Minggu, 05 Januari 2014

Si Pintar


Hari yang cerah, saudagar kaya sedang duduk di pelataran rumah mewahnya. Sang Saudagar mempunyai seorang pembantu yang setia menemaninya, namun sayang, pembantu itu sangat bodoh. Hal apapun yang di perintahkan saudagar tak pernah di lakukannya dengan baik, sang saudagar hampir kecewa karenanya. Tapi anehnya, saudagar menjuluki pembantu setianya itu dengan julukan “si pintar”.
“Wahai, tuan, mengapa engkau menjulukiku “si pintar”, tuan tahu sendiri bukan bahwa aku selalu ceroboh dalam mengerjakan tugas yang di berikan tuan?” tanya pembantu dengan heran.
Saudagar tersenyum, lalu ia menjawab, “Kau tahu “pintar”, julukan yang aku berikan kepadamu itu adalah sebagai do’a yang kupanjatkan kepada Tuhan untukmu.”
“Maksud tuan? Sungguh, aku tak mengerti.”
“Aku selalu berdo’a semoga kau tidak menjadi seseorang yang ceroboh lagi, dan menjadi pembantuku yang setia lagi pintar, maka dari itu, aku menjulukimu “si pintar” karena itu termasuk sebagian dari do’aku.”
“Maaf tuan, tapi, aku masih tak mengerti.”
“Ah, sudahlah. Asal kau tahu aku masih mempercayaimu, dan aku akan memberikan suatu tugas untukmu.” kata sang saudagar.
“Baiklah, tuan, lantas tuan hendak memberikan tugas apa untukku? Aku akan berusaha mengerjakannya dengan baik.”
Saudagar pun memberikan tugas kepada “si pintar”. Dengan perasaan gembira karena sudah dipercaya saudagar dalam mengerjakan tugas yang penting menurutnya. “si pintar” pergi ke desa sebelah. Untuk apa? Ternyata saudagar menyuruhnya menagih hutang kepada warga desa sebelah. Memang, sang saudagar selalu meminjamkan uang ke desa sebelah, tapi, anehnya ia tak pernah meminjamkan uang sepeserpun kepada warga desa tempat tinggalnya sendiri.
Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup jauh “si pintar” telah sampai di tempat tujuan: desa sebelah. Ia pun mendatangi beberapa warga dan menagih hutang atas perintah sang saudagar. Kurang dari satu jam, “si pintar” telah berhasil mengumpulkan uang yang telah di pinjamkan sang saudagar kepada para warga. Alangkah senangnya hati “si pintar” karena ia telah mengerjakan tugasnya dengan baik.
Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah saudagar, “si pintar” teringat akan suatu hal. Selain menyuruhnya untuk menagih hutang para warga, saudagar memberikan tugas lain kepada “si pintar”. Sang saudagar menyuruh untuk membeli sesuatu yang belum pernah saudagar dapatkan di rumah mewahnya.
Apa ya? Makanan sudah ada, barang-barang mewah sudah ada. Lantas, apa yang harus aku beli? pikir “si pintar”. Setelah berpikir agak lama, ia memutuskan untuk kembali lagi ke desa sebelah dan mengembalikan uang yang sudah ia tagih. Apa yang ada di pikirannya? Ah, entahlah, hanya “si pintar” yang tahu.
Dengan tenang, ia pun kembali ke rumah sang saudagar. Ketika saudagar tahu apa yang di lakukan “si pintar” saudagar sangat marah.
“Apa maksud kau melakukan semua itu?” tanya saudagar
“Kelak, tuan akan mengetahuinya.” jawab “si pintar”
Tentu saja, saudagar semakin marah mendengar jawaban si pintar. Saudagar mengulangi lagi pertanyaannya, tapi, tetap saja “si pintar” menjawab “kelak tuan, akan mengetahuinya”.
Hari berganti bulan…
Desa tempat saudagar tinggal, mengalami musibah. Sampai membuat saudagar bangkrut, bukan main sedihnya hati sang saudagar. Akhirnya ia beserta “si pintar” memutuskan untuk hijrah (pindah) ke desa sebelah, dan memulai hidup baru di sana. Sang saudagar sangat kaget, karena para warga desa sebelah menyambutnya dengan ramah.
“ “Pintar”, apa yang kau lakukan sehingga para warga menyambutku dengan ramah, dan mereka begitu baik kepadaku?” tanya saudagar.
Ia dan “si pintar” sedang duduk di ruang tamu, di rumah baru saudagar. Para warga bahu-membahu membuat tempat tinggal untuk sang saudagar.
“Aku melakukan apa?” kata “si pintar” balik bertanya.
“Ya, mungkin kau pernah melakukan sesuatu sehingga mereka berbuat baik kepadaku.”
“Oh, ya, aku pernah membeli rasa “cinta” mereka untuk tuan.”
“Maksudmu?”
“Hem, apakah tuan ingat, tuan pernah menyuruhku membeli sesuatu yang belum pernah tuan dapatkan di rumah mewah tuan yang dulu?”
“Ya, ya, aku ingat. Bukankah kau mengembalikan uang yang sudah kau tagih, dan membuatku marah?”
“Iya, tuan. Nah, ketika itu aku sangat bingung harus membelikan apa untuk tuan, akhirnya aku mendapat sebuah ide yang kelak pasti akan berguna untuk tuan, dan tentunya juga belum pernah tuan dapatkan sesuatu itu, yaitu aku membeli rasa “cinta” para warga untuk tuan dengan cara mengembalikan uang pinjaman yang sudah ku tagih.”
“Ide yang sangat cemerlang. Maaf, aku telah marah kepadamu, tapi, dari mana kamu mendapatkan ide seperti itu?” tanya saudagar seraya berdecak kagum.
“Aku berpikir, tuan sudah banyak memiliki harta, tapi, tuan tak banyak memiliki banyak saudara. Padahal harta itu tak selamanya bisa membantu kita, jika saudara, tentunya mereka akan ada untuk kita ketika kita susah. Dan perlu diketahui, harta itu bukan segalanya. Tapi, rasa “cinta” terhadap sesama yang harus selalu melekat di hati kita.” jelas “si pintar”
Seseorang memang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing :)
Load disqus comments

0 komentar