan oleh Belanda , ( I Made Sudjana MA . Nagari tawon Madu 93). Hasil pertanian mereka ditampung di pabrik beras yang antara lain didirikan di Gladak . Rafflees memberi kesempatan terjadinya perkawinan campuran , baik dengan para pendatang dari jajahan Inggris maupun pendatang dari Nusantara. Perkawinan campuran ini ternyata tidak menghapuskan bahasa mereka, bahasa Jawa kuno tetap terpelihara walau kosa katanya tidak lengkap . Karena kebaikan Inggris , maka tidak herana mereka menyambutnya ,sehingga bahasa Inggris masuk dalam kosa kata mereka, begitu juga kosakata Nusantara lainnya. tetapi karena perasaan sakit yang mendalam pada Belanda , kosa kata ini tidak didapati dalam bahasa Blambvangan.Lebih dari itu  Bahasa Blambangan  sampai tahun 1970 , menjadi lingua franca di Kabupaten Banyuwangi.
Keadaan merdeka pada masa Inggris ternyata menjadi malapetaka pada masa Belanda. Belanda dan anteknya melancarkan yang menurut DR. ( Leiden)Sri Margana ( dosen Sejarah UGM )  sebagi DELEGIMITASI dan SINISME. Mereka mempropagandakan cerita Damarwulan dan Menakjinggo.  Menakjinggo raja Blambangan digambarkan dengan segala keburukan manusia. Sebagai raja raksana, berasal dari anjing , pincang , buta sebelah, dan bicaranya pelo. Lebih dari itu , sebagai raja buruk rupa dia menginginkan menikah dengan Ratu Kencana Wungu , Prabu Majapahit . Kemudian juga dikembangkan bahwa kerajaan Blambangan adalah kerjaan kecil yang rapuh dan menjadi jajahan Bali.  Maka dibuatlah cerita Damarwulan , Menakjinggo dalam versi Bali. Padahal berdasarkan penelitian DR. Purwadi , cerita itu tidak dikenal di Bali. Karena   Cerita itu sepenuhnya adalah hasil karya pujangga Mataram. Dan para bupati Banyuwangi  yang berasal dari Mataram menggiatkan cerita itu, dengan tujuan mengadu domba dengan wong Blambangan dan wong Bali.
Namun wong Blambangan , menandinginya dengan mempertahankan budaya dan kesenian yang bersumber dari masa Jaya Blambangan , yaitu Angklung, Gandrung , dan kesenian yang berciri islam yaitu Mocoan , Terbang Kuntul  , dan Maulud Nabi dengan Kembang Maulid.. Maka keteguhan pada adat, tradisi dan kesenian yang sangat mengagumkan ini, pasti hanya dimiliki oleh orang yang memliki sejarah yang amat panjang , dan teruji.  Siapakah mereka.
PERANG PAREGREG MENBUKA FAKTA.
Ketika saya membaca  tulisan Prof DR Slamaet MULYANA. tentang Perang Paregreg, beliau menulisbahwa
.. ketika Wikrawardana mengachiri pemerintahan dengan menjadi Bhiksu ( Pendeta Budha), ternyata yang diangkat sebagi penggantinya adalah putrinya yaitu Dewi Suhita, dengan pemerintahan dewi Suhita ini maka berakhirlah pemerintahan wangsa Sanggramawijaya.(Wangsa Sanggramawijaya , adalah keturunan dari perkawinan Ken Dedes dan Ken Arok,  oleh Pramudya Ananta Toer , dideskripsikan sebagai brahmana, penganut Hindu Siva yang teguh,dan fisik berciri Arya).
Tentang  Perang Paregreg dapat diceritakan sebagai berikut ;
Ketika Prabu Hayamwuruk ( Rajasanagara)  wafat , maka Nararya Majapahit Kedaton Wetan ,Bhree Wirabhumi memiliki hak syach untuk menggantikan Prabu Rajasanagara karena dia telah menjandang gelar Bumi yaitu putra Mahkota . Tetapi Wikramawardhana yang pada saat itu menjadi Hakim Tinggi Majapahit, menolak pengangkatan itu , dan mengajukan istrinya Kusumawardhani ( putri Rajasanagara dari Permaisuri ) untuk menduduki tahta Majapahit. Pengangkatan ini sebenarnya sekedar siasat agar dia bisa mengambil alih kekuasaan Majapahit. Karena dia tahu pasti Kusumawardhani hanya ibu rumah tangga bukan Negarawan.Ketika Kusumawardhani tidak mampu memerintah, maka dengan cepat Wikramawardhana bersama anak2 dari selirnya ( yang istri simpanan sebelum kawin dengan Kusumawarhani, jadi dia waktu kawin dengan Kusumawardhani berbohong mengaku jejaka). Inilah yang mengakibatkan Perang Paregreg Pertama. Perang ini sebenarnya dimenangkan oleh Bhree Wirabhumi, tetapi sekali lagi Wikramawardhana berkelit menyerahkan kekuasaan kepada Suhita , putri dari Kusumawardhani. Waktu Suhita memerintah , Bhree Wirabhumi sekali lagi mengalah , karena diberi janji setelah Suhita mangkat maka Bhree Wirabhumi yang akan menggantikan. Tetapi sebenarnya sekedar taktik liciksaja, karena ketika Suhita memerintah seluruh nak tiri Wikramawardhana telah memegang kekuasaan penting. Maka ketika Majapahit Kedaton Wetan mendapat pengakuan Kaisar Ming Yung Lho ( melalui Cheng HO), maka Majapahit Kedaton Wetan dianggap membangkang dan diserbu oleh Majapahit. Bhree Wirabhumi kalah tetapi Suhitapun kehilangan kekuasaan , dan putra selir Wikramawardhana , Kertawijaya memegang kekuasaan . Kertawijaya mendirikan wangsa Brawijaya, wangsa inilah yang bermusuhan dengan Blambangan ( Lamajang Tigang Juru / Majapahit Kedaton Wetan ) . Wangsa ini diduga memberi nama Rajasanagara menjadi Hayamwuruk ( Ayam Jago ,aduan ) untuk mengaburkan darah leluhur Bhree Wirabhumi sekaligus sebagai ejekan.
Dari segi silsilahpun  Bhree Wirabhumi mempunyai kedudukan yang kuat.Meskipun dia putra dari selir, tetapi ibunya adalah darah biru Kedaton Wetan,  dan dia diangkat  anak  Bhree Daha, pewaris sah dari Ken Arok dan Ken Dedes. Selain itu  permaisuri Bhree Wirabhumi adalah Bhree Lasem putri  dari adik Hayamwuruk Sri Wardhaniduhitateswari dan Bhree Pagunan ( Singhawarhana).
Negeri ini juga  dicatat sebagai kerajaan Hindu  yang kuat karena  gunung yang disucikan oleh penganut Hindu terletak  di kawasan ini yaitu G. Semeru,seperti dikemukakan Prof DR Drs I.Ketut Riana S.U dalam larasan Negara Kertagama :
Kemuliaan Beliau ( Prabu Hayamwuruk) disejajarkan dengan Sang Hyang Giri Nata , diyakini bersemayam di puncak gunung Semeru , yang dianggap dewanya semua dewa serta amat gaib dialam ini ,bahkan menguasai alam jagat raya. (32).


Lukisan desa Blambanga, dengan latar belakang g. Semeru oleh Abraham Salam 1867 1872
Keberadaan Gunung yang disucikan itu didaerah ini juga menunjukan adanya ras yang dihormati oleh orang Hindu ditempat ini . Oleh karena itu, ketika prabu Hayamwuruk mendapat putra tunggal dari selirnya di Blambangan, maka putra tunggalnya ini didudukan sebagai adipati Blambangan yang dikenal dalam sejarah sebagai Bhree Wirabhumi/Menakjinggo.Dengan demikian ,sejak masa Bhree Wirabhumi maka yang memerintah Blambangan adalah wangsa Sanggramawijaya ( keturunan dari R.Wijaya), yaitu wangsa yang berasal dari keturunan Ken Dedes dan Ken Arok ( wangsa Isyana) , dan apabila dilacak jauh ke abad ke tujuh , maka inilah darah Arya yang mendirikan candi Prambanan, seperti terebut dalam kutipan dibawah ini.
  •  ……Jenggala dan Kahuripan Singosari sebagai tlatah  Prabu Dandang Gendis ,yang konon anak sulung dari prabu Gathayu dari Prambanan ( Jawa tengah) [5]
  •  Tentang orang orang asing di Java bhumi( pada abad ke tujuh pada masa Sanjaya membangun Prambanan) , periksa prasasti Kaladi (909) selain orang Kling Drawida , dari India terdapat juga  ARYA
SIAPAKAH WANGSA SANGGRAMAWIJAYA
Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja raja Majapahit  yang berasal dari keturunan  Dewi Sanggramawijaya atau Resi Dewi Keli Suci. Beliau menolak mewarisi tahta dari Prabu Erlangga ( 1010 sd 1014) dan menyingkir dari istana menjadi pertapa. . Karena itulah kemudian Airlangga menyerahkan tahta kepada dua putra dari selirnya yaitu Lembu Amisena ( Raja Kediri /dhaha) dan Lembu Amiluhur ( Raja Jenggala).Dari darah beliau lahir  Ken Dedes seorang cicitnya putra mpu Parwa dinikahi Tunggul Ametung   , seorang akuwu ( bupati) Tumapel Singosari. Pernikahan ini adalah sebuah penghinaan terhadap darah Sanggramawijaya karena Tunggul Ametung tidak berdarah Brahmana . Dan raja Singosari sebagai darah/keturunan  Airlangga tidak berbuat apapun, sehingga memicu kemarahan para Brahmana ( dibawah pimpinan Pendeta Lohgawe) . Karena itulah  Pendeta Lohgawe memberi restu kepada Ken Arok  seorang pemimpin pemberontak terhadap Tunggul Ametung.
Pramudya Ananta Toer mendeskripsikan , tentang kelompok Hindu Siwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya
Maka wajarlah Hayamwuruk raja Agung Majapahit, sebagai seorang Arya ,  yang diagungkan  sebagai Syiwa di bumi sangat menjaga darah Aryanya , oleh karena itu Bhree Wirabhumi  disandingkan  dengan  putri yang cantik jelita yaitu Sang Sri Nagara Wardhani yaitu putri Bhree Lasem ( adik kandung Prabu Hayamwuruk) yang bersuamikan seorang Adipati Manahun, bangsawan  yang  tampan ,pemberani, ahli dalam politik.
Mpu Prapanca dalam Nagara Krtagama mengungkapkan.
  • Bait 14.Tentang  mertua Bhree Wirabhumi
Ipar Baginda Raja semua telah bertahta menjadi raja,
Raja Matahun suami Rani Lasem ( adik Prabu Hayamwuruk) seorang pemberani
Baginda Sri Rajasa Wardhana terkenal tampan, mahir dalam politik
Bagaikan Smara Pinggala , pernikahan Baginda terpuji dalam negeri
  • Bait 16. Tentang Bhree Wirabhumi dan permaisurinya.
Adapun putra Baginda Raja yang bertahta di Wira Bhumi
Sang Sri Nagara Wardhani (putri Bhre Lasem , permaisuri Bhree Wirabhumi)) seorang maharani molek tak bertara .
(untuk lebih jelasnya lihat Geneologi KERTHA RAJASA, hal 73)
Disamping masalah tahta  pada masa  Wikramardhana, para pendeta Hindu mulai disingkirkan dari Keraton Majapahit ( NEGARAKERTAGAMA) sedang Bhree Wirabhumi berdasar darah dan keturunan adalah penganut Hindu yang kuat .
Maka jika ditinjau dari uraian diatas maka PERANG PAREGREG  memiliki alasan sebagai berikut
1.    BHRE WIRABHUMI menuntut hak sebagai pewaris yang sah ,sebagai keturunan Prabu Hayamwuruk ,
2.    BHREE WIRABHUMI menjaga kehormatan wangsa Sanggramawijaya, pewaris Arya ,penganut Hindu yang teguh.
Sejarah membuktikan , kerajaan Blambangan , adalah kerajaan Hindu  yang kuat  tetapi juga menerima Islam dengan tangan terbuka.  Cucu Bhree Wirabhumi , Sekar Dalu , disembuhkan dari sakit dan dipersunting Syech Maulana Ishak , Wali Lanang ( Lelaning Jagat ) , karena belaiu adalah guru Wali Sanga. Putranya juga pemimpin Wali Sanga  yaitu Sunan Giri. Dengan demikian wong Blambangan adalah orang yang sangat religious. Kuat dalam agama. Dia akan menjadi Hindu  yang baik atau menjadi Islam yang baik. Di Blambangan tidak ada sinkritisme , yang ada adalah Acculturasi. Kesenian dan kebudayaan adalah paduan dari kekuatan pemeluk teguh. Bukan Bali dan Bukan Jawa.
DR Sri Margana yang  mengambil Doktor di Universitas Leiden , Belanda dengan disertasi  “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September. Pendapat itu membuka fakta baru tentang kerajaan Blambangan sebagai berikut;
1.    Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18,atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.
2.    Kerajaan Blambangan , dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota  kerajaan sampai 6 (enam) kali.(Lumajang, Panarukan , Kedawung /Jember, Macan Putih, Ulupampang,Lateng/Banyuwangi)
3.    Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga  dapat membendung serangan Kerajaan Demak,dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639,1648,1665
4.    Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan  yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 sd 1692.
5.Sebagai Arya juga terbukti pada teguhnya keyakinan pada agama Hindu  ketika Blambangan mencapai puncak kejayaan dibawah prabu Tawangalun abad ke 17 . Pada saat beliau wafat  dan diperabukan sebanyak 270 istrinya dari jumlah 400 orang mengikuti upacara Sati. Sehingga menurut DR Sri Margana  merupakan Sati   terbesar  sepanjang sejarah kerajaan Hindu di Indonesia
6.    Perang Pangeran Jagapati/Puputan Bayu   adalah perang yang tersadis dalam sejarah perang di Indonesia. Tubuh dan kepala para prajurit yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng.Lumbung padi dibakar, sehingga rakyat kelaparan dan disusul merebaknya wabah penyakit.
7.    DR. Sri Margana juga menyampaikan, ada mitos yang berkembang di Mataram saat itu ( sekitar abad 18 ) , bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap senjata. Oleh karena itu dijadikan percobaan untuk menguji senjata Jika keris maupun tombak dapat membunuh prajurit Blambangan, maka senjata tersebut dinyatakan sakti dan layak dipakai perang.
8.    Daya tahan kerajaan Blambangan , terutama karena keandalan rakyatnya dan strategy perangnya.
9.Sebagai Arya juga terbukti pada teguhnya keyakinan pada agama Hindu  ketika Blambangan mencapai puncak kejayaan dibawah prabu Tawangalun abad ke 17 . Pada saat beliau wafat  dan diperabukan sebanyak 270 istrinya dari jumlah 400 orang mengikuti upacara Sati. Sehingga menurut DR Sri Margana  merupakan Sati   terbesar  sepanjang sejarah kerajaan Hindu di Indonesia
Untuk menjaga kesinambungan keyakinan ini, maka tidak heran para leluhur wong Blambangan mewariskan legenda Sri Tanjung dan Pangeran Sidopekso , dan adat istiadat upacara Kebo Kebo an,symbol adat berupa dua kepala NAga Gatutkoco adalah candra sengkala pada masa pemerintahan kembar di Singosari antara keturunan Ken Arokdengan Ken Dedes dan ken Umang , kesenian  Angklung,,  gandrung dsbnya.
Oleh karena itu legenda tersebut seharusnya difahami tidak hanya cerita tentang terjadinya kota Banyuwangi, tetapi  sebagai pesan leluhur Blambangan bahwa wong Blambangan memiliki hubungan darah dengan kerajaan Hindu  Singosari, karena legenda Sri Tanjung tersebut terukir pada dinding bagian tenggara Candi Surosowo  di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Juga adat Kebo kebo an yang pada  sekitar sebelum tahun 50an berlaku luas di daerah segi tiga emas ( Golden Triangle ibukota terakhir Blambangan, Bayu, Macan Putih, Kota Lateng) serta adanya patung kebo dibeberapa daerah ( Watukebo, Aliyan) menjadi bukti bahwa masyarakat Blambangan di Banyuwangi sangat menghormati lambang kebesaran kerajaan BLAMBANGAN yang selalu muncul dalam arakarakan persembahan pada Istana Majapahit  seperti tersebut pada Negara Krtagama
Tanda tanda kebesaran ;bait 71.
Baginda Raja Matahun mempersembahkan arca lembu putih seperti Nandini
Lembu itu mengeluarkan uang dan makanan dari mulutnya tak putus putus sangat mengag
Dari uraian diatas kita bisa menarik kesimpulan, bahwa raja raja  Blambangan memiliki ciri ciri sebagai Arya yang dideskripsikan oleh Pramudya Ananta Toer. Bukti lain adalah nama Lurah Blambangan  pada abad ke 18, masih sama dengan nama yang berlaku pada zaman Singosari.
Adakah Blambangan memiliki hubungan dengan Singosari
Negeri ini adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa.Blambangan bermula dari suatu daerah yang dibentuk oleh raja besar Singasari , yaitu raja Wisnuwardhana putra Prabu Airlangga  . Dalam prasasti Mula Malurung ( 1225 Masehi) raja Wisnuwardhana dalam mewujudkan doktrinnya  CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa., mengangkat delapan Narariya  atau raja bawahan, dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang.
Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat besar putra Wisnuwardhana ,   Kertannegara , sehingga  mendeklarasikan doktrin Pamalayu yaitu  tekad Singosari untuk tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah ,meluas sampai tanah Melayu.Doktrine ini yang oleh DR. Moch Yamin sebagai cikal bakal  doktrine Nusantara atau  Negara Kesatuan Republik Indonesia.Demikian juga diakui oleh sejarahwan Amerika John Man.
Ketika Singosari direbut oleh Jayakatwang dan kemudian dikuasai pasukan KU BILAI KHAN, menantu Kertanegara R.Wijaya  meminta bantuan pada Aria Wiraraja. Arya Wiraraja  semasa mudanya pernah mengabdi pada Narasingamurthi , kakek R. Wijaya. Persekutuan ini berhasil mengusir pasukan KuBilai Khan dari Singosari.
Ketika R. Wijaya mendirikan Majapahit , maka daerah Lamajang dan Tigang Juru diserahkan kepada Arya Wiraraja sebagai daerah pardikan , tetapi tetap sebagai bagian Majapahit( Prasasti Kudadu 1294). Daerah Tigang  Juru adalah daerah yang mencakup Ujung Timur pulau Jawa ( Jember, Situbondo , Bondowoso, Banyuwangi ). Mencakup luas 10 ribu kilometter. Dan Arya Wiraraja mendapat gelar Rakyan Mantri Arya Wiraraja. Hubungan kedua daerah ini mengalami pasang surut.Ketika bersatu dapat membangun kejayaan Majapahit, ketika kisruh maka  pamor Majapahit merosot.Kisruh pertama dengan Blambangan adalah ketika pemberontakan Ronggolawe, putra Arya Wiraraja . Pemberontakan ini dipicu ketika para adipati veteran perang dengan Ku Bilai Khan disingkirkan untuk memuluskan pengangkatan Jayanegara, putra dari Dara Petak, yang tidak mengetahui perjoangan mendirikan Majapahit. Perang ini terus berlangsung ketika Jayanegara bertindak sewenang wenang pada para adipati pahlawan perang dengan KU BILAI KHAN .  Menyadari hal ini kemudian Rajasanagara mempersunting putri Blambangan ketika Gajah Mada mendeklarasikan sumpah Palapa , yang akan menyatukan seluruh Nusantara. Perkawinan antara prabu Rajasanagara  dengan putri Blambangan ini melahirkan  putra  dan merupakan putra satu satunya keturunan Hayamwuruk , sedang dengan permaisuri lahir putri semuanya. Oleh karena itulah kemudian putranya ini ditetapkan seorang putra mahkota *( Bumi) , dan bergelar Bhree Wira Bhumi.  Perkawinan inilah yang menyatukan Arya di tanah Blambangan.
Dalam buku AIRLANGGA , Biografie Raja Pembaru Jawa Abad xi, DR. Ninie Susanti pada hal 203 menulis ….Satu hal lagi , tak seorangpun raja Kadiri memakai cap Garudamukha yang sampai saat ini ini masih  memberi petunjuk tentang kedekatan hubungan dengan prabu Airlangga . Yang dimaksud cap Garuda Mukha adalah seperti ini

Lambang Garudamukha  ternyata melekat pada kerajaan Blambangan , walaupun keturunannya yang telah masuk Islam ,yaitu
walinya para wali yaitu  Sunan Giri sampai Prabu Tawang Alun di istana Macan Putih seperti nampak pada petilasan Macan Putih dibawah ini
 
 
Garuda Mukha ini juga yang saat ini nampak   pada Gamelan Angklung Caruk Banyuwangi
KAPAN ARYA DATANG KE NUSANTARA
Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa ( Pulau Jawa) ,sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya , sebenarnya berasal dari Jambudwipa ( India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Siwa) dan candi Borobudur.( Budha) .Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Siwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Siwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana) , maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syaelendra, Singhasari, Majapahit , Blambangan dan Bali
Kelompok Arya yang tersudut dan minoritas di Blambangan
Pada tahun 1750an , The Great Britain menjalin hubungan dengan Blambangan, untuk menggunakan pelabuhan Bayu alit sebagai pelabuhan persinggahan kapal perang dan dagang Inggris untuk pelayaran ke Australia, yang saat itu sedang dalam tahap exploitasi besar besaran. Dan pada tahun 1757, tanpa sepengetahuan Blambangan , kerajaan Mataram Surakarta menyerahkan Blambangan  kepada VOC, sebagai bagian balas budi dan pembayaran hutang , seperti trecantum dalam perjanjian Giyanti.( Baca keterlibatan Inggris dalam Perang Blambangan)
Kini dua musuh besar sedang berhadapan Inggris bermusuhan dengan Belanda , Blambangan dengan Mataram Surakarta.Blambangan bersekutu dengan Inggris melawan Surakarta yang bersekutu dengan Belanda. Maka terjadilah perang dahsyat yang menelan biaya 80 ton emas. Perang dahsyat ini , melibatkan kapal perang Inggris , persenjataan Inggris  serta 4000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali , China,dan Bugis  yang terlatih perang dengan Belanda yang bersekutu dengan Matraman Surakarta, dengan bantuan ratusan kapal dari Madura dalam satu perang frontal yang amat dahsyat  baik didarat maupun dilaut.  Maka tidak aneh sejak Belanda menang dalam perang ini melakukan pembunuhan besar besaran pada rakyat Blambangan seperti diampaikan  , Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya : History Of Java “ ( lihat kutipan diatas )
Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Local (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan ( Serat Kanda, serat Blambangan, Serat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan.)
Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.
Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,( ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan , para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.
Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil, dan penulis hanya menjumpai mereka yang sudah tua pada tahun 1950an.
Semakin hilangnya perawakan Arya di Banyuwangi  saat ini karena setelah pembunuhan besar besaran  dan pada zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan exclusive mereka , dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.
Kesimpulan

 Wajah 2 yang akrab dijumpai penulis pada tahun 50an , begitu juga kain kemben yang dipakai.

Mbak Surangganti , salah satu leluhur wong Blambangan
Itulah leluhur kita orang Banyuwangi, ras Arya yang telah menempuh perjalanan panjang dibumi Jawadwipa Sebagian telah pindah ke Bali, sebagian terbunuh dalam Perang Puputan Bayu, dan lebih banyak lagi yang mati karena desolating system Belanda Sebagian masih tinggal di Banyuwangi ,dalam jumlah kecil dan terpencar dalam diam dan sunyi dan kemudian kawin dengan para pendatang. Saya pernah menggapai tangannya dan berada dalam pangkuannya…Kakek Lilir , kakekek Latief , dan orang yang berudeng batik yang menjurai kebawah, tubuh kekar , kulit sawo matang, mata tajam , hidung agak mancung dan perempuan yang langsing , hidung bangir, warna kulit lebih cerah, dengan peninggalan watu loso, watu kebo, watu kenong
Meninggalkan exclusivenya, menjadi Pluralis , tetapi tetap teguh pada nilai yang disabdakan raja agung Blambangan terakhir yaitu Susuhunan Tawangalun yaitu KALOKA ( LUAS PANDANGAN ATAU VISIONER, PRAWIRA , WIBAWA, BERBAHASA ( iNTERPERSONAL aPROACH), begitu juga Kreativitasnya dalam kebudayaan dan kesenian tidak pernah punah seperti ketika dia hadir dulu di bumi Jawadwipa, dalam pendirian candi2 , karya satra Ramayana, Bharatayuda, Arjuna Wiwaha,NegaraKertagama, Sri Tanjung yang terpahat di candi candi yang tersebar dari jejaknya mulai dari wangsa Sanjaya sampai Prabu Tawangalun .
Mudah2an kita mampu memeliharan Nilai2 tersebut.
Catatan;
  1. Pakar Genetika Robert Gelhem, pemimpin di Albert Einstain College. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen.  Genocida telah menyisakan sedikit laki laki tua dan kebanyakan wanita dan anak… sehingga wajah wajah itu semakin lebur dengan wajah mayoritas. Sebagai contoh, keturunan Belanda yg sampai saat ini, masih menggunakan nama  fam ,seperti Van Houten  pemain Band juga mulai kehilangan wajah Belandanya, demikian juga keturunan Portugis di India, yang sampai saat ini menggunakan nama fam, juga telah sama dengan wajah India, contok Fernandes, CEO Air Asia.
  2. Sebuah penelitian yang dilakukan di New York malah menemukan hasil yang mencengangkan . Penelitian kumpulan ras di New York , ternyata bangsa yang sama belum tentu berasal dari Gen yang sama . Contoh dua orang Thailand yang bekerja di New York , meskipun memiliki wajah yang sama ( Tipe Mongolid) , ternyata salah seorang Gen nya malah sama dengan orang dari Turki ( BBC Knowledge Jan 2013)
  3. Nama nama Lurah pada abad 17 sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu, dan catatan sensus penduduk oleh VOC seperti ditulis Dr( Leiden) Sri Margana dalam Java Last Frontier , masih sama dengan nama yg biasa digunakan pada masa Singosari, padahal nama nama itu tidak biasa digunakandi Mataram dan wilayah kekuasaannya
    Dhadhap (Kidang Wulung),= Dadapan
    Rewah-Sanji (Kidang Wulung),=
Suba/Kuwu (Kidang Wulung), =Sobo
Songgon (Ki Sapi Gemarang), = Songgon
Tulah (Ki Lempu Putih), =
Kadhu (Ki Sidamarga), =
Derwana (Ki Kendit Mimang),=Derwono
Mumbul (Ki Rujak Sentul),=
Tembelang (Ki Lembupasangan), =Tembelang
Bareng (Ki Kuda Kedhapan),=Bareng
Balungbang (Ki Sumur Gumuling), =Belumbang
Lemahbang (Ki Suranata),= Lemahbang
Gitik (Ki Rujak Watu),= Gitik
Banglor (Ki Suragati),=
Labancina (Ki Rujak Sinte),=Labancina
Kabat (Ki Pandholan),= Kabat
Kapongpongan (Ki Kamengan),=Popongan
Welaran ( Ki Jeladri),=Welaran ( Banyuwangi  Jln Panderejo ?)
Tambong (Ki Reksa), = Tambong
Bayalangun (Ki Sukanandi), =Boyolangu
Desa Penataban (Ki Singadulan),= Penataban
Majarata (Ki Maesandanu),=Mojoroto
Cungking (Ki Jangkrik Suthil),= Cungking
Jelun (Ki Lembu Singa),= Jelun
Banjar (Ki Bakul).=
Desa Pegambuiran (Ki Serandil),=Gambiran ?
Ngandong (Ki Seja),= Andong
Cendana (Ki Kebo Waleri),=
Kebakan (Ki Kebo Waluratu),=
Cekar (Ki Gundol), =
Gagenteng (Ki Kudha Serati),= Genteng
Kadhal (Ki Jaran Sukah),=
Sembulung (Ki Gagak Sitra),= Sembulungan
Jajar (Ki Gajah Anguli), =Jajag
Benculuk (Ki Macan Jingga),Benculuk
Pelancahan (Ki Butangerik)=
Keradenan (Ki Jala Sutra),=Keradenan
Gelintang (Ki Maesagethuk), =
Grajagan (Ki Caranggesing).= Grajagan
Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan),=
Lalerangan (Ki Menjangan Kanin),=Larangan , sekarang bagian dusun Alasmalng
Mamelik (Ki Surya), = Melik
Papencan (Ki Bantheng Kanin),=
Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan),=
Repuwan (Ki Butānguri),=
Rerampan (Ki Kidang Bunto),=Rampan
Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).=Singolatren
Jongnila (Ki Gagakngalup)=
Konsul (Ki Maesasura).=
Bubuk (Ki Marga-Supana),= Gubuk
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=Gebang
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=
Gambor (Ki Bajuldahadhi),=Gambor
Gembelang (Ki Butakorean),=
Muncar (Ki Genok),=Muncar
Bama (Ki Baluran),= Bomo
Geladhag (Ki Margorupit), Gladag
Susuhan ( Ki Tambakboyo),=Susukan
Ngalian (Ki Kidang-Garingsing)=Alian
Tamansari (Ki Gajah Metha),=Tamansari
Danasuke (Ki Kebowadhuk),=Donosuko
Kalisuca (Ki Jaransari). =
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Prajnaparamita/Ken Dedes  ditemukan di Singhasari
 
 

  • Raja Sindok
  • Sri Isana Tunggawijaya
  • Makuta wangsawardhana
  • Sri Dharmawangsa
  • Airlangga
  • Dewi Kilisuci/Sanggramawijaya.
  • Mpu Withadarma
  • Mpu Bhajrastawa
  • Mpu Lempita
  • Mpu Gnijaya
  • Mpu Wiranatha
  • Mpu Purwantha
  • Ken Dedes + Ken Arok.
  • Mahisa Wonga Teleng
  • Mahisa Campaka
  • Lembutal
  • Rana Wijaya/Raden Wijaya
  • Tribuana Tunggadewi
  • Hayam Wuruk + Selir
  • Bhree Wirabhumi +  Kusumawardhani
Load disqus comments

0 komentar