Minggu, 05 Januari 2014

Tarian si Kulit Besi



Rabu siang, keramaian di salah satu dusun terpencil di kota ini membuat rasa penasaran ku semakin membludak. Terlihat banyak orang berbondong-bondong menyaksikan penemuan mayat seorang bocah laki-laki yang mengambang di teluk sungai yang terletak di Desa Pematang Gadung. Aku juga heran, mengapa anak itu baru ditemukan setelah 1 minggu dikabarkan hilang saat pergi mandi di sungai, begitu yang dilaporkan masyarakat. Namun setelah aku pergi ke tempat itu, aku merasa heran saat ku saksikan 4 orang kakek yang duduk bersila sedang membaca mantra yang dikelilingi oleh masyarakat yang ramai menyaksikanya, dan yang paling membuat mata ku terbelalak adalah seekor buaya raksasa yang terikat di hadapan ke-4 kakek tersebut, buaya yang terlihat teler itu sudah tidak bisa bergerak setelah diikat oleh masyarakt yang ramai menyaksikanya.
Setelah sekian menit termangu, aku akhrnya tahu bahwa mayat anak itu meninggal karena serangan dari buaya ini, berdasarkan cerita dari salah satu kakek pawang buaya itu, bocah ini tidak dimakan oleh sang buaya, namun hanya dimainkan dengan cara diputar-putar di dalam air, sampai akhirnya anak itu mati lemas, untuk bisa membujuk sang kulit besi menyerah dan mengembalikn sang bocah, diperlukan 4 orang pawang sakti untuk melumpuhkanya. Namun dari penangkapan ini, ada satu yang dikesalkan oleh para pawang itu, yaitu kebrutalan masyarakat desa yang dengan ganas mengambil paksa semua organ dan bagian tubuh si kulit besi, perbuatan inilah yang dikhawatirkan para pawang itu.. mereka takut mimpi yang mereka alami jadi kenyataan
“jin penunggu sungai akan murka dengan masyarakt desa itu” dan jin itu merupakan ayah dari si kulit besi yang senang menari dan bermain dengan masyarakat sekitar..!
Load disqus comments

0 komentar