Sabtu, 11 Januari 2014

Seniman Muda Indonesia Kejutkan London


Seorang seniman muda Indonesia menjadi pusat perhatian di Inggris. Namanya makin populer karena karyanya mudah dilihat di area publik. Dialah Sinta Tantra seorang seniman yang karyanya meliputi seni instalasi, mural, dan jenis seni visual lainnya dengan gayanya yang khas.

Sejak 14 Januari hingga 15 Maret 2013 sejumlah karyanya dipamerkan di One Canada Square di Canary Wharf, suatu distrik bisnis yang terkenal di London. Sinta berkolaborasi dengan Nick Hornby,  seniman Inggris yang dikenal dengan karya patung monokromnya, dalam pameran bersama bernama “Sculpture At Work”.

Banyak kalangan yang menduga sulit menyatukan keduanya. Itulah sebabnya, apa yang ditampilkan di Sculpture At Work menjadi menarik. “Dari perspektif medium, materi, dan referensi kami jelas berbeda. Sinta mengeksplorasi identitasnya sebagai perempuan Indonesia melalui warna, corak, dan referensi budaya pop, sedangkan saya referensinya patung modern, arsitektur klasik, dan persaudaraan yang erat. Tetapi, saya kira, kami bisa berbagi sensibilitas seni,” papar Hornby seperti dikutip satu media Inggris.

Sinta memang menjadi salah satu seniman berdarah Indonesia yang makin populer di Inggris dan bahkan dunia. Dengan corak bergaya Indonesia yang khas, karya seninya tampak di berbagai area publik London dan sekitarnya. Karyanya antara lain di Canterbury Christ Church University, Platform for Art (Piccadilly Tube Station), Regents Park Bridge (Architecture Week), Camley Street Natural Park (Arrivals Art Festival), Saisson Poetry Library, Canary Wharf, Liverpool Biennial, dan sebagainya.

Lahir dari keluarga bankir pada 11 November 1979, di New York, Sinta dibesarkan di London. Ia lulus dari sekolah seni Slade School of Fine Art tahun 2003 dan menyelesaikan gelar master di Royal Academy of Arts tahun 2006. Pada tahun itu juga ia meraih penghargaan prestisius Deutsche Bank Award.

Karya seninya memang menonjol dan mendapat banyak apresiasi. Karyanya Miami Dizzle XV (2009) dibeli British Government Art Collection dan dipajang di kedutaan besar Inggris di Aljazair. Karya lainnya, Arsenic Fantasy (2009) digambarkan sebagai “Being inside a gigantic elaborately wrapped Christmas present”. Isokon Dreams (2008) dianggap sebagai karya mural yang fantastik.


Karya-karya interiornya juga sangat tegas dan berani baik yang ia guratkan di lantai, dinding, atau plafon berbagai bangunan di London. Banyak pujian dialamatkan pada Sinta. Tak heran sejak karyanya dikenal publik, sejumlah penghargaan ia raih. Antara lain meraih Dover Street Arts Club Excellence (2003), Michael Moser Award (2004), Henry Moore Post Graduate Award (2005), The Gordon Luton Award  (2006), The Deutsche Bank Pyramid Award (2006), Westminster Civic Award (2007), Courvosier The Future 500 (2009), Shortlisted for the Jerwood Contemporary Painting Prize (2010), dan sebagainya.

“Saya tidak ingin dilabeli secara khusus tetapi jika saya harus memilih saya menyebut saya sendiri sebagai pelukis ketimbang seniman instalasi atau mural,” kata Sinta pada Majalah LuarBiasa. “Meskipun saya tidak pernah melukis di atas kanvas (yang sering dianggap format seni lukis tradisional), saya sebenarnya mengeksplorasi warna dan bentuk secara tradisional tetapi pada medium arsitektur,” tuturnya.

Menurutnya, ciri khasnya adalah berani, terang, abstraksi warna yang dikemas pada objek-objek arsitektur seperti bangunan dan jembatan. Karya-karya tersebut campuran antara pop dan abstraksi. Dengan gaya inilah ia mengejutkan London, kota di mana dengan mudah menemukan karya-karyanya di sejumlah area publik.
Load disqus comments

0 komentar