Sabtu, 11 Januari 2014

Rahasia di Balik Rintik Hujan


Langit mendung sore itu. Gumpalan abu-abu gelap seperti sudah mewanti-wanti semua yang dinaunginya bahwa sebentar lagi ia akan menumpahkan bawaannya.
Eros bukannya tidak menyadari itu semua. Ia tahu jelas. Ia pun sedang memerhatikan orang-orang yang berjalan cepat dari balik kaca sebuah kedai kopi yang ia diami hampir satu jam terakhir. Ia membenarkan posisi duduknya. Dan kemudian menyesap hangat gelas kopi ketiganya sore itu. Bergelas-gelas kopi yang telah ia teguk masih belum bisa membenarkan benang-benang kusut di pikirannya saat ini. Hanya penghibur sementara. Dan ketika tetes-tetes kopi itu hilang ke dalam pencernaannya, ia seketika bisa melihat adegan-adegan yang dengan susah payah berusaha ia lupakan dengan jelas. Seperti sebuah proyektor yang menampilkan gambar-gambarnya. Memaksa untuk diperhatikan.
Ia menyesap lagi kopinya.
Di mulai dari yang terbaru. Yang terhangat. Yang menjadi alasannya berada di kedai kopi ini. Aga mengiriminya pesan singkat berisi perintah untuk ada disini jam dua siang. “ada yang perlu kita bicarakan.” Tutupnya. Aga adalah teman sebangku Eros sejak SMP. Dia adalah the partner in crime milik Eros. Yang setia menemaninya di ruang BK jika ia terkena masalah. Menelan makian-makian yang sama dari gurunya. Di balik semua itu, mereka memiliki obsesi yang sama persis: mendirikan sebuah usaha kain batik. Aneh memang. Saat semua orang bermimpi menjadi raja minyak, pemain saham sukses, dan omong kosong lainnya, Eros dan Aga hanya ingin melestarikan budaya legendaris asal negrinya. Karena mereka tau, batik bukan hanya berasal dari coretan canting. Bukan pula dari tetesan malam. Tapi dari butiran keringat sang pelukis. Dari keinginan dan tekad yang besar untuk duduk berjam-jam dengan tekun dan sabar. Dari lepuhan kulit yang terkena minyak panas. Dari sana, lahirlah sebuah kain. Tidak besar, tidak megah. Tapi cukup untuk melukiskan sebuah identitas. Bahwa negeri ini ada dan punya identitasnya sendiri.
Mimpi Eros dan Aga akhirnya terwujud lima tahun yang lalu. Sebuah galeri kecil bertajuk “Batik Batavia” lahir. Mereka merintis dari nol. Dari dua hingga hampir lima puluh pekerja. Eros dan Aga lama kelamaan tinggal sepasang rekan bisnis. Salahkan kenalan yang makin lama makin tak terhitung. Salahkan semangat bisnis yang tak kunjung padam. Itu juga alasan di balik kalimat Aga setelah ini.
“Kita bangkrut.” Tembaknya.
Eros sudah bisa menebak berita itu. Kalimat Aga hanya sebuah perwakilan. Karena Eros sendiri tak akan sanggup mengucapkan dua kata sial itu. Tapi sementara Aga sudah memiliki banyak usaha lain, Eros hanya menggantungkan pencahariannya pada Batik Batavia. Disanalah cintanya.
Aga menepuknya di bahu sebelum meninggalkannya bersama secangkir kopi. Tidak. Eros belum mau meninggalkan tempat ini. Ia akan membiarkan kesedihannya larut bersama kopi-kopinya. Untuk apa ia pulang? Ia hancur. Kehancuran adalah rumahnya yang baru. Ia tiba-tiba teringat akan Kirana. Satu-satunya cinta selain Batik Batavia. Namun nasib sepertinya bersekongkol menyiksa Eros.
Ketika Batik Batavia baru didirikan, Kirana adalah rekan pertamanya setelah Aga. Eros memang sudah lama mengenalnya. Pada sebuah pameran batik di Solo. Mereka bertukar kartu nama. Namun baru dua tahun kemudian Eros teringat untuk menghubunginya. Entah siapa yang memantrai, keduanya tiba-tiba saling mengungkap cinta di sebuah kedai kopi. Ya, disini. Namun ternyata memang Eros belum ditakdirkan untuk bahagia. Suatu malam, ia hendak memberi kejutan untuk Kirana dengan mendatangi apartmentnya. Aneh, pintunya tidak dikunci. Ia masuk ke dalam dan langsung tersedak minuman yang ketika itu dibawanya. Ia tak akan melupakan apa yang dilihatnya malam itu. Ketika ia mendapati Kirana sedang asyik bercumbu dengan orang lain. Dengan PEREMPUAN lain. Keesokan harinya Kirana menjelaskan bahwa ia seorang lesb*an. Dan memacari Eros hanya untuk menutupi kemungkinan dicurigai orang lain. Eros melangkah pergi saat itu juga.
Kembali ke sore ini. Waktu menunjukkan pukul lima sore. Awan memenuhi janjinya. Hujan turun sangat deras, membangkitkan kesedihan. Eros memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Ketika ia berada di ambang pintu, ia memutar balikkan badannya. Menghadap orang-orang yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Lihat sekelompok remaja di pojok sana. Menertawakan entah apa sambil menunjuk-nunjuk. Apakah cara berpakaian seseorang? Atau sebuah tingkah konyol ulah salah satu dari mereka kah? Lalu liat sepasang kakek nenek di tengah sana. Memandang sinis ke arah satu sama lain. Apa kira-kira masalah suami istri yang sudah renta seperti itu? Perbedaan pendapat menentukan tempat kuliah si bungsi mungkin. Mereka semua terlihat ‘biasa’. Dan mereka juga pasti melihat Eros sesosok yang juga ‘biasa’. Hanya bisa menerka-nerka apa yang ada dalam pikirannya. Mereka tak akan bisa menebak apa yang akan ia lakukan setelah ini.
Ia mundur selangkah.. dua langkah.. tiga langkah. “BRAKK!!”. Tepat sasaran. Ia sempat melihat sekelompok remaja tadi menoleh kaget kearahnya sebelum badannya menghempas aspal. Ia tersenyum seraya merasakan seluruh badannya remuk. Ia masih sempat merasakan tubuhnya dikerumuni banyak orang. Tapi hal terakhir yang diingatnya adalah seorang wanita menyeruak di antara kerumunan itu dan berteriak disampingnya.
“Ros!! Eros!! Sadar!! Kamu gak bangkrut! Dan aku bukan seorang lesb*an! Aku dan Aga yang mengatur semua ini.. untuk.. ulang tahunmu..” Kirana. Suaranya melemah di akhir kalimat. Namun Eros memejamkan matanya. Dan ia tidak kunjung membukanya kembali.
Load disqus comments

0 komentar