Minggu, 05 Januari 2014

Tokyo


Pada jaman dahulu di sebuah desa di Jepang, hiduplah sebuah keluarga yang memiliki 2 orang anak perempuan yang sangat cantik, mereka bernama Sana & Nana. Orangtua mereka bekerja sebagai petani & nelayan. Sana adalah anak pertama, dan Nana adalah anak kedua. meskipun sama-sama cantik, tetapi Sana lebih cantik dibandingkan Nana karena ia memiliki rambut yang lebih panjang, lurus, hitam dan lebat di banding Nana, oleh karena itu, Sana sering di puji-puji di banding Nana yang hanya berambut seleher dan sedikit kemerah-merahan jika terkena cahaya matahari. hal ini tentunya membuat Nana semakin iri kepada kakaknya.
Suatu hari, orang tuanya menyuruh Sana untuk mencari ikan salmon di sungai, sementara orang tua mereka pergi melaut dan ke sawah. Nana yang tinggal di rumah pun memanfaatkan kesempatan ini, diam-diam ia mengikuti kakaknya. Sesampainya di Sungai, Sana pun segera mencari ikan. Arus sungai yang sangat deras dan batu-batu yang sangat licin membuat Sana harus berhati-hati mencari ikan. akan tetapi Nana yang dari tadi sudah mengikutinya itu pun segera mndorong Sana hingga jatuh ke Sungai. Arus yang deras dengan cepat membawa tubuh Sana. Nana dapat melihat tubuh kakaknya yang terbawa arus sungai dan rambut panjangnya yang terurai di air. Nana pun tersenyum lalu pergi meninggalkan sungai. Dalam perjalanannya, Nana merasa puas karena sekarang tidak ada lagi yang akan selalu di puji-puji melainkan dirinya yang paling cantik sama dengan kakaknya walaupun ia tidak memiliki rambut yang indah seperti kakaknya.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan lamanya tubuh Sana terbawa oleh arus sungai. Darahnya yang mengalir kini telah habis dan tubuhnya telah terpotong-potong karena terbentur oleh bebatuan. Kini, yang tersisa hanyalah kepalanya yang mukanya sudah hancur dan rambutnya yang tetap masih panjang. Kepala Sana pun akhirnya sampai ke laut dan ditemukan oleh seorang nelayan.Konon, penduduk Jepang percaya bahwa jika ada seseorang yang yang menemukan kepala manusia, maka ia akan memperoleh keuntungan dan juga bagi orang-orang yang menanyakan kepada kepala itu. Kemudian, kepala Sana itupun di bawa pulang ke rumah, dan kemudian di tunjukkan oleh keluarganya. Keluarga nelayan itu pun sangat terkejut & gembira melihat nelayan itu membawa kepala. Kemudian, istri nelayan itu pun bertanya kepada kepala itu,
“Wahai kepala, apakah kami akan menjadi kaya dan apakah aku akn mendapatkan perhiasan yang selama ini aku impikan?” kemudian, kepala itu menjawab dengan suara kecil,
“Tokyo.” dan ternyata, beberapa hari kemudian keluarga mereka benar-benar menjadi kaya dan istrinya mendapatkan perhiasan yang selama ini ia impikan. Berita tentang kepala itu pun akhirnya menyebar hingga ke beberapa tempat. Banyak orang-orang yang berdatangan dan bertanya keinginan mereka kepada kepala itu. Ada beberapa pertanyaan yang di jawab “Tokyo” dan ada pula yang tidak di jawab. Setiap pertanyaan yang di jawab memang akan benar-benar terwujud.
Berita itu pun akhirnya tersebar sampai ke telinga keluarga Sana yang selama ini telah berbulan-bulan mencarinya. Nana kini sudah menyesali perbuatannya. Mereka yakin bahwa kepala yang selama ini telah menjadi buah bibir masyarakat adalah kepala Sana, karena kepala itu ditemukan berbulan-bulan lamanya setelah hanyutnya Sana dan juga memiliki rambut panjang yang hitam pekat, persis seperti rambut Sana. Akhirnya, mereka pun pergi mendatangi desa nelayan tersebut. Sesampainya di sana, mereka mengatakan bahwa kepala itu adalah kepala milik anak sulungnya yang sudah hanyut berbulan-bulan lamanya. Mengetahui bahwa kepala Sana sedang di cari, keluarga nelayan dan orang-orang yang berada di desa itu menutup-nutupi keberadaan kepala itu. Akhirnya, Nana pun menyamar sebagai orang yang hendak menanyakan sesuatu kepada kepala itu. Nana pun mendatangi rumah nelayan tersebut kemudian bertanya,
“Hai Kepala, apakah aku akan mendapatkan semua yang aku impikan?”
kepala itu menjawab,
“Tokyo.”
“Hai kepala, apakah kau mempunyai keluarga?”
“Tokyo.”
“Apakah kau mempunyai adik?”
“Tokyo.”
“Apakah kau mati karena di bunuh?”
“Tokyo.”
“Siapa yang membunuhmu?”
“KAMU!”
Load disqus comments

0 komentar