Sabtu, 11 Januari 2014

Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah Patah


“ma… kaca mata aku dimana?” Icha menggeledah tasnya yang ada di ruang tamu.
“ini sayang.. tadi mama lihat kacamata kamu kotor, jadi mama bersihin” jawab mamanya dengan sangat lembut.
“oh, makasih ya ma.. ya udah aku kuliah dulu ya ma.. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumussalam, hati-hati sayang”
Dengan motor vespa pemberian kakenya Icha bergegas ke kampus, jalan yang biasanya padat merayap kini tampak lancar karena hari masih cukup pagi. Icha memang sengaja berangkat lebih awal karena ia janjian sama Yoga, Icha meminta Yoga untuk menjelaskan materi yang kurang ia kuasai. Yoga adalah teman Icha sejak SMA, kini mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan.
“kemana aja sih cha.. lihat.. ini udah jam berapa..!” tanya Yoga tampak kesal.
“ya maaf Ga.. sepuluh menit aja kok..”
“ya udah, cepet.. setengah jam lagi aku harus ketemu sama dosen..”
“ya udah… sabar kek.. ni.. yang ini.. aku enggak ngerti” menunjuk kepada suatu halaman.
“…..” Yoga menjelaskan satu per satu hal yang ada di halaman itu.
Icha tak sepenuhnya fokus pada penjelasan Yoga, sesekali ia melihat ke arah Yoga, entah apa yang ia pikirkan.
“udah ngerti?” tanya Yoga.
“…” Icha tak menjawab dan hanya diam memperhatikan Yoga.
“cha!” tegur Yoga sedikit menekan.
“ah? Apa?”
“udah ngerti?”
“belum..”
“ya ampun cha.. dari tadi satu persatu aku jelasin tapi kamu enggak ngerti? Kebiasaan kamu cha.. ya udah.. nanti aku jelasin lagi.. sekarang aku harus nemuin dosen dulu” Yoga pun berlalu ninggalin Icha yang tersenyum manis di belakangnya.
Di kelasnya Icha sudah ditunggu Riki dan Safli untuk latihan gitar bareng. Dengan gitar pinjaman Riki.. Icha memainkan sebuah lagu yang indah, lagu ciptaannya sendiri. Baru setengah lagu, Yoga lewat depan kelas Icha dan mendengar suara Icha yang merdu, ia terdiam di pintu kelas Icha dan tak sadar jika teman-teman Icha memperhatikannya.
“Yoga…!” seru beberapa cewek dari luar kelas.
Yoga ngartis di sekolah, selain baik dan pintar dia juga ganteng (aw), tak sedikit gadis yang klepek-klepek dan histeris saat melihat Yoga. Sadar akan kehadiran Yoga yang disambut cewek-cewek cantik Icha pun memandangnya dan terus memainkan lagunya.
“cha, lo enggak cemburu gitu?” Safli memegang bahu Icha.
“cemburu? Untuk?” Icha meletakan gitar di lantai.
“ya lo kan deket sama Yoga..”
“gue sama Yoga Cuma temen” jawab Icha sambil tersenyum.
“Cha..!” Yoga berusaha memanggil Icha walau cewek-cewek itu menghalanginya.
“Cha, tu dipanggil Yoga..” bisik Riki.
“apaan, salah denger kali” jawab Icha malas.
Melihat Icha begitu cuek kepadanya, Yoga pun pergi meninggalkan cewek-cewek itu dan kembali ke kelasnya. Sepanjang jalan menuju kelasnya, tak henti-hentinya para cewek memandangnya kagum.
Diparkiran..
Di bawah pohon Yoga duduk di atas motornya, sudah satu jam ia menunggu Icha. Tak lama kemudian ia lihat Icha mulai mendekati vespanya, “Icha..!” ia berteriak memanggil Icha. Tak seperti biasanya Icha selalu riang ketika mendekati Yoga, kali ini ia berjalan lesu dan lambat.
“apa?” tanyanya lirih.
“kamu kenapa sih? Gitu banget”
“gak apa-apa”
“kata salah satu akun twitter.. ketika cewek bilang ga apa-apa itu berarti ada apa-apa”
“sok tahu”
“jutek banget sih”
“biarin”
“Icha… ya udah.. aku mau ngomong..”
“silahkan”
“Cha, aku suka sama kamu.. aku sayang sama kamu.. aku tahu kamu juga sayang kan sama aku.. eeemmn.. would you like to be mine?”
“Yoga? Kamu bercanda..?”
“ada saatnya aku bercanda.. tapi ada saatnya aku serius! Cha..?”
Dengan malu-malu Icha menganggukan kepalanya, Yoga pun tersenyum lebar dan terus memandang Icha dengan wajah yang memerah. Tak mampu menahan gugup yang luar biasa, Icha pun segera menunggangi vespanya dan meninggalkan Yoga.
Bulan demi bulan mereka lewati bersama, fans Yoga tak percaya akan hubungan Yoga dengan Icha. Beberapa dari mereka membenci Icha bahkan menerornya, tapi tanpa lelah Yoga terus meyakinkan Icha.
Dewi, teman Yoga selalu dihantui rasa iri dan cemburu setiap melihat kedekatan Yoga dengan Icha. Seribu cara ia pikirkan untuk memisahkan mereka.
“Cha.. lo itu apain Yoga sih? Lo pelet Yoga ya?! Lo itu enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama gue! Yoga enggak pantes buat lo! Pantesnya sama gue!” bentak Dewi kepada Icha di sebuah lorong kampus tapi Icha hanya bisa diam.
Yoga yang tak sengaja melihat Icha dan Dewi segera menghampiri mereka dengan wajah santai. Yoga menggandeng Icha dan menatap sinis Dewi, itu membuat Dewi semakin membenci Icha.
“Kata Dewi aku enggak pantes untuk kamu Ga.. bener dia..” Icha mulai menangis.
“kamu jangan dengerin dia! Kamu tahukan dia itu gimana orangnya.. udah, setetes air mata kamu jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.. jangan dibuang-buang..” Yoga berusaha meyakinkan Icha.
Yoga menggenggam tangan Icha yan gemetaran karena takut jika Dewi akan menyakitinya. Yoga berpikir apa yang harus ia lakukan agar Icha tersenyum lagi, satu ide manis melintas di pikirannya.
“Cha, aku punya permainan..”
“apa?”
“dah lama kan kita enggak main engklek.. main yu.. eh tu ada tukang balon..”
“kamu mau beli balon?”
“iya, ni ada 2 balon.. yang kalah harus joget segila-gilanya ok? Kamu pasti kalah”
“ok, siapa takut..? PD banget. Terus balonnya untuk apa?”
“balon ini untuk ngirim surat ke angin”
Mereka main engklek di taman, taman itu memang mempunyai satu lokasi yang biasa digunakan untuk refresing. Mereka tertawa dan terus bercanda, walau di taman ada beberapa orang namun tiada yang memperhatikan mereka. Dari jauh Dewi memperhatikan mereka dengan rasa benci yang mendalam.
“HAHAHA akhirnya aku juga yang menang… aku bilang apa.. ni kamu tulis apa kek terserah terus kita terbangin bareng ya..”
Setelah mereka berdua menulis suratnya, secara bersama-sama mereka melepas balon-balon itu. Yoga melihat senyum Icha yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam keadaan apapun.
“ya udah yang kalah joget donk..” suruh Yoga.
‘hah! Jadi beneran joget?!” tanya Icha kaget.
“ya iya donk…”
“hih… malu-maluin..”
“siapa suruh kalah.. wleeek”
Setelah mengumpulkan sejuta keberanian dan menutup rasa malunya, Icha harlem shake an di tengah taman. Orang-orang yang ada di taman tertawa keheranan melihat Icha. Tapi tiba-tiba “AW” kakinya terkilir, Yoga dengan sigap memegangnya agar tak jatuh.
“sakit..” rintih Icha.
“ya udah.. sini aku gendong.. hati-hati” Yoga mulai menggendong Icha.
Hari ini Icha memang ke kampus bareng Yoga karena vespanya mogok, padahal rumah mereka lumayan berjauhan. Sesampainya di rumah, Yoga memijat kaki Icha dan kemudian Icha merasa kakinya jadi lebih baik walau masih sakit. Karena sudah sore Yoga pun pamit pulang.
Hari ini hari 16 Agustus 2013, hari jadi Icha dan Yoga yang ke satu tahun. Yoga berencana mengajak Icha jalan ke luar. Dengan kemeja kotak-kotak Yoga menjemput Icha, setelah menunggu beberapa lama kemudian Icha keluar dengan jilbab merah mudan dan gaunnya.
Mereka pergi ke tempat wisata air terjun, Dewi yang mengetahui kepergian mereka terus membuntuti mereka. Di pinggir air terjun bagian atas Icha dan Yoga berlagak seperti satu adegan di film Titanic, dimana kedua pemeran utama melentangkan tangannya. Kecemburuan Dewi semakin mempuncak, ia mempunyai satu ide jahat, ia berniat melukai Icha.
Dengan penampilan yang berbeda tentu membuat Yoga dan Icha tak menyadari kehadiran Dewi. Ketika Yoga dan Icha melepaskan tangan mereka tiba-tiba Dewi dengan sengaja menabrak Icha. Secara reflek Yoga menarik Icha namun ia terpeleset dan akhirnya jatuh ke pinggir air terjun.
“Yoga…!!!” teriak Icha.
Dewi sangat ketakutan ketika ia tahu bahwa yang jatuh itu Yoga, lelaki yang ia cinta, dengan rasa bersalah Dewi melarikan diri sedangkan Icha segera menghampiri Yoga yang sudah dikerumuni banyak orang.
Suara ambulan mengiringi tangisan Icha melihat Yoga yang tak sadarkan diri, tangannya bergetar kencan. Setibanya di rumah sakit ia terus menangis di depan pintu UGD.
“tante.. Yoga jatuh tante..” dengan tersedu-sedu Icha memberanikan diri untuk menghubungi ibu Yoga.
Tak lama kemudian keluarga Yoga berdatangan begitu juga dengan Riki dan Safli, Icha tak berhenti menangis. Karena waktu sudah menunjukan pukul 15.10 Icha pun bergegas ke mushola bersama Riki dan Safli, dengan sangat khusuk dan air mata yang tak kunjung mengalir ia memohon agar Allah menyelamatkan Yoga.
Semalaman Icha berdiam diri di ruang tunggu bersama keluarga Yoga yang hanya diam berulang kali Icha berusaha bertanya kepada keluarga Yoga tapi tak satu pun jawaban ia dapatkan. Tak lama kemudian di atas tempat tidur ia melihat Yoga yang belum sadarkan diri, ia merasa ada yang aneh dengan Yoga.
Keesokan hari..
Ibu Yoga tak mengizinkan Icha membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga dengan alasan takut Yoga kedinginan. Tak lama kemudian mama Icha datang dengan membawakan pakaian bersih untuk Icha. Setelah membersihkan diri Icha kembali menemani Yoga, tak lama kemudian Yoga mulai membuka matanya, kata yang pertama ia sebutkan adalah nama “Icha”.
Dengan sangat bahagia Icha mengelus-elus rambut Yoga, semua yang menemaninya terdiam tanpa suara. Hingga Yoga merasa ada yang aneh pada dirinya.
“kok kaki kanan sama tangan kanan aku gak bisa gerak sih..?” Yoga bertanya-tanya.
“kenapa Ga? Coba aku lihat..”
Dengan penuh kasih sayang Icha membuka sebagian selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat tangan kanan Yog ayang ternyata diamputasi. Ia segera melanjutkan ke arah kaki, air matanya semakin menderas melihat kaki kanan Yoga yang juga telah tiada. Yoga yang belum bisa menerima semua itu terus menangis, semua yang ada di kamar terus menangis melihat Yoga, tapi dengan ketegarannya Icha menyerahkan bahunya untuk Yoga menangis.
Minggu demi minggu berlalu, Yoga belum mau berkata banyak, ia lebih sering menangis dan berdiam diri. Dewi yang mendengar kabar itu langsung datang ke rumah Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat Yoga terduduk di kursi roda ditemani Icha. Dewi merasa bersalah tapi ia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya, ia pun pergi entah kemana.
Setiap pulang dari kampus Icha selalu menyempatkan diri untuk menemani Yoga. Berkali-kali ia memencet bell tapi tak ada yang membuka pintu, terpaksa ia lompat pagar belakang karena melihat pintu dapur tidak ditutup.
“Yoga..?”
Tiba-tiba ia mendengar suara air dan suara tangisan, ia segera lari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya Icha ketika melihat Yoga tergeletak di lantai kamar mandi dengan air shower panas yang membasahi Yoga, sepertinya Yoga terpeleset beberapa kali. Icha memapah Yoga dan mengganti pakaian luarnya, ia melihat kulit Yoga menjadi kemerahan karena tersiram air panas. Dengan lembut Icha mengobati Yoga yang pura-pura menahan sakit.
“aku gak bisa apa-apa.. aku hanya bisa nyusahin orang lain aja” kata Yoga lirih.
“kamu ngomong apa sih!”
“seharusnya kemarin aku mati aja, biar enggak nyusahin orang terus”
“Yoga! Allah masih sayang sama kamu.. ini semua kecelakaan, kamu harus buktikan kalau kamu kuat”
“aku enggak sanggup cah.. pasti sebentar lagi kamu juga akan ninggalin aku”
“Yoga! Alu gak suka kamu ngomong gitu.. kalau kamu ngomong gitu sama aja kamu ngeraguin aku dan aku benci diraguin! Kalau kamu enggak kuat biar kaki dan tangan aku jadi kaki dan tangan kamu.. Insya Allah aku gak akan ninggalin kamu..”
Yoga pun menangis dalam rangkulan Icha. Dalam hatinya ia sangat ketakutan bila Icha meninggalkannya tapi ia juga tak mau mempertaruhkan masa depan Icha, yang ia tahu ia sangat mencintai Icha.
Setiap hari Icha menghibur Yoga, ketika Yoga hendak berdiri ia ingat saat Yoga menggongnya.. Icha pun terus memapah Yoga kemana-mana ketika Yoga lelah terus terdiam di kursi roda. Keluarga Yoga terharu melihat Icha yang tak meninggalkan Yoga dengan keadaan seperti itu. Suatu sore ibu Yoga berbincang dengan Icha, ia memberikan sebuah bingkisan yang katanya dari Yoga.
Setelah ia membuka bingkisan itu ternyata isinya adalah lampu proyektor bintang dan sepucuk surat dari Yoga. Membaca kalimat demi kalimat dari surat itu membuat Icha terharu dan menangis bangga memiliki Yoga. Semakin hari cintanya semakin besar walau ia tahu keadaan Yoga sekarang.
Suatu hari teman-teman Yoga datang berkunjung, betapa kagetnya mereka melihat Yoga bisa tersenyum dengan keadaannya yang seperti sekarang. Ketika ditanya “apa alasanmu untuk tersenyum saat ini?” ia menjawab “aku punya Allah.. aku punya keluarga.. aku punya teman.. aku punya Icha.. mereka lebih dari sekedar kaki dan tangan”, teman-temannya pun terharu dan memeluknya erat-erat.
Karena waktu sudah menunjukan pukul 12.30 mereka bergegas mengambil air wudhu dan sholat dzuhur berjama’ah. Walau tak menjadi imam tapi Yoga tetap bersemangat dengan kursi rodanya di syof pertama di belakang imam.
Walau kehilangan tangan dan kakinya tapi ia tak kehilangan cinta dari orang-orang yang ada di sekitarnya, walau kehilangan fans-fansnya tapi ia tahu fans itu bernilai nol. Dengan tulus hati Icha terus mendampingi Yoga, walau orang tuanya selalu menyuruhnya meninggalkan Yoga tapi keteguhan hati dan cintanya membuat ia bertahan.
Kini Yoga dan Icha sering berduet di acara pernikahan dan acara penting lainnya. Orang yang mendengar suara mereka dan melihat cinta mereka terharu, beberapa di antara mereka merasa malu dengan kesetiaan Icha. Sedangkan Dewi kini ia tak pernah kelihatan lagi, entah kemana perginya ia tak ada yang tahu. Dan seperti janjinya, Icha tak meninggalkan Yoga sendirian.
Load disqus comments

0 komentar