Minggu, 05 Januari 2014

Senyuman di Langit Awangga


Awan mendung menggelayut langit Awangga. Angin dingin berhembus menerkam kebahagian. Semua berganti muram. Awangga telah lelah dipermainkan oleh alam. Dan saat ini negara itu telah jatuh dalam kemurungan. Kesedihan melanda seluruh istana.
Tangisan lirih menggema dari sudut ruangan besar di kaputren. Sebuah ranjang tergeletak dengan sesosok tubuh diatasnya. Terdengar suara isak tangis tertahan. Hari ini apa yang telah dikuatirkan oleh Dewi Surtikanti benar-benar terjadi.
Sejak semalaman kegelisahan dan kebimbangan hatinya terus hinggap, meskipun kata-kata penenang terucap dari Prabu Karna. Semalam adalah malam tersingkat dalam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang mampu menopang hidupnya kali ini. Semua telah pergi.
Orang yang dicintainya telah tiada untuk selamanya. Masih terngiang jelas di benaknya. Sentuhan lembut suami tercinta. Masih terasa di tangannya genggaman cinta yang diberikan oleh Prabu Karna. Masih terdengar suara menenangkan suaminya, ketika meminta ijin untuk pamit pergi kesokan hari. Masih tergambar roman muka penuh cinta yang ditampakkan oleh Prabu Karna kepadanya. Bahkan Dewi Surtikanti masih terbayang kecupan lembut di pipinya sebagai penghantar tidur pembuka pintu mimpi semalam.
Namun dari kesemuanya itu, tatapan terakhir Prabu Karnalah yang kuat menusuk hatinya. Tatapan terakhir di pagi buta sebelum meninggalkan istana Awangga. Terpancar di matanya rasa kasih yang selama ini telah menyiram hati Dewi Surtikanti hingga cinta itu takkan pernah terganti oleh siapapun.
Hatinya masih menjerit. Berita yang di bawa oleh pengawal kerajaan beberapa jam yang lalu masih tergeletak di meja. Dia tidak perlu membaca seluruhnya karena satu kalimat akhir telah membuktikan kegelisahannya. Ia tak sadarkan diri ketika mengetahui firasatnya benar-benar terbukti.
Gumpalan awan mendung yang selama ini jarang terlihat di Awangga membuktikan semuanya. Sang surya ikut bersedih karena di tinggal manusia tercintanya. Tidak ada lagi kehangatan sinar yang selalu menjadi kesenangan Dewi Surtikanti ketika sedang bercengkerama dengan suaminya. Semua pudar terganti suasana dingin.
Dewi Surtikanti bangkit dari pembaringan. Matanya merah. Entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan hari ini. ia menangis sampai matanya terasa kering karena tak ada lagi tetes air mata yang jatuh. Semua telah tercurahkan. Ia mengedipkan mata. Mencoba menghalau pikiran kalut yang terus hinggap.
Dewi Surtikanti meraih kertas yang ada di atas meja. Dibacanya kembali, kata demi kata. Agar ia yakin kembali. Ia menghela napas panjang. Mencoba menenangkan diri tapi jiwanya tertahan. Sebuah dinding beku telah medinginkan hatinya. Kesedihan telah menggerogoti jiwanya.
ia berusaha bangkit berdiri. Dengan sempoyongan, ia berjalan menuju pintu kamar. Ia ingin keluar dari kaputren untuk menuju istana. Ia ingin segera menjemput jasad suami tercinta. Hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat suaminya terbaring tenang dalam menghadapi kehidupan di sisi lain dunia ini.
***
‘Kanda, aku ingin menceritakan suatu hal”, kata-kata lembut keluar dari mulut Dewi Surtikanti. Ia sedang melihat suaminya duduk di tepi ranjang. Prabu Karna segera menoleh. “Apa yang dinda ingin sampaikan?”, tanya Prabu Karna dengan sedikit penasaran. “Tadi malam dinda, bermimpi aneh dan menakutkan, Kanda, dinda bermimpi seekor ular menggigit kaki dinda, dinda panik dan sangat takut sekali. Dan akhirnya dinda terbangun. Saat dinda menoleh, kanda tak ada di samping dinda. Kemanakah kanda tadi malam?. Aku takut sekali”, Dewi Surtikanti menceritakan perihal mimpinya. Tersirat nada gelisah di dalamnya. “Sebuah firasat buruk mungkin saja akan terjadi sesuatu pada diri kanda atau negara Awangga”, ia meneruskan ceritanya.
Dengan lembut, Prabu Karna meraih tangan Dewi Surtikanti. “Tenangkan dirimu dinda, tidak akan terjadi apapun pada dirimu, aku berjanji akan terus disisimu”, ucapnya mesra. “Tapi kanda. aku takut sekali, mimpi itu benar-benar nyata, aku sepertinya masih merasakan sakitnya gigitan ular itu”, ujar Dewi Surtikanti sambil meraba pergelangan kakinya. Ia merasa kalau tadi malam itu bukan mimpi. Tapi entahlah antara sadar atau tidak, ketakutan masih membayanginya.
“Dinda, aku mohon pamit kalau besok akan berangkat pagi-pagi buta, kakang Prabu Duryudana memintaku memimpin langsung perang melawan Pandawa”, ucap Prabu Karna tiba-tiba. Kata-kata itu menghenyakkan seketika kesadaran Dewi Surtikanti. “Apa, kanda akan pergi, bukankan kemarin Eyang Bisma udah turun tangan langsung, kanda sendiri yang berkata kalau tak ada satupun panglima Pandawa yang mampu mengalahkannya, terus mengapa tiba-tiba kanda harus terjun langsung”, ceceran kata-kata Dewi Surtikanti berujung pada bertambah rasa takutnya yang semakin meningkat.
“Dinda, dengarkan kanda, ini adalah tugas negara. Kewajiban yang harus dipenuhi seorang abdi negara kepada negaranya. Astina sedang mengalami perang besar dan kanda sebagai bagian dari abdi astina harus bersedia berkorban jika diperlukan. Kanda berhutang budi banyak sekali kepada kakang prabu Duryudana. Astina lah yang telah memberikan kanda derajat dan jabatan. Orang-orang yang dulu meremehkan kanda kini telah berbalik menjadi segan kepada kanda. Semua itu karena jasa kakang prabu Duryudana dan Astina”, kata-kata prabu karna terhenti sejenak. Diraihnya segelas air yang terletak di meja. Diteguknya perlahan.
Prabu Karna menghela napas panjang. Ia berusaha melanjutkan kembali perkataannya kepada sang istri tercinta. “Dinda ingat, kalau tidak karena kakang Prabu Duryudana, aku mungkin tidak akan bisa menikahimu. Ada banyak hal yang harus aku bayar sebagai penebus hutang tersebut. Dinda harus mengerti kalau kanda adalah ksatria yang bertanggung jawab dan berpendirian teguh. Kanda akan membela negara yang telah memberikan banyak hal. Kanda adalah laki-laki yang tahu membalas budi”. Perkataan prabu karna terhenti ketika Dewi Surtikanti bangkit dan duduk didekatnya.
“Aku merasakan firasat buruk esok hari, kanda”. Dewi surtikanti berbicara lirih. Prabu Karna menangkap apa yang sedang dirasakan istrinya. Sebagai laki-laki sejatinya, sudah menjadi tanggung jawabnyalah untuk memberikan ketentraman belahan jiwanya. Dengan penuh sayang di tatap mata indah sang istri.
“Kanda sangat mencintai dinda, bagi kanda firasat yang kamu rasakan sebagai wujud cinta. Aku beruntung memilikimu. Kamu sempurna dimataku. Bagi kanda, tiada orang yang dapat menggantikanmu di hatiku”. Terucap kata-kata manis dan lembut dari bibir Prabu Karna. Dengan mesra didekapnya bahu Dewi Surtikanti. Ia berbisik di telinganya. “Anugerah sang surya telah memberiku jalan terang dalam kehidupan. Aku ingin kamu tetap tegar meskipun cobaan berat menimpamu. Mungkin dinda takut takkan bertemu kanda lagi untuk selamanya. Tapi kanda meyakinkan dinda kalau akan aku berikan senyuman indah ketika kita bertemu lagi esok”.
Malam semakin pekat. Suara jangkrik mulai menghilang. Sang bulan tersembunyi malu dibalik rindangnya awan. Entah siapa yang di lihat oleh bulan, tapi sebuah cahaya putih berkelebat menuju puncak menara Awangga. Semua tampak damai, semua terlihat tentram. Namun sebuah misteri terbungkus tabir siap terbuka dan mengejutkan banyak pihak. Alam telah belajar dari pengalamannya tentang kehidupan. Ketika yang tersurat terlaksana dan tersirat telah bermakna.
***
Tak ada teriakan kesakitan dari wajahnya. Hanya seutas senyum kecil tersungging kaku. Apakah yang tersirat di senyuman itu. Sebuah teka-teki beribu makna. Senyum kesenangan atau ejekan. Tidak ada yang tahu kecuali pemilik senyuman itu sendiri.
Suasana tiba-tiba hening. Matahari bersinar sangat terik. Seolah menunjukkan bahwa siapa pemilik kekuatan kehidupan sesungguhnya. Semua itu tak berlangsung lama. Keheningan telah berganti dengan cepat. Riuh rendah, orang-orang bersorak. Mereka meneriakkan suara kemenangan. Suara kemenangan menenggelamkan kegelisahan hati seseorang yang telah menghantarkan sebuah kehidupan ke sisi lain dunia ini.
Teringat apa yang terjadi ketika dirinya berjibaku menunjukkan siapa yang terpandai dalam olah kanuragan dan ketangkasan memanah. Dan juga peristiwa ketika bertarung memperebutkan sebuah senjata sakti ciptaan dewa dan akhirnya ia hanya mampu merebut sarung senjatanya saja. Bahkan ketika membela seorang puteri yang berujung pada kesalahpahaman hingga akhirnya ia sadar kalau orang yang selama ini menjadi musuh adalah saudaranya sendiri.
Nasihat sang ibu telah mengingatkannya, “anakku Arjuna, bujuklah Karna untuk membela Pandawa, sesungguhnya ia berada pada pihak yang salah, kau harus mengerti Krjuna, Karna tidak seperti yang kau kira. Ia tidak jahat seperti para Kurawa. Ia adalah ksatria sejati. Manusia agung titisan sang dewa”. Kata-kata itu kembali menghampiri pikirannya. “Apakah benar yang dikatakan ibu”, serunya dalam hati.
Ia masih menatap sosok tubuh yang tergeletak di depannya. Darah mengalir dari lehernya. Sebuah anak panah tertancap di sana. Namun wajah dengan senyuman aneh tertuju pada Arjuna. Mengapa kau tersenyum di saat ajal menjemputmu?, tanya Arjuna pada jasad tak bernyawa di depannya.
Karna telah gugur di medan perang. Ia terbunuh oleh arjuna. Apa yang selama ini ia takutkan terjadi. Kematian telah dia takdirkan sendiri jauh sebelum perang di mulai. Karna masih ingat hari sebelumnya, dirinya dibentak kasar oleh Eyang Bisma karena terlalu sombong dan ingin menjadi panglima pasukan Astina. Karna tak peduli kalau sang kusir keretanya adalah mertuanya sendiri. ayah dari sang istri tercinta. Tidak ada prasangka buruk sebelumnya. Namun ketika sebuah kecelakaan kecil menimpa roda belakang kereta, ia sadar kalau semua ilmu yang telah dipelajari tiba-tiba lenyap. Ia seperti domba di kepung kawanan serigala. Hingga akhirnya sebuah anak panah melesat dan menancap di lehernya. Menghilangkan dengan seketika jiwa kehidupannya.
***
Dewi Surtikanti memeluk jasad suaminya yang tersenyum. Ia masih tak percaya kalau sang suami benar-benar telah pergi. Tapi dalam kepergiannya, Prabu Karna ingat akan janjinya. Ia berjanji memberikan senyuman kepadanya ketika bertemu kembali. Dan janji itu benar-benar terlaksana.
Tangisnya tertahan. Ia masih belum bisa melepaskan pelukannya. Di balai besar istana Awangga, suasana berkabung menyelimuti seluruh penghuni istana. Mereka berkabung untuk junjungan yang menjadi panutannya. Prabu Karna tidak hanya adil dan tegas dalam memerintah tetapi juga murah hati dan dermawan. Tak peduli pejabat ataupun rakyat jelata, kalau ia menjumpai orang yang kesulitan selalu dibantunya.
Ketegasannya telah berujung pada ketentraman hidup para rakyat Awangga. Prabu karna tidak pilih kasih dalam menegakkan hukum. Semua sama dimatanya, jika bersalah harus di hukum. Tidak ada yang kebal karena kekuasaan.
Ssemuanya telah pergi. Perang besar telah merenggut nyawa sang ksatria agung. Ia gugur membela negara. Prabu Karna tahu kalau apa yang ia bela salah, dan rela namanya tertulis dalam sejarah sebagai penentang kebajikan. Untuk menegakkan kebaikan, dibutuhkan pengorbanan kebaikan itu sendiri. Dirinya telah memutuskan kalau Kurawa yang ia bela hanya dapat dihentikan dengan menunjukkan pengorbanan kebaikan.
Seseorang berjalan menghampiri Dewi Surtikanti. Ia mendekat lalu duduk bersimpuh. “Terimalah pemberian dari Dewi Kunti, ibu para Pandawa kepada Dewi Surtikanti sebagai ungkapan duka cita yang mendalam. Sebuah peti kayu diletakkan disamping Dewi Surtikanti. Perhatiannya teralihkan sejenak. Ia menatap kotak itu lalu membukanya. Matanya menyipit menghindari sinar putih yang datang dari dalam kotak. Namun itu hanya sementara. Ketika diraihnya secarik kertas yang di gulung rapi. Perlahan gulungan itu di buka dan ia membaca tulisan yang tertera disana.
‘Biarkan restu dan anugerah yang lahir bersama titisan surya tetap mengalir dalam kehidupan yang diciptakannya. Dia berhak diagungkan oleh pemberi cahaya hidup yang telah menggantikan anugerah surya yang hilang sementara. Dan sebuah cahaya akan terus menimbulkan pijar dalam kegelapan tanpa mengeluh terusik oleh kegelisahan’.
Suara tangis bayi menyadarkan Dewi Surtikanti. Rona kebahagian terselip diwajahnya. Sedikit menghapus noda sedih dari hati sejenak. Ia beranjak berdiri dan meninggalkan balai besar tersebut. Ia masuk ke dalam sebuah kamar besar. Didekatinya sumber tangisan itu. Ia menatap bayi mungil yang kini tersenyum riang karena sang ibu ada didekatnya. Ia menggendong bayi itu dan mendekapnya erat-erat. “Cepatlah besar anakku, agar kau memahami apa yang terjadi saat ini dan berjanjilah pada ibu kalau kau akan menegakkan kembali tanah Awangga”.
Load disqus comments

0 komentar