Sabtu, 11 Januari 2014

Terpesona Olehmu Danau Toba


Awan putih bergumul gumul seperti kapas berarak santai lemah gemulai di langit. Sesekali matahari yang sedang mempertontonkan kekuatan sinarnya kesal karena tertutupi oleh awan. Dengan sedikit bantuan angin matahari mengusir pergi awan agar pergi sedikit saja lagi kearah kiri. Hingga matahari dapat senantiasa memperlihatkan otot otot kekar sinarnya berjalar-jalar hingga menusuk bumi Sebuah pertunjukan langit yang luar biasa sebenarnya, kalau aku sedang dalam kondisi hati yang biasa. Matahari jadi kecewa karena alpa tepuk tangan dariku, sunyi dari sorak sorai mulutku yang mengagumi ketampanan matahari. Maaf, hati ku kini sedang diselimuti kekecewaan tingkat Internasional. Sesuatu apa lagi yang dapat melebihi rasa kecewa ini jika dirimu, yup dirimu yang sedang asik asiknya menikmati pertemanan, sedang menanjak karirnya pada beberapa kegiatan ekskul di sekolah, menjadi seorang sekertaris osis, hang out di mall beberapa kali sebulan, lalu kemudian tiba tiba kesenangan itu diberangus dengan sebuah keputusan yang sungguh menyakitkan.
Apa lagi kalau bukan menyakitkan sobat? Ayahku yang seorang Dokter yang PNS, kini harus pindah tugas ke daerah terpencil nun jauh di pelosok entah mana. Dengan prinsip Ayah, makan tidak makan yang penting ngumpul, tentu saja adalah sebuah ilusi jika aku dibiarkan berada di sini, di Jakarta ini dan meneruskan sekolah di sini tanpa di ganggu oleh kepindahan Ayah, tentu saja sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, ia akan memboyong kami semua ke tempat di mana ia bertugas. Oh Ayah sayang, entah mengapa engkau tak berusaha membatalkan tugas ini demi menjaga mentalku Ayah. Demi menjaga stabilitas kejiwaanku yang mungkin saja bisa terganggu kalau-kalau aku dijauhkan dari semua teman-temanku dan di cerabut dari gegap gempitanya Mall dengan berbagai hiburan yang ditawarkannya. Bukankah bisa Ayah sedikit saja berkorban untuk menyerahkan uang agar Ayah tak jadi dipindahkan, hal ini kuketahui saat aku pernah beberapa kali menangkap pembicaraan, bahwa pindah tugas bisa dihindari dengan memberikan sejumlah uang pada seseorang yang dapat mengurusnya.
“Kepindahan ini Ayah yang minta Shafira.. sudahlah jangan merengek terus, tinggal di sana tak seburuk yang kau bayangkan”. Ucap Ayah tatkala kusarankan agar memakai tabunganku untuk menyogok pemerintah agar tak jadi dipindahkan.
Apanya yang tidak seburuk yang kubayangkan. Zikra, teman sekelasku, ia pindahan dari Pematang Siantar Sumatera Utara, Zikra dengan nyata menjelaskan daerah yang menjadi wilayah tugas Ayahku ini sangat dekat dengan tempat Ayahnya tugas saat ia SD dulu, Ayah Zikra seorang Pejabat Militer dengan jabatan tinggi yang pernah menjadi Komandan tertinggi di kota Roti itu. Kata Zikra desa yang menjadi tujuan kami ini berjarak hanya sekitar dua jam dari jantung kota Pematang Siantar. Masih di daerah tepi danau Toba, namun bukan di kota Parapat yang lumayan terkenal itu, tapi daerah tepi yang lain, sudut yang lain yang belum banyak di jamah manusia.
Aku bergidik ngeri karena Zikra bilang tak ada Mall, jangankan Mall mencari mini market kecil saja susah, yang ada hanyalah warung-warung kecil yang menjajakan makanan ala kadarnya untuk masyarakat sekitar dan juga beberapa wisatawan penikmat Danau Toba dalam view yang berbeda yang sering berkunjung di akhir minggu. Daerahnya kotor, orangnya galak dan suka marah marah.
“Di sana tuh ya, banyak orang Batak, kau taukan orang batak itu galaakk…!” tandasnya kejam tak peduli pada hatiku yang jadi menciut sebesar fosil amuba. Terbayang sudah teman temanku di sekolah nanti seperti apa. Menurut gossip yang beredar orang batak memang galak dan suka ngomong dalam volume yang poll dan kasar pula, bahkan di daerah pedalaman masih ada yang menjadikan manusia sebagai lauk makan sehari-hari. Apakah daging itu juga dicolekkan ke sambal terasi? Oh tidaaaakkk. Bulu kudukku tak henti hentinya menari tarian shuffle.
“Bundaaaa… Shafir ga mau pindaaahh!” rengekku suatu malam sambil memeluk Bundaku kuat kuat.
“Shafira, kau pasti akan terbiasa nantinya… tenang sajalah…”
“Terbiasa apanya bun? Maksud Bunda, terbiasa makan orang juga gitu..? enggaaaakk mauuu!”
“Hahahaha… kamu ini ngaco, udah tidur sana, besok Ayah dan Bunda mau kesekolahmu, urus surat pindahmu”
Aku masih menatap dari balik jendela kamarku yang sudah tidak bertirai lagi, tirainya sudah masuk dalam kotak dan sudah di bawa pergi bersama barang-barang lainnya oleh sebuah truk ekspedisi. Matahari masih coba tebar pesona, namun kini ia harus takluk oleh awan abu-abu yang mulai datang mengacau, bergulung gulung menyelimuti ketampanan sang matahari tanpa ampun. Langit yang cerah kini ubah jadi kehitaman. Sedikit gelap. Aduh galaunya matahari itu karena tak mampu mempertontonkan cahayanya lagi, sama galaunya dengan hatiku ini sobat.
“Shafira, Ayo nak, taksinya sudah datang tuh, nanti kita ketinggalan pesawat lho” Bunda menghampiriku, dengan lembut ia meletakkan kedua belah tangannya ke bahuku.
“Nanti pemandangan keluar kamarmu tak lagi hanya sekedar taman sempit ini, tapi sebuah danau terindah dan terluas yang terhembus namanya hingga ke manca Negara. Danau itulah menjadi temanmu bermain di halaman rumah kita nanti. Bukankah itu sungguh menyenangkan?”
“Benarkah itu bun?” tanyaku malas, karena aku yakin bunda hanya sedang berusaha menghapus gundahku saja.
“Tentu saja benar, yuk.”
Aku menurut kali ini, tak mungkin aku menjerit-jerit tak tentu arah di sini. Tapi lihat saja nanti, sampai di sana aku akan memasang muka masamku tanpa henti-henti selama dua puluh empat jam, tak mau makan, tak mau minum, tak mau belajar, hingga Ayah Bunda menyerah dan mengirimkanku kembali ke Jakarta dan tinggal bersama Nenek. Lihat sajaaa, pekikku dalam hati.
Pemandangan malam dengan lampu lampu di sana sini indah menyambut kami di bandara Polonia Medan, tepat pukul tujuh kami mendarat mulus di kota yang terkenal dengan duriannya ini. Ayah sudah menjanjikan makan durian saat kami tiba di Medan. Kami masih harus menginap semalam di kota ini sebelum besok pagi melanjutkan perjalanan darat selama lima jam ke Tiga Ras, konon itulah nama tempat yang akan kami tuju, tempat baru Ayah bertugas. Beberapa hari yang lalu Ayah sudah mereservasi sebuah hotel yang terdekat dengan bandara, dan memberitahukan bahwa mobil Ayah yang di bawa melalui perjalan laut akan dialamatkan ke sana, semua mudah berkat bantuan manajer hotel yang ternyata teman SMP Ayah. Dengan mobil itu nantinya kami berkeliling Medan dan besok pagi melanjutkan perjalan lagi.
Malam ini aku begitu banyak makan, acara mogok makan belum berlaku di sini, nanti saja kalau sudah sampai di sana, begitu lincah aku berjalan jalan di salah satu mall yang terbesar di kota ini. Aku minta dibelikan baju dan sepatu sebagai jaga-jaga, tak adanya Mall di sana. Bunda menggunakan kesempatan ini untuk sekalian berbelanja keperluan rumah tangga untuk stok sebulan ke depan. Hingga keletihan dan merebahkan diri di kamar hotel yang nyaman.
Perjalanan esok paginya sungguh melelahkan, aku tertidur dari Medan hingga terbangun dan kini tengah di kepung oleh pohon pinus berbaris baris, udara yang tadi sedikit panas kini jadi lebih dingin, bunda sampai menaikkan suhu AC pada mobil, dan memberikan sehelai syal lebar padaku sebagai selimut. Tak lama Ayah membelok pada sebuah simpang tiga.
“Kalau terus bisa ke Parapat” Jelas Ayah pada siapa yang mendengarkan, Ayah tahu daerah sini, ia pernah bersekolah di Porsea sebuah kota kecil setelah Parapat, yang dapat di tempuh satu jam lagi. Maka tak heran pindah tugas ke daerah Sumatera Utara adalah impian terbesarnya, untuk kembali merajut kenangan kenangan masa kecilnya.
Pemandangan yang disajikan kini telah berubah dari hutan pinus nan rindang hingga jalan menjadi sedikit gelap menjadi kebun kebun sayur nan subur dan elok, ada tomat, cabai, bahkan kopi. Mataku terbelalak takjub melihat hamparan pohon tomat yang sedang berbuah lebat, bulat bulat hijau kemerah merahan bergantung pada pohon yang menyangga pada sebuah kayu penyangga yang sengaja di tancapkan di tanah dan tali temali palstik yang di paut dalam konfigurasi tertentu untuk melayani rambatan pohon tomat. Jarang kutemukan pemandangan semacam ini, kecuali tatkala Ayah mengajak liburan ke puncak, itu pun hanya sesekali. Ayah tak begitu suka pada perjalanan ke sana yang acap kali di landa kemacetan parah. Terdapat jarak yang cukup jauh antar satu rumah ke rumah yang lain, semua di pisahkan oleh kebun-kebun yang hijau. Rumahnya pun kebanyakan terbuat dari papan, sangat sederhana bahkan terkesan kumuh. Walau ada satu dua rumah yang sudah permanen.
Makin lama jalan semakin menurun dan berkelok kelok tajam. Mataku terbelalak, lebih lebar di banding saat menyaksikan tomat bergelayutan di pohonnya tadi. Aku sampai menegakkan dudukku melongok lebih dekat ke arah kaca mobil bagian depan.
“Subhanallah” tak sadar bibirku bergetar
Sebuah hamparan air nan luas, biru tua sedikit keperak perakkan memantulkan cahaya matahari yang bersinar tegang di tengah langit. Dipagari gunung sambung menyambung yang berwarna biru keungu-unguan seolah menjadi pengawal gagah perkasa yang sedang mengawal seorang putri cantik yang sedang bermain main gembira. Gelombang gelombang kecil di air di padu dengan cahaya matahari berpuluh ribu watt, menciptakan kelap kelip bagai sebuah piring raksasa yang berisi manik manik yang bertaburan ribuan permata. Di atasnya langit terbentang biru muda memayungi gegap gempita riak danau indah ini. Awan membentuk konfigurasi menakjubkan, berbaris baris rapi putih di pinggir atas gunung yang sambung menyambung itu sambil tersenyum permai. Sungguh menakjubkan. Ini dia bayangan burukku yang pertama tentang desa ini terbantahkan tak kenal ampun. Desa ini sungguh indah.
“Welcome to Toba Lake” suara Ayah bergetar
Benar, rumah dinas Ayah ada di tepi danau, di sekeliling rumah hanya ada berbaris baris tanaman pagar yang setia menemani pagar besi bertugas, dua pohon cemara tegak di kanan kiri rumah, sebuah pohon mangga, teduh dan kokoh berdiri di halaman belakang yang sekitar lima meter lagi adalah tepi danau. Tak banyak bunga-bunga mahal yang dimiliki pada tiap rumah di kompleks kami dulu di Jakarta. Walau begitu dapat kupastikan ini lebih indah. Siapa lagi yang bisa menyangkal keindahan dari sebuah taman rumah dengan danau terbesar ini sebagai salah satu dekorasinya. Tak ada!
Petugas ekspedisi baru tiba, dan tengah sibuk menurunkan barang. Aku masih kagum akan keindahan lingkungan baruku, rumahnya memang tak sebagus milik kami di Jakarta dulu, tetapi halamannya, udaranya sungguh segar. Di tengah tengah ketakjubanku itu dengan tiba tiba ada sebuah kekhawatiran menyelinap di kalbuku. Bagaimana dengan sekolah baruku, bagaimana aku mampu beradaptasi pada orang-orang batak yang galak-galak itu! Tiba tiba saja mendung kembali menggelayuti hatiku sendiri.
Keindahan alam Danau Toba membuatku lupa akan rencana mogok makan minumku, cuaca yang sejuk membuatmu takkan tahan untuk berhenti makan. Apa pun yang di masak oleh Nek Mar, seorang asisten rumah tangga yang dipekerjakan Ayah untuk membantu tugas tugas mengurus rumah, selalu habis tuntas kulahap. Apanya yang mogok? Ikan ikan di danau mencibirku pada suatu hari saat aku makan siang dengan piring penuh di tepi danau bersama bunda. Husstt!. Diam kau ikaan! Setiap hari adalah liburan di sini.
Perlahan aku mengenakan seragam putih biruku. Dasi kusimpul dengan sempurna di leher. Beberapa buku kumasukkan dalam tas. Asal saja karena aku belum tahu jadwal mata pelajaran yang berlangsung senin ini. Ini hari pertamaku memasuki sekolah baru. Kata Ayah ini adalah sekolah tebaik di desa ini, sebuah SMP Negeri. Dengan mobil Ayah menelusuri jalanan berundak undak dan berkelok sebelah danau menuju sekolah, sampailah aku pada sekolah terbaik itu. Sungguh di luar dugaan sebagai sekolah terbaik. Gedung yang bercat putih itu tampak biasa biasa saja. Tak ada istimewanya, jika ia digembar gemborkan sebagai sekolah terbaik di sini.
Tampak sedikit lengang karena jam belajar sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Setelah sedikit berbincang dengan kepala sekolah, aku ditemani seorang guru masuk ke kelas ku. Hatiku berdebar kencang. Teman seperti apa yang akan ku jumpai ini. Di depan sebuah ruang kelas sederhana, aku diperkenalkan sebagai murid baru pindahan dari Jakarta. Lantas aku di suruh duduk di sebelah seorang perempuan kurus putih berkaca mata dan berambut lurus, ia tersenyum tatkala aku mengangguk padanya, senyumnnya menyembulkan sebuah gingsul, anak yang lumayan manis dan bersih. Kotor? Kata Zikra orang sini dekil, tak pernah mandi. Lalu bau sabun siapa yang menyeruak di hidungku kini.
Bel istirahat melengking nyaring seperti sirine peringatan bahaya tsunami, tak ada lagu lagu yang berirama riang, layaknya bunyi bel di sekolahku di Jakarta. Saat di Jakarta, demi mendengar bel istirahat, aku dan teman teman akan terlonjak dari kursi seketika, berhambur keluar kelas dan berebut menuju kantin, memesan mi goreng, bakso atau nasi goreng dengan teh botol yang menemani sebagai pelepas dahaga. Kali ini aku tercenung, apa yang harus kulakukan.
Tiba tiba serombongan massa berkerumun ke mejaku, semua mengembangkan senyuman mereka selebar lebarnya, menjulurkan tangan kanannya ke arahku, untuk bersalaman. Aku yang sedang melamun terkaget-kaget hingga bingung dan mengeluarkan senyum yang lebih mirip seringai orang ketakutan.
“Hallo! Perkenalkan namaku Daniel!” jeritnya kuat sekali, mata yang bernama Daniel ini mengerjap ngerjap, tersenyum lebar hingga memamerkan gigi besar dan kuning-kuningnya.
“Shafiraa,” balasku ramah.
Mitha Simatupang, Della Sitorus, Ricardo Nababan, Saut Hutapea, Reymon Nainggolan, Sarah, Nabila, Poniyem, satu persatu menyalami tanganku dengan hangat dan luar biasa ramah. Ternyata tak semua bersuku batak, suku padang pun ada, ia anak pemilik warung nasi di pinggir danau.
“Yok ke kantin!” teman sebangkuku yang ternyata bernama Natalia Pardede mengajakku ke kantin, kerumunan teman-teman baruku sudah terurai setelah puas menanyaiku berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan dan perkataan yang kudengar memang di produksi dalam suara tinggi dan kuat hingga menyerupai orang yang sedang marah, namun konten atau isi dari perkataan atau pertanyaan mereka tak satu pun mengandung kemarahan atau kesombongan. Bahkan sebaliknya keramahan yang luar biasa. Ini mungkin yang salah di pahami orang tentang suku batak, nada bicaranya membuat mereka seperti beradu otot leher setiap hari. Memang ada beberapa teman sekelasku yang tak beranjak sama sekali dari kursinya untuk menyalamiku, namun itu tak jadi soal, namanya juga bertemu dengan orang baru, perlu waktu dan penyesuaian disana-sini.
Aku tersenyum senyum tatkala berpapasan dengan semua orang, aku tidak mau di bilang sombong. Aku dan Natalia yang suka di panggil dengan Lia sudah sampai di depan kantin. Kantin mungil tidak seperti yang kubayangkan, berjurai-jurai snack ringan tergantung di di seutas tali yang di ikat dari paku ke paku di tembok. Sebuah stailing kecil terpajang paling depan dengan mangkok mangkok besar tersusun di bagian bawah, dan seabrek gorengan tertumpuk di bagian atas. Sungguh kecil dan sederhana.
“Mau beli apa? Makanan beratnya ada mi gomak, ada mi kecil, ada lontong” tawar Lia laksana seorang pelayan resto.
“Apa mi gomak, apaan tuh?” tanyaku ketika mendengar nama asing itu.
“Mi gomak itu, mi Lidi yang sudah di rebus kemudian di siram kuah sayur santan atau cabai”
“Mi lidi?”
“Iya, mau tidak?”.
“Boleh deh di coba.” Walau ragu, tapi apa salahnya mencoba.
“Di bungkus aja ya, biar kita makannya di kelas saja, di sini padat, tengok tuh!” sarannya sambil melancipkan bibirnya untuk menunjuk tempat yang di maksud. Kulihat semua kursi disini telah terisi penuh, ramai sekali, bahkan untuk membeli sesuatu kita harus antri. Setelah berjuang mendapatkan dua bungkus mi gomak dan sebungkus kerupuk, Lia keluar dari kerumunan murid-murid lain yang kelaparan dan dengan beringas berteriak teriak menyebutkan pesanannya.
Lia berdiri disampingku dengan rambut yang sedikit berantakan.
“Hidup ini memang butuh perjuangan bro” candanya padaku. Aku tertawa kecil
Mi gomak ini bentuknya besar besar, jarang di temukan di Jakarta. Lumayan gurih dan pedas karena di siram kuah sayur dan cabai. Kami melahapnya dengan menggunakan tangan yang sudah di basuh dulu dengan air minum yang kubawa dari rumah. Hmm, enak kok. Sambil makan Lia bercerita banyak, ia mengatakan kalau hari pertama sekolah setelah liburan panjang begini, biasanya belajar belum berjalan normal, masih santai dan terkadang malah pulang cepat. Biasanya kalau pulang cepat, satu kelas akan merencanakan jalan-jalan atau mandi di danau. Aku berdoa dalam hati semoga hari ini bakalan pulang cepat.
Ternyata doaku terkabul, setelah jam istirahat usai, seorang guru perempuan berbaju pegawai negeri masuk ke kelas,
“Anak anak hari ini guru akan rapat awal tahun ajaran baru. Maka kalian diperbolehkan pulang ke rumah masing masing!”
“Horeeee!” teriakan suka cita membahana terpantul pantul di tembok ruangan kelas. Sedetik setelah Ibu Guru itu keluar, seseorang berbadan tinggi, hitam dan tegap bangkit dari kursinya dan mengambil tempat di depan kelas
“Ayooo! Kemana kitaaa?” Tanyanya sambil membeliakkan matanya yang putih bersinar-sinar. Ternyata ia adalah seorang ketua kelas, namanya Denny Samosir, namanya seperti nama pulau yang ada di tengah danau Toba itu. Yang kuketahui kemudian bahwa samosir juga adalah nama salah satu Marga yang ada di Batak Toba.
Seluruh isi kelas serempak meneriakkan sebuah kata DANAU. Dari Lia aku tahu bahwa kelas mereka adalah kelas terkompak di sekolah ini. Cuma kelas merekalah yang memiliki kebiasaan seperti ini dari kelas tujuh dahulu, mereka juga selalu bahu membahu jika ada kesulitan pelajaran dan saling tolong menolong dalam segala hal. Beda dengan kelas lain yang terkadang diracuni oleh iri dengki hingga tak bisa kompak satu kelas. Kelas seperti yang dijelaskan Lia terakhir inilah, kelas yang kumiliki saat di Jakarta dulu. Di kelasku dulu terdapat gap-gap atau kelompok-kelompok kecil yang tidak bisa bersatu dalam hal apapun. Tak ada rasa persatuan dan kesatuan, semuanya bersaing, siapa yang paling bergaya tergaul dan keren atau yang paling bergelimang harta. Sungguh kelas yang tak sehat, bisa merusak jiwa pun.
Walau tak semua ikut mandi ke Danau, namun gerombolan ini sudah mampu memadati jalan menuju danau yang sempit. Padahal jalan ini adalah jalan lintas warga dan wisatawan yang sedang berkunjung, jalannya memang sudah di aspal namun masih sempit sekali, menurut perkiraanku hanya mampu dilalui satu mobil saja.
Tak lama sampailah kami di tepi danau Toba, teman teman yang laki-laki tak mengulur waktu, setelah membuka kemeja putih mereka, satu persatu meloncat ke danau dan berenang renang lincah. Di susul kemudian teman-teman yang perempuan, membuka baju kemeja putihnya dan menyisakan kaos oblong yang tampaknya sudah memang dipersiapkan sebelum berangkat sekolah tadi. Aku memilih duduk di tepinya saja. Aku tak membawa baju ganti. Melihat teman temanku tertawa tawa berenang dalam danau, aku jadi haus dan menggamit botol air minumku di dalam tas. Haus mungkin sebagai bentuk nyata dari keinginan untuk bergabung dan berenang-renang. Tiba tiba ada seseorang yang mendorongku dari belakang, botol air minumku terpental ke batu dan aku sendiri tercebur ke dalam air danau yang dingin. Aku mencoba berdiri dan menggapai gapai di air namun tak jua kutemukan dasar danau. Masih sempat kulihat Daniel tertawa terbahak bahak di atas batu. Dialah yang mendorongku tadi. Sebelum akhirnya aku megap megap. Aku tidak bisa berenang. Beberapa teman menghampiriku dan menyeretku ke bagian yang lebih dangkal. Aku terengah engah.
“Gak bisa berenang ya?” Della bertanya penuh kekhawatiran
Aku menggeleng.
Mitha mendelik kearah Daniel yang masih memegangi perutnya tertawa tawa.
“Danieeeellll!” jerit Mitha “Awas kau ya!” Mitha mengepalkan tinjunya ke udara.
“Hahahahaha… sori bro… soriii… perkenalan itu, perkenalan… hahaha!” sahutnya dalam logat bataknya yang sangat kental.
Awas kau ya Daniel, tunggu pembalasanku, jeritku dalam hati.
Sepuas bermain air, dipinggir-pinggir danau yang dangkal dan berendam di sana, kami pulang dan berpisah untuk menuju ke rumah masing masing. Lia mengantarku pulang karena aku belum tahu jalan dari danau menuju rumahku, ternyata rumah Lia melewati rumahku.
“Assalamualaikum!” salam ku ketika sampai di pintu pagar, Ayah yang bersiap memakai sepatu untuk bertugas ternganga melihatku. Bunda pun tak kalah takjub menyaksikan aku dan Lia yang basah kuyup.
“Dari mana saja kalian?” Bunda bertanya heran tatkala aku dan Lia sudah sampai di teras rumah.
“Dari mandi di Danau, kenalin Bun, ini Lia teman sebangku Shafir.”
Lia tersenyum dan menjabat tangan Bunda dan Ayah.
“Rumah Lia di mana?” Tanya Ayah
“Di sana Pak, sebelah kantor kepala desa, yang cat hijau itu.”
“Wuah, bukankah itu Rumah Pak Pardede Kepala Desa?”
“Benar Pak, dia Papa saya.”
“OOhh, jadi kamu anaknya Pak Pardede?” Bunda menyahut.
Lia mengangguk sambil tersenyum. Aku menoleh pada Lia, heran mengapa ia tak bilang dari tadi. Padahal kalau teman teman di Jakartaku dulu, baru pertama jumpa, pasti kalau orang tuanya punya kedudukan itulah yang disebutkan terlebih dahulu, kalau masalah nama bisa jadi nomor dua.
“Ya sudah singgah dulu makan siang disini” tawar Ayah
“Gak usah Pak, saya pasti sudah di tunggu mama di rumah, permisi pak, bu” pamit Lia sebelum beranjak.
“Sampai jumpa besok Shafiraa.. bye!” Lia melambai padaku
“Hebaatt yaaa… belum apa apa sudah berani main ke danau, mandi mandi pula lagi, kamu kan belum bisa berenang, kalau tenggelam bagaimana?!” ujar bunda berang sesaat setelah Lia hilang dari pandangan.
“Sama teman teman kok Bun, mereka jago berenang semua. Shafira Cuma berendem aja di pinggir yang dangkal” tak mungkin aku ceritakan hampir tenggelam karena di dorong Daniel, bisa panjang urusan, maka cerita tentang itu kuputuskan untuk dirahasiakan saja. Demi kebaikan.
“Jadi jam segini kok sudah pulang, apa kalian cabut dari kelas?” Ayah ikut menimpali
“Enggak kok yah, tadi guru rapat jadi kami dipulangkan”
“Seharusnya kamu pulang dulu, izin dulu sama bunda, baru boleh pergi, kalau begini terus kamu dipulangkan saja ke Jakarta!” ancam Bunda
“Ehh… jangan Bun! Jangan!, oke.. Oke.. kalau mau mandi ke danau Shafiraa janji minta izin dulu sama Bunda, okey!”
“Lho, bukannya sewaktu itu kamu berniat tinggal di Jakarta saja?” Bunda mengernyit keheranan
“Itu kan dulu, Okelah yah, hati hati ya yah, pulangnya jangan kemaleman ya” ucapku mengalihkan pembicaraan dan menyalami tangan Ayah dan menciumnya. “Shafiraa mau ganti baju dulu, dingiiinn… daa Ayaaahh!” ucapku sambil ngeloyor masuk ke rumah.
Bagaimana hendak dipulangkan ke Jakarta? Wong disini enak kok. Hehehe.. Sambil mengenangan pakaian yang kering aku melirik ke arah jendela kamarku, tampak air danau berkilau kilau indah dan mengerling, “Terpesona padaku ya? Semoga betah” Danau Toba pun menggodaku. Aku tersenyum bahagia. Yaa, semoga betah, dan rasanya aku memang mulai betah, ku kedipkan mata kiriku pada DANAU TOBA.
Load disqus comments

0 komentar