Minggu, 05 Januari 2014

Sang Naga Dan Pemuda Yang Cerdik


Alkisah ada seorang petani yang mempunyai dua anak-anak laki. Keduanya tidak memiliki hubungan yang baik layaknya kakak dan adik saling menyayangi. Sang kakak sangat benci kepada adiknya karena ketampanannya. Hingga suatu hari mereka berdua diperintahkan sang ayah untuk mencari kayu bakar di hutan. Kesempatan ini digunakan dengan baik oleh sang kakak. Ketika adiknya sedang asyik mengumpulkan kayu bakar, tiba-tiba sang kakak menyergapnya. Dengan sekuat tenaga ia menahan tubuh sang adik. Ia mendorongnya ke pohon besar kemudian mengikat sang adik di pohon tersebut.
Sang kakak kemudian meninggalkan adiknya sendirian di hutan. Ia berpikir adiknya akan mati di hutan itu. “Pasti dia akan mati kelaparan atau dimakan binatang buas”, pikir sang kakak. Ia kembali merapikan kayu bakarnya dan segera pulang ke rumah. Ia telah menyiapkan beribu alasan yang akan diutarakan kepada sang ayah untuk menutupi semua kejahatannya.
Disisi lain lewatlah seorang penggembala yang tubuhnya bongkok. Ia sedang mengatur domba-dombanya, ketika tak sengaja melihat seseorang terikat di pohon. Dengan penasaran ia menghampiri orang itu. “Mengapa kau terikat di pohon itu?”, tanyanya.
Penggembala tersebut melepas kain penutup mulut yang mengganjal di mulut orang itu. “Punggung dan bahuku sakit semenjak lahir, sehingga tidak tumbuh lurus dengan semestinya”, jawab orang itu. “Lalu apa hubungannya dengan kau terikat di pohon”, tanyanya kembali. Penggembala masih belum mengerti. “Aku diikat disini oleh kakakku, ia berkata tubuhku akan normal kembali jika diikat di pohon dalam waktu satu hari satu malam. Dan ia benar, sekarang aku merasa lebih baik. Kau bisa membuktikannya. Coba kau lepas tali ini nanti akan tampak aku yang telah tegak tidak bungkuk”, jawab orang itu. Tanpa rasa curiga sang penggembala melepas tali itu. Ia meihat orang yang dihadapannya berdiri tegak. “Kau benar sekali, kalau begitu maukah kau mengikatku di pohon, supaya tubuhku dapat tegak sepertimu”, pintanya.
Dengan cekatan orang tersebut mengikat sang penggembala ke pohon. Diikatnya kuat-kuat. Ia tersenyum. Setelah melihat penggembala yang tak berdaya di pohon. Ia mengambil tongkat gembalanya. Di dekati domba-dombanya, ia kemudian meninggalkan sang gembala dengan membawa kabur domba-dombanya. Sang penggembala melihat apa yang terjadi, tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena tubuhnya tak bisa bergerak dan mulutnya tersumpal oleh kain.
Orang tersebut segera pergi menjauh keluar dari hutan. Di jalan ia bertemu seorang pemburu. Dengan cepat ia menghampirinya untuk mengatakan bahwa ada tempat berburu menarik selain di hutan. Pemburu tersebut percaya dan berbalik tidak jadi memasuki hutan. Begitupun pencari kayu bakar yang ditemuinya kemudian. Orang itu berkata, kalau ada hewan buas di dalam hutan yang telah memangsa dombanya, sehingga sangat berbahaya sekali untuk masuk ke dalam hutan.
***
Tersebutlah seorang raja yang menguasai sebuah kerajaan yang sangat luas. Sang raja mendengar dari seorang petinggi kerajaan bahwa terdapat seorang pemuda yang sangat cerdik. Pemuda tersebut mampu berkelit dari hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Pemuda tersebut juga telah mengelabui beberapa petinggi negara yang lain sehingga diantara mereka kehilangan harta kekayaan.
Sang raja memanggil sang perdana menteri dan menyuruh prajurit istana menangkap pemuda itu untuk dibawa kehadapannya. Pemuda itupun tertangkap dan telah berada di hadapan sang raja. Sang raja berkata, “perbuatanmu telah meresahkan rakyat dinegeriku, kau telah melakukan banyak kejahatan. Aku sendiri yang akan menghukummu, dan kali ini kau tak bisa mengelak lagi”. Pemuda itu pun berdiri tenang di hadapan raja. Ia masih terdiam untuk berpikir bagaimana caranya lolos dari hukuman untuk kesekian kalinya.
Tiba-tiba seorang prajurit memasuki tempat sang raja berada dengan tergesa-gesa. Prajurit itu memberikan sepucuk surat kepada sang raja. Raja membaca surat tersebut, dahinya berkerut dan matanya terbelalak. Ia terkejut dengan isi surat itu namun tidak mengeluarkan suara. Sang raja mendekati sang pemuda. “Anak muda, kau akan dihukum mati digantung di pusat kota. Dan dibiarkan membusuk dimakan burung. Tapi kau punya satu kesempatan. Aku akan meringankan hukumanmu tapi dengan satu syarat”, kata sang raja.
“Apa syaratnya Yang Mulia”, sahut pemuda itu. “Hamba akan berusaha melaksanakannya, apapun yang diperintahkan Yang Mulia, asalkan hamba bisa lepas dari hukuman mati”, kata pemuda tersebut. “Baiklah anak muda, kau harus menangkap seekor naga yang telah mengganggu rakyatku. Naga itu telah banyak makan korban dari rakyatku. Sanggupkah kau melakukannya”, perintah sang raja. “Akan aku bebaskan kau dari hukumanmu dan akan aku jadikan kau petinggi kerajaan, jika kau berhasil”, lanjut sang raja.
“Hamba sanggup Yang Mulia. Akan hamba lakukan perintah Yang Mulia untuk membunuh naga tersebut”, jawab sang pemuda. “Kalau begitu segera laksanakan perintahku dan jika kau gagal kau akan dihukum gantung”, kata raja.
Segera sang pemuda pergi menuju goa tempat sang naga tinggal. Dalam perjalanan ia melihat seorang tukang kayu yang sedang memotong pohon besar. Sang pemuda mendekat. Dan bertanya pada tukang kayu. “Maaf tuan, boleh aku bertanya?”, tanyanya. “Silahkan anak muda, apa yang ingin kau tanyakan”, jawab tukang kayu itu dan segera menghentikan pekerjaannya. “Bagaimana caranya agar kayu yang akan dipakai tahan dari api. Maksudnya tidak mudah terbakar”, tanya sang pemuda. “Kayu yang kau gunakan harus direndam terlebih dahulu dalam air kemudian dikeringkan. Dan setelah dibentuk sesuai yang kau inginkan. Lapisilah bagian kayu yang bersinggungan langsung dengan api dengan cairan ini”, jawab tukang kayu sambil mengangkat sekaleng cairan yang kemudian ditunjukkan kepada pemuda itu.
“Oh begitu, jadi ini yang membuat kayu tahan api”, pikirnya. “Terimakasih atas penjelasan tuan, bolehkan saya bertanya lagi dimana sekira tempat untuk mendapatkan cairan itu,” tanyanya kembali. “Kau bisa membelinya di pasar kota ini. Datanglah ke toko yang menjual alat-alat pertukangan. Mereka pasti menyediakannya”, jawab tukang kayu.
Setelah berpamitan dengan tukang kayu tersebut, sang pemuda segera menuju ke pasar. Setiba disana ia membeli apa yang tadi dikatakan oleh tukang kayu. Selain itu ia juga memesan sebuah peti besar. Peti itu berukuran sangat besar. Hampir lima kali ukurannya.
Dengan susah payah sang pemuda membawa peti itu ke depan goa tempat sang naga tinggal. Ia berdiri di depan mulut goa. Ia berteriak, “Hei naga, keluarlah aku menantangmu”, serunya keras-keras. Tidak cukup berteriak. Ia juga melemparkan batu ke dalam goa.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari dalam goa. Sepercik pola api tampak menyala di dalam sana. Sang pemuda tahu kalau naga tersebut akan menjawab tantangannya. Dengan cepat ia berbalik ke arah peti dan mengikat seekor domba didalamnya.
Naga itu keluar dari dalam goa dan melihat seorang manusia di hadapannya. “Berani benar kau menggangguku, manusia, apa kau sudah bosan hidup?”, sahut sang naga dengan geram. Ia mendekati pemuda itu. Sang naga mendongakkan kepalanya ke atas. Tiba-tiba jilatan api besar keluar dari mulutnya. Api itu sangat besar.
Sang pemuda tidak bergeming. Ia lalu berkata pada naga, “kalau kau memang benar-benar hebat seprti yang dikatakan banyak orang, aku ingin mengujimu”. “Sekarang aku ingin membuktikan, mampukah kau keluar dari peti ini dalam waktu satu jam. Jika kau mampu, kau boleh memangsaku”, lanjut sang pemuda.
Sang naga tertawa lebar, “kau bercanda, mana mampu peti kayu seperti itu mengurungku. Aku bisa membakarnya sampai habis dan keluar dengan mudah dari dalamnya”. Lagi-lagi ia menyemburkan api besar dari mulutnya, kali lebih besar dari sebelumnya. “Kalau begitu buktikan padaku”, sahut sang pemuda. Sang pemuda membuka penutup peti.
“Cepat masuklah, aku ingin melihat apa kau bisa keluar secepat yang kau sumbarkan”, perintah sang pemuda. Tanpa ragu-ragu sang naga segera masuk kedalam peti dan sang pemuda segera menutupnya. Ditutupnya peti tersebut dengan erat-erat. “Tenanglah jangan terburu, aku akan memberikan aba-aba untukmu”, teriaknya dari luar.
Tanpa sepengetahuan sang naga, pemuda itu segera melapisi permukaan peti dengan lempengan logam yang ia sembunyikan di semak-semak. Ia segera mengunci sudut-sudutnya. “Sekarang keluarlah” teriaknya kembali. Ia mendengar dari dalam peti suara gemuruh yang ditimbulkan oleh sang naga. Untuk menghindari panas api, pemuda menggunakan kain tebal.
Ia segera memasang empat roda pada peti itu. Setelah roda terpasang segera ditarik peti itu oleh dua ekor kuda. Sang pemuda duduk di atas peti. Ia segera pergi ke ibu kota membawa sang naga yang telah di tangkapnya.
Sang raja mendengar kedatangan sang pemuda yang diperintahkannya menangkap seekor naga. Ia segera menemui pemuda tersebut di lapangan istana. Ia melihat peti besar yang ditarik dua ekor kuda. Pemuda itu duduk santai diatas peti.
Mengetahui sang raja mendekat, sang pemuda segera turun dari peti dan berlutut. “Hamba neghaturkan sembah kepada Yang Mulia, hamba telah melaksanakan perintah Yang Mulia menangkap seekor naga ganas yang mengganggu penduduk. Naga itu ada di dalam peti besar Yang Mulia”, kata sang pemuda.
Raja tak mengira pemuda itu berhasil menangkap naga yang diperintahkannya. Raja kemudian berkata, “Anak muda menangkap saja belum cukup kau, harus membunuhnya”, perintah sang raja. “Beribu ampun Yang Mulia, hamba tidak sanggup membunuhnya. Hamba hanya bisa menangkapnya. Hamba pikir biarkan naga itu di dalam peti. Ia akan mati kelaparan didalam sana”, kata sang pemuda.
Raja merasa sangat kecewa dan marah. “Kau telah melanggar perintahku untuk membunuhnya. Kau tetap dihukum gantung. Sekarang biar aku yang membunuh naga itu”. Sang raja segera mencabut pedangnya. Ia mendekati peti. “Bagaimana cara membuka peti ini?”, tanyanya. “Yang Mulia peti ini tidak bisa dibuka lagi, hamba telah menguncinya dan menutupnya dengan kuat”, jawab sang pemuda.
“Cepat buka, aku tak peduli. Akan aku tunjukkan bagaimana cara membunuh naga kepadamu”, sahut sang raja. Sang pemuda akhirnya menuruti perintah sang raja. Ia kembali melepas satu persatu penutup peti. Sebelum peti terbuka. Sang pemuda berbisik, “Kau boleh membunuhku ketika telah melihat sepercik cahaya. Semburkan apimu kepadaku”.
Sang raja membuka sedikit penutup peti. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, jilatan api besar keluar dari dalamnya. Tanpa bisa menghindar, sang raja mati terbakar. Dengan cepat, sang pemuda menutup peti dari atas.
Sang raja telah mati. Dengan kecerdikannya, sang pemuda menggantikannya menjadi raja. Namun, apa yang dia lakukan kepada sang naga tidak ada yang tahu pasti.
Load disqus comments

0 komentar