Minggu, 05 Januari 2014

Senandung Seruling


Di Desa Hindun, ada desas-desus menarik yang sedang jadi bahan pembicaraan dari anak-anak sampai orang dewasa. Katanya, di dalam hutan pinggir desa, ada lelembut yang muncul dan meniup seruling tengah-tengah malam. Hutan itu berbatasan dengan ladang padi desa. Di dalam pagar pepohonan rimbun itu, terdengar suara seruling merdu dan syahdu saat tengah malam, di kala bulan sabit lagi terang-terangnya.
“Anakku bilang…” seloroh Nek Nabidi sambil mencocokkan kapur sirih ke dalam mulutnya, “malam-malam waktu mau kencing, terdengar suara suling mengalun-alun. Tidak jelas dari mana arah suaranya…”.
Ibu-ibu lain mendengarkan dengan serius, lupa pada tugas mereka menumbuk beras untuk sarapan suami-suaminya yang akan berangkat ke sawah. Ayam-ayam masih saling adu berkokok pagi itu. Matahari pun masih malas muncul di langit.
Nek Nabidi yang kulitnya sudah melorot itu dengan asyik menebar gosip, pemirsanya memerhatikan sambil menelan ludah.
“Suamiku juga dengar… Dia bilang, suara sulingnya merdu sekali. Dia sampai merinding dibuatnya,” Bu Waida yang gemuk turut menambahkan. Ibu-ibu lain mengangguk-angguk ngeri, suara kentongan penumbuk beras berangsur-angsur terdengar lagi, tapi tanpa semangat seperti hari-hari biasanya.
Ketika pagi sudah sempurna dan perut para lelaki sudah terisi, gosip itu terus menyebar di ladang padi dan kebun-kebun sayur. Pak Waida, suami Bu Waida menceritakan dengan lebih mendetail tentang peristiwa semalam kepada rekan-rekannya sesama petani.
“Suara serulingnya merdu sekali. Aku cari-cari dari mana arah suaranya, tapi semakin dicari, suaranya semakin kecil dan sayup-sayup. Waktu aku jalan ke arah hutan, suara suling itu menghilang.”
“Aneh sekali, karena begitu suara sulingnya hilang, ada angin deras dari arah hutan, membuat oborku mati… lalu langitnya jadi gelap, bulannya hilang ditutup awan”.
“Kalau suara suling, paling-paling itu ulah anaknya Ondi. Si kecil hitam itu memang suka sekali bermain suling”, seorang petani mencoba berspekulasi.
“Tapi rumah Ondi kan ada jauh dari hutan. Lagipula, anak kecil mana berani main seruling tengah-tengah malam di dalam hutan. Siang hari saja mereka tak berani main di sana…”, tukas Pak Waida.
Sementara para petani sedang sibuk di ladang, anak-anak kecil sedang ada di sungai bermain air bersama ibu-ibu mereka. Seorang anak bertubuh kecil dan hitam, yaitu anak Ondi yang tadi dibicarakan, sedang meniup suling di depan teman-temannya. Ia ingin mempraktekkan suara misterius yang sedang dibicarakan di desa itu.
Selesai memainkan beberapa nada, ia bertanya pada salah satu temannya, “Seperti itu bunyinya?”.
Si teman yang mengaku-aku mendengar suara seruling tadi malam menggelengkan kepala.
“Suaranya lebih bagus. Suara sulingmu tadi seperti suara kucing kejepit ekor”
“Hahahahaha!!!” anak-anak lain tertawa-tawa. Kucing yang lewat pun kalau bisa tertawa pasti akan tertawa pula. Wajah si kecil hitam jadi mengkerut kesal.
***
Malam berganti malam, dan sudah dua minggu belakangan tak terdengar lagi suara seruling yang pernah menggegerkan desa itu. Semuanya kembali normal, meskipun suling misterius itu telah menjadi semacam ‘mitos’ yang bakal dipergunjingkan terus.
Malam itu, Pak Waida si petani menyalakan obor, ia keluar mencari angin. Ia memutuskan untuk berjalan malam-malam karena gubuk kecil yang dipenuhi istri dan tujuh anak itu sedang pengap oleh bau kentut. Pak Waida kesal karena tak bisa tidur, dan posisi tidur istrinya yang tak karuan telah menyebabkan pantat lebarnya itu menghadapi wajah Pak Waida. Suara “taat.. tuutt… taat.. tuut…” yang keras dari pantat lebar istrinya sudah memutuskan saraf sabar sang suami. Ia tak mampu bergeser ke tempat lain, karena dipan bambu yang ditidurinya sudah dijejali oleh tujuh anak-anak yang posisi tidurnya mengikuti sang ibu.
Pak Waida mengambil nafas panjang. Sejuk sekali udara di luar, batinnya sambil berdiri di depan jalan dengan parit beriak di tepiannya. Pak Waida lalu menggulung klobot manis, lalu menyulutnya dengan api obor. Asap-asap klobot diisapnya, lalu dikeluarkan dari dalam hidung. Wajah Pak Waida kembali damai. Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. Sebelum klobotnya habis, Pak Waida mendengar suara sayup-sayup dari arah hutan, suara yang pernah satu kali didengarnya dua minggu yang lalu. Seruling itu lagi! Bulu kuduknya merinding.
Pak Waida mengangkat obornya dan memberanikan diri berjalan ke arah hutan. Lewat jalan setapak yang makin lama makin mengecil, ia lewati pagar pepohonan dan mengarahkan cahaya ke depan untuk mencari sumber suara. Rasa penasaran benar-benar memengaruhi pikiran Pak Waida hingga dia bisa masuk ke hutan sedalam ini. Suara suling itu terdengar semakin dekat, dan kaki Pak Waida membawanya ke arah suara suling yang semakin mendekat.
Tiba-tiba, sebuah sapuan angin dingin menyambar wajah Pak Waida. Suara suling itupun menghilang. Pak Waida bergidik, lalu lari sekencang-kencangnya dari tempat ia berdiri tadi. Ia kembali ke desa sambil terbirit-birit. Sesaat kemudian, ia berhasil keluar dari hutan, dan kaget dengan pemandangan yang dilihatnya.
Ada api berkobar di kejauhan di ujung desa. Suara gemuruh dan teriak ketakutan bersahut dari arah api itu berasal.
“Raampoook!! Raampoookk!”, warga Desa Hindun berhambur dari rumah-rumah. Derap langkah kuda yang banyak membuat wajah Pak Waida makin memucat. Desanya diserang kawanan perampok.
Kawanan perampok itu terdiri dari belasan orang berkuda. Mereka membawa berbagai senjata: golok, panah, dan tombak, siap menghunus siapapun, dan dengan rakusnya akan menjarah apa saja.
“Anak-anakku!” Pak Waida berlari ke arah gubuknya yang tak jauh dari ladang padi. Begitu sampai, ia menarik istri dan anak-anaknya keluar dan menuntun mereka kabur ke arah hutan. Kejadiannya begitu cepat, Pak Waida tak sempat memikirkan nasib warga desa lainnya. Di belakang mereka, para rampok melemparkan api ke rumah-rumah dan membunuh siapa saja. Bu Waida yang gemuk berlari tersengal-sengal dengan wajah pucat. Anak-anaknya yang tujuh orang berhambur masuk ke dalam hutan mendahuluinya, dan sang suami menarik tangan gempalnya keras-keras, “Cepat, Buuu… cepaaat!!”. Kata-kata suaminya-lah yang menggerakkan kaki gemuknya itu berlari semakin kencang.
Suara kerusuhan di belakang mereka semakin sayup seiring dengan makin dalamnya mereka memasuki hutan. Pak Waida dan istrinya baru benar-benar berhenti berlari setelah yakin Desa Hindun sudah teramat jauh berada di belakang. Nafas kedua suami-istri itu terputus-putus. Bu Waida sesenggukan menahan takut. Badannya bergetar hebat, dan kain pakaiannya basah karena mengompol.
tiba-tiba Bu Waida tersadar akan sesuatu yang sangat penting, “Di mana anak-anak…?”. Wajah Pak Waida kaget bukan kepalang. Anak-anakku!
“Anakkuuuu…!!” tubuh Bu Waida lunglai ke tanah. Ia menangis sejadi-jadinya.
“Ssssttt… sssttt… jangan berisik!”, Pak Waida mati-matian berusaha agar tidak panik. Ia menarik tubuh istrinya dan memapahnya berjalan semakin ke depan. Ia celingak-celinguk ke sana ke mari memerhatikan kalau-kalau menemukan salah satu dari anak-anaknya yang hilang.
Ia dan istrinya berjalan gontai tak tentu tujuan. Keringat dingin dan bau kesedihan menyelubungi mereka. Dalam hati mereka berdoa supaya anak-anaknya baik-baik saja. Pada saat itulah suara seruling muncul kembali. Kini suara itu tak terdengar jauh, dan dengan sisa-sisa kepenasaranannya, Pak Waida memapah istrinya yang sedang dirundung duka ke arah seruling itu berasal. Suara itu berasal dari sebuah pohon.
Pak Waida mendekati pohon tersebut, dan terkejut dengan perasaan senang bukan kepalang. Dua anak tertuanya terduduk lemas di bawah pohon itu! Bu Waida menghambur kedua anaknya dan menciumi mereka dengan serakah. Keempat orang itu adalah orang paling bahagia di dunia saat ini.
Tiba-tiba suara seruling itu terdengar lagi, dan kini dari tempat berbeda yang jauh asalnya. Pak Waida tak yakin siapa yang meniup seruling itu, tapi dia ikuti sumber suara bersama istri dan dua anaknya. Kali ini suara seruling itu berasal dari sebuah lubang gua di antara semak belukar. Pak Waida memanggil-manggil ke dalam gua itu, lalu muncullah tiga orang anaknya yang lain. Lima orang anak telah ditemukannya!
Dengan pengalaman sebelumnya, Pak Waida memasang telinga untuk mencari suara seruling itu lagi. Dan benar, seruling itu mengalun merdu dari arah gemericik sungai kecil di antara bebatuan. Maka tujuh beranak itu berjalan bergandengan ke arah tersebut, berharap menemukan dua anak lainnya yang masih hilang.
Alangkah terkejutnya mereka, ternyata benar dua anak bungsu yang dicari ada di pinggir sebuah kolam. Tapi ketujuh anak beranak ini tak bisa mendekati kedua bungsu, karena terheran-heran dan takjub tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Suara seruling yang merdu itu ternyata berasal dari sini. Kedua bungsu belum melihat saudara-saudarnya, wajah mereka tentram memerhatikan si pemain suling. Ia adalah seorang gadis. Indah tubuhnya dibalut kain tipis berwarna emas. Pergelangan kakinya dihiasi giring-giring yang bergemerincing. Rambutnya hitam kebiruan sepanjang pinggul. Bahunya berwarna putih berkilat, halus seperti kulit bayi yang masih suci. Gadis itu berparas teramat cantik, dengan kecantikan yang belum pernah dilihat oleh petani desa semacam Pak Waida dan anak-istrinya.
Gadis itu memainkan seruling sambil menari lembut, di atas air kolam. Kakinya menapak di atas air, tak terbenam, tak tenggelam.
Gadis itu berhenti memainkan serulingnya. Matanya yang menunduk, mengerling ke arah Pak Waida dan keluarganya. Kedua bungsu juga menoleh dan bersorak melihat kakak-kakak beserta orangtuanya. Mereka berhambur berpelukan, menangis senang telah menemukan orang-orang yang mereka cintai.
Gadis peniup seruling itu tersenyum, lalu menghadap ke arah lain. Ia menghilang dalam sekejap mata. Keluarga Waida kaget bukan kepalang. Tiba-tiba angin kencang berhembus menyeruak pepohonan ke arah gadis tadi memandang. Pak Waida pun sekonyong-konyong menyembah ke arah angin tadi berembus, istri dan anak-anaknya mengikuti.
“Dewa dewi telah menolong kita…”, Pak Waida bernafas lega, namun jantungnya berdegup kencang. Seluruh keluarganya kini bersatu kembali, namun mereka tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Dengan langkah gontai, keluarga itu berjalan menelusuri jalan setapak.
***
Sebelum pagi datang, keluarga Waida melihat sebuah perkampungan. Ternyata perkampungan itu adalah tempat tinggal suku pedalaman. Suku pedalaman ini tak memakai kain sebagai pakaian, melainkan jalinan daun yang dianyam dan dirumbai hingga terlihat elok dan pantas digunakan. Pak Waida memperkenalkan diri dan menceritakan semua yang telah dideritanya serta nasib desanya yang di serang perampok. Kepala Suku yang berbaik hati mendengarkan hal tersebut. Ia kemudian mengumpulkan pemuda, menghimpun senjata, dan menyiapkan mantra dan upacara perang. Bu Waida dan anak-anaknya tinggal di dalam kampung untuk diurus dan diberi makan, sementara Pak Waida ikut dengan rombongan pemuda sebagai pemandu jalan.
Dengan langkah sigap, rombongan itu akhirnya tiba di Desa Hindun yang rumah-rumahnya ternyata masih berdiri walau rusak di sana-sini. Asap-asap putih masih mengepul dari sisa-sisa kayu yang sudah jadi arang.
“Desaku…”, Pak Waida menangis tersedu-sedu melihat pemandangan itu. Tiba-tiba, dari arah desa, muncul orang-orang yang wajahnya tak asing lagi di mata Pak Waida. Kepala Suku dan pemuda-pemuda yang dibawanya memasang kuda-kuda bertarung, menyiapkan senjata.
“Waida!? Waida…!! itukah kau!?”
Pak Waida berlari ke arah kumpulan orang-orang itu. Orang-orang suku pedalaman berpandangan satu sama lain dengan heran. Senjata pun mereka turunkan.
Sesaat kemudian, Pak Waida memperkenalkan Kepala Suku dengan warga Desa Hindun. Lalu mereka berkumpul melingkar untuk menceritakan apa yang sudah terjadi semalam. Kepala Suku, pemuda-pemuda suku, dan Pak Waida mendengarkan dengan saksama.
“Rumah Ondi habis di bakar. Ondi tak selamat. Ia di bunuh rampok. Tapi anaknya si kecil hitam itu, dan ibunya, berhasil kabur. Pak kepala desa dan dukun juga tak selamat…”, semuanya menunduk merasakan duka kehilangan.
“Lalu, tiba-tiba dari arah hutan, muncul angin besar. Angin ganas.”
“Ya, angin itu aneh sekali…”, seseorang menambahi.
“Benar, angin itu mendera rumah-rumah kencang sekali. Tapi api bukannya makin besar, tapi malah padam. Dan angin-angin itu menghembus kuda-kuda perampok, dan kuda-kuda itu mengamuk”
“Perampok-perampok itu jatuh dari kudanya, mereka diinjak-injak sampai mati. Ada yang selamat, tapi mereka lari tunggang langgang dikejar kuda”
Kepala Suku dan pemuda-pemuda bersenjata yang dibawanya tiba-tiba komat-kamait mengucapkan sebuah kalimat sambil mengatupkan kedua tangan mereka di depan dada. Warga desa terheran-heran melihat perilaku ini.
“Tuanku yang baik hati, bersyukurlah pada arwah-arwah leluhur. Mereka telah menjaga desa ini dari kebinasaan.”, ucap Kepala Suku pada tetua desa yang telah menceritakan kisah tadi.
“Apakah tuan Kepala Suku mengetahui, angin apa itu?”
“Itu adalah penjelmaan arwah hutan, bidadari peniup seruling yang menjaga ketentraman di hutan ini”
“Suling…!”
“Suling?”, suara riuh rendah warga desa berbisik satu sama lain. Mereka teringat kejadian dua minggu lalu. Pak Waida yang dari tadi diam mendengarkan, angkat bicara dan menceritakan pengalamannya tadi malam. Semua mendengarkan, dan dada mereka dihangatkan oleh perasaan aneh, rasa takjub yang mendalam.
“Kita harus bersyukur…”
“Ya, kita harus menggelar upacara…”, semua bersahutan dan dengan takzim melantunkan doa-doa seperti saat akan memanen padi.
Warga desa dan orang-orang suku pedalaman kemudian membubarkan diri. Menyiapkan sesaji dan berjalan menuju arah hutan. Mereka membakar wewangian dan meletakkan sesaji di atas pinggir kolam tempat Pak Waida melihat penampakan arwah hutan tadi malam.
Keesokan paginya, Kepala Suku mengutus seorang pemuda untuk menjemput keluarga Pak Waida. Begitu semua orang telah berkumpul kembali di Desa Hindun, seluruh warga menggelar upacara besar yang khusyuk untuk berterima kasih pada arwah alam yang telah melindungi mereka. Karena dukun desa telah mati, maka Kepala Suku menggantikan untuk memimpin doa dengan bahasa yang dimengerti oleh warga.
Semenjak saat itu, Desa Hindun menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan suku pedalaman tersebut. Mereka membuka pertukaran barang, saling berdagang dan bertukar ilmu. Warga Desa Hindun diajari ilmu-ilmu pertahanan diri, doa-doa sakral nan suci, dan orang-orang suku pedalaman kini mengenal pakaian kain, serta mendapat ilmu bercocok tanam. Kehidupan berjalan normal kembali, malahan semakin membaik.
Seiring waktu berjalan, anak Ondi yang kecil telah beranjak dewasa. Kulitnya tetap hitam namun badannya tak kecil lagi. Ia telah menjelma menjadi seorang pendekar baik hati dan disegani. Sesekali waktu, ia suka berjalan ke dalam hutan. Meniupkan seruling di tengah malam kala bulan sabit sedang benderang. Suara serulingnya kini sudah merdu, semerdu suara seruling yang diingat oleh Pak Waida dan keluarganya.
Terkadang, meski di dalam hutan hanya ada anak Ondi bermain seruling sendiri, pada malam tertentu ada suara seruling lain yang turut mengiringi.
Load disqus comments

0 komentar