Minggu, 05 Januari 2014

Ulat Anggur dan Mawar Putih


Dahulu kala di sebuah desa yang damai dengan raja dan ratu yang hidup di istananya yang besar hiduplah seorang putri yang amat cantik dan baik hati, jiwanya seputih kelopak melati yang baru bermekaran di pagi hari, juga sikapnya yang suci sebening embun yang menetes dari daun bunga lili.
Suatu pagi yang indah dengan sinar mentari yang masih malu-malu untuk nampak, juga suara-suara jangkrik yang mengiringi dinginnya embun pagi. Launa, sang putri yang cantik itu bersama beberapa pengawal kerajaan yang selalu menyertainya dikala ia berjalan-jalan di luar istana hanya untuk sekedar melihat-lihat rakyatnya yang selalu tunduk dan santun.
Setelah berjalan-jalan cukup jauh, mereka sampai di sebuah ladang anggur, dimana tinggal sepasang kakek dan nenek juga seorang anak laki-lakinya, Loki, yang rajin dan selalu membantu kedua orang tuanya itu menanam, merawat dan memanen anggur-anggur yang telah masak.
“bolehkah aku mencoba untuk memanen anggur-anggur itu wahai kakek dan nenek?” tanya tuan putri itu dengan segala kelembutan suaranya, “tentu dengan senang hati tuan putri bisa mencobanya” jawab si nenek diiringi senyum, begitu pula dengan si kakek.
Setelah matahari meninggi, dan panas mulai menyengat kulit, para pengawal pun mengajak tuan putri untuk kembali ke kerajaan, walaupun ia masih ingin berlama-lama bermain di luar. “bolehlah tuan putri datang kembali esok pagi untuk bermain dikala udara masih terasa sejuk sehingga sang mentari tidak akan menyengat kulit putih mu itu” kata Loki dengan sopannya.
Mereka pun kembali ke kerajaan, sesampainya disana dengan gembira hati atas pengalaman barunya, sang putri bercerita kepada ibu dan ayahnya tentang apa yang ia lakukan, tapi karena rasa khawatir akan terjadi apa-apa dengan anak satu-satunya itu, mereka tidak terlihat senang dengan apa yang dilakukan anaknya.
Keesokan pagi setelah sang bulan memudar dan burung mulai bernyanyi kembali, dengan tidak sabar, sang putri dan tidak lupa beberapa pengawalnya langsung menuju ladang anggur di selatan istana itu. Dengan senyum kakek nenek itu menyambutnya, disana sang putri belajar merawat dan memetik anggur.
Di sana juga ia bisa bercanda dan tertawa lepas dengan teman barunya, Loki yang baik hati. Ia juga sering bertukar cerita antara hidup di ladang dan di istana, tidur di ranjang kayu dan tidur di kasur yang empuk, makan roti dari gandum kualitas rendah, dan roti dari gandum pilihan terbaik.
Hari itu ia bermain sampai sore, pengawal-pengawalnya sudah ia suruh pulang terlebih dahulu, kini ia berjalan menuju istana di temani oleh Loki, temannya yang baik itu. Setelah sampai di istana, sang raja nampak menunggu putri tercintanya di depan gerbang, namun dengan wajah yang tampak tak senang. “apakah engkau memperlakukan putriku dengan sebaik-baiknya perlakuanmu, hai petani anggur?” tanya sang raja pada Loki, “dengan segala hormat yang mulia, bolehlah kiranya sang putri yang bercerita” jawabnya dengan sopan sambil membungkukkan tubuh. Setelah itu ia kembali ke perkebunan anggur tempat dimana ia tinggal.
Hari-hari yang dahulu terasa membosankan kini tak lagi dirasa setelah sang putri itu mengenal kakek dan nenek juga seorang anaknya yang berkerja sebagai petani anggur itu, ia bisa bermain, tertawa, bercerita, bahkan ia merasakan mempunyai keluarga baru yang benar-benar membuatnya hidup, tak seperti di istananya dimana ibu dan ayahnya selalu sibuk dengan takhta dan urusan kerajaan lainnya.
Tanpa disadari, setelah sekian bulan sang putri dan Loki si petani anggur itu selalu bersama mengisi hari-hari, cinta tumbuh di antara mereka, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dimana segala kebahagiaan dan rasa kangen selalu memaksa untuk tetap bersama, dimana siang dan malam adalah sama karena rindu yang meneranginya.
Namun cinta itu bukanlah sesuatu yang harus bisa di persatukan, apa lagi mereka adalah kedua insan yang bagaikan bumi juga matahari. Sang raja nampaknya tidak setuju jika putrinya yang dihormati seluruh rakyatnya itu ternyata menuai cinta dengan seorang anak dari petani anggur. “wahai putriku yang selalu aku sayangi, tidak kah kau tahu betapa terhormatnya dirimu? Dan bukankah kau mengerti apa yang bisa dilakukan seorang petani anggur yang tidak mempunyai apa-apa itu? Masih banyak diluar sana seorang pangeran pewaris takhta kekuasaan yang lebih besar dari istana ini yang bisa mencintaimu, juga menghidupi dirimu dan anak-anakmu kelak” kata raja sambil mondar-mandir di hadapan putrinya yang duduk tertunduk, “takhta tak pasti bisa membuat orang bahagia, tapi cinta selalu bersama kebahagiaan ketika ia menemui jalannya secara alami” jawabnya singkat lalu ia pun pergi menuju kamarnya.
Hari-hari kedepan, sang raja tak mengizinkan putrinya untuk keluar istana, dan seorang raja dari istana di seberang sana mengirim pesan untuk menjodohkan anak laki-lakinya dengan putri tercintanya itu, dengan senang hati iya menyetujuinya.
Hari itu, kabar tentang perjodohan sang putri mulai menyebar ke seluruh desa, juga Loki yang tak luput untuk mendengarnya dari orang-orang di pasar, tentang apa yang terjadi.
“rasa cinta ulat yang belum menjadi kupu-kupu kepada sekuncup mawar takkan bisa membuatnya mekar, nak” kata nenek petani anggur itu kepada anaknya yang sedang duduk menyendiri di bawah sinar sore.
Esok adalah hari pernikahan sang putri, semua penghuni istana sibuk mempersiapkan acara yang akan berlangsung meriah itu, sang putri meminta izin kepada ayahnya untuk keluar dari kamarnya dan menuju ladang anggur tempat dimana belahan hatinya tertinggal disana, tempat dimana janji-janji manis pernah diucapkan disana, di bawah bayang-bayang pohon anggur, hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.
“tidakkah engkau mencintaiku, Loki?” “aku mencintaimu dengan cinta yang kau tanamkan padaku” “tapi hari ini, dengan sepenuh-penuhnya maaf, bolehkah aku menebang apa yang telah aku tanam dalam hatimu sebelum api perpisahan membakar semuanya?” “tidak kah kau ingin mempertahankan apa yang telah tumbuh? Tidak ingin kah kau melihat ia berbunga lalu mekar dengan aroma wangi yang semerbak? Tidak kah kau biarkan aku berusaha untuk merawatnya, memperindahnya?” “dengan segala maaf, aku tak bisa, aku cinta padamu, tapi takdir berkata lain” kata sang putri sambil meninggalkan belahan jiwanya itu bersama pengawal-pengawalnya.
Pagi itu pernikahan dimulai, seluruh rakyat bersorak gembira, mereka bebas bersenang-senang hari ini dan melupakan semua pekerjaannya, ini adalah hari yang besar, namun tidak bagi si petani anggur, ia tersenyum tapi tetap tak bisa menikmati harumnya bunga dari pohon-pohon cinta yang pernah ia tanam di hatinya.
Semua rakyat datang ke istana untuk sekedar memberi ucapan, ada juga yang memberi sesuatu yang berharga yang mungkin bisa dipakai nantinya, begitu pun Loki, dengan setangkai mawar putih yang masih kuncup di tangannya. Sesampainya di hadapan sang putri ia berkata “tidaklah berguna ribuan batang kayu yang kutumpuk di halaman belakang, batu-batu yang ku pecah, juga atap-atap yang kubeli untuk kujadikan istana yang sama megahnya dengan milikmu hai tuan putri, Padahal semua ini hanya permasalahan waktu, namun kau menyerah begitu cepat, sehingga apa yang kita sebut cinta hanyalah kesia-sian belaka”
Sejenak waktu terasa berhenti, tanpa disadari air mata membasahi wajah cantik itu “jadi apa yang kau lakukan setiap hari, menebang pohon, memecahkan batu, juga hal-hal yang aku anggap tak berguna kemarin adalah untuk itu? Mengapa tidak kau katakan sebelum semua ini terjadi?” tanya tuan putri dengan suara gemetar, “rasa cinta ulat yang belum menjadi kupu-kupu kepada sekuncup mawar takkan bisa membuatnya mekar, maka biarkanlah kupu-kupu lain hinggap untuk memekarkan mawar yang tak bisa menunggu itu” kata Loki sambil tersenyum sebelum pergi meninggalkan sang putri.
Load disqus comments

0 komentar