Minggu, 05 Januari 2014

Princess Pinochio



Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik yang tinggal di sebuah istana megah dan selalu dikawal oleh banyak prajurit yang gagah perkasa ketika sang putri ingin pergi ke luar istana. Namanya, putri Angelita. Sesuai dengan namanya, putri Angelita memiliki paras yang sangat cantik sehingga banyak pangeran terkesima oleh kecantikannya. Mata bulatnya berbingkai bulu mata lentik berwarna hitam kelam. Rambut panjangnya bergelombang sepunggung. Warna kulitnya senada dengan warna pasir merah. Namun, sayang… Putri Angelita ini senang sekali membohongi orang lain yang bertanya padanya. Sehingga banyak sekali pangeran yang akhirnya tak suka dengan sikap putri Angelita.
Hingga pada suatu hari, saat putri Angelita sedang berjalan-jalan di tengah keramaian kota. Datanglah seorang nenek tua yang kepada putri Angelita. Dengan hati bersungguh, nenek itu meminta tolong pada putri Angelita untuk menunjukkan arah menuju ke gunung Sukai, gunung yang dianggap keramat oleh sebagian penduduk kerajaan Pangestu. Tapi apa? Putri Angelita malah menunjuk kearah barat. Padahal, arah barat itu menuju ke hutan bukan gunung Sukai. Sebenarnya, gunung Sukai berada di sebelah Selatan. Tentu saja, nenek itu percaya pada perkataan putri Angelina dan pergilah ia kearah Barat.
“Hahaha… Dasar nenek bodoh! Mau-maunya saja dibohongi olehku. Hahaha…” putri Angelica mengatakan itu semua dengan rasa tanpa penyesalan. Ia lalu berjalan-jalan lagi di tengah-tengah pasar kota. Semakin senja, maka akan semakin ramai pula pasar ini.
Begitu senja menghadang, putri Angelica segera pulang ke istana. Disana, sang Raja dan Ratu beserta para prajurit istana cemas menunggu kedatangan putri Angelita. Putri Angelita segera memasuki ruangan istana, bak seorang model sedang berjalan diatas catwalk. Raja dan Ratu yang menyadari kedatangan putri Agelita ke istana pun bertanya dengan nada cemas, “Putri.. Kemana saja kau sampai senja begini tanpa pengawalan?”
“Tadi… mmm… tadi…” putri Angelita segera mencari jawaban untuk mengelabui ayahnya. Karna ia tahu bahwa ayahnya akan sangat marah ketika tahu bahwa putri Agelita pergi ke pasar kota tanpa berpamitan terlebih dahulu. Matanya bergulir sekali dan kemudian ia melanjutkan, “ke rumahnya putri Nindi, Ayah…”
“Benar? Kamu tidak sedang membohongi ayah, kan?” tanya sang Raja. Kedua alisnya bertaut sejenak. Sontak, putri Angelita menggeleng-gelengkan kepala.
“Lain kali, kalau mau pergi kemana-mana itu pamitan dulu sama ayah atau ibu. Dari tadi, kami cemas menunggumu disini!” nasihat sang ayah. Lawan yang diajaki bicaranya itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ya, maafkan aku ya, Yah… Sekarang, aku mau istrahat dulu di kamar. Hoaaamm… Sudah ngantuk nih, Yah… Dadaaaa, Ayah… Dadaaa, Ibu…” Putri Angelita mencium kening kedua orang tuanya dan langsung menaiki tangga, menuju ke kamarnya sendiri. Untuk sesaat, ia sempat bercermin untuk membetulkan gulungan rambutnya. Sudah 10 kali sejak ia duduk di depan kaca, putri Angelita memuji kecantikannya sendiri. Setelah itu, putri Angelita membanting dirinya di atas tempat tidur yang empuk.
Perlahan-lahan, pikirannya mulai melayang-layang kea lam mimpi. Percaya atau tidak, dalam mimpinya itu, putri Angelita bertemu dengan seorang nenek tua yang tadi ia temui di pasar kota. Dalam mimpinya, nenek tua itu tidak seperti nenek tua seperti biasanya. Ia membawa sebuah tongkat dan akhir tongkatnya berbentuk bintang. Jubahnya juga berwarna ungu bermotif bintang kecil kuning bertebaran diatas kain. Sama persis seperti penyihir lainnya. Sesaat setelahnya, tiba-tiba, nenek tua itu mengarahkan tongkatnya marah kearah putri Angelika. Dan, akhirnya sang putri berubah menjadi boneka pinokio berambut panjang dan berbaju bak seorang putri.
Saat itu jugalah, putri Angelita terbangun dari mimpinya. Napasnya tersengal-sengal karna mungkin mimpi yang dialaminya terlalu mengerikan. Putri Angelita tak sadar kalau hidungnya sudah sedikit bertambah panjang dari ukurannya yang semula. Karna hari masih malam, akhirnya, putri Angelita melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu oleh mimpi konyol itu.
Sinar mentari menyelinap masuk dari sela-sela jendela. Putri Angelita beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri. Seusainya membersihkan diri, putri Angelita segera bersiap memakai baju kebesarannya sebagai seorang putri kerajaan dan menuruni anak tangga untuk pergi ke ruang makan kerajaan.
Sang Raja dan ratu terkejut sekali begitu melihat hidung putri Angelita sedikit memanjang dari biasanya.
Tetap memasang muka heran, sang raja bertanya, “Hidung kamu… Kenapa jadi panjang begitu?”
Putri Angelita yang baru saja tahu bahwa hidungnya memanjang, segera memegang hidungnya untuk memeriksa kebenaran perkataan ayahnya, Raja Edrik. Setelah tahu bahwa hidungnya memang benar tlah memanjang, putri Angelita menjerit histeris. Air matanya meleleh dari sudut mata, membanjiri pipi dan tetesannya membasahi lantai di bawahnya. Ternyata, selain pandai berbohong, putri Angelita ini juga gampang sekali menangis loh, Teman-teman… Ckckck…
“Ayah! Ada apa dengan hidungku ini? Hiks… Hiks…” putri Angelita bertanya dengan nada sendu dan terisak-isak. Ia terus saja memegang hidungnya, berharap agar panjang hidungnya bisa kembali seperti semula lagi.
“Ayah juga tidak tahu kenapa hidung kamu jadi panjang begini. Memangnya kamu sering membohongi orang ya?” sergah raja Edrik. Kali ini, ia berada di samping putri Angelita. Dan lagi, putri Angelita berbohong pada ayahnya. Ia tetap tidak mengakui kesalahannya. Seusai putri Angelita mengucapkan kalimat pembelaan dirinya yang bohong itu, hidung putri Agelita menjadi lebih panjang lagi, Semakin putri Angelita berbohong maka akan semakin panjang pula hidungnya. Sehingga akhirnya, sang raja menyuruh prajuritnya memanggil seorang penasihat yang sangat terkenal dengan kebijaksanaan dan pengetahuannya.
“Temui dia dan hantarkanlah ia ke hadapanku” perintah Raja. Para prajurit segera pergi menuju rumah sang penasihat, ia biasa disebut dengan penasihat Ufuk. Rumahnya cukup jauh dari kerajaan. Sehingga butuh waktu satu hari untuk pergi menuju ke rumah penasiat Ufuk.
Setelah bertemu, para prajurit langsung membawa penasihat ufuk ke kerajaan dengan tandu kerajaan. Tentu dengan sikap yang sopan. Raja menyambut baik kedatangan penasihat Ufuk ke kerajaannya. Ia mempersilahkan penasihat Ufuk duduk di kursi kehormatan yang berada di hadapan kursi kehormatan raja. Disamping kanan raja, duduklah putri Angelita masih dengan hidungnya yang semakin panjang karna sang putri terus saja berbohong ketika dilontari pertanyaan oleh raja maupun sang ratu.
Rupanya, penasihat Ufuk mengerti betul permasalahan putri Angelita. Buktinya, sedari tadi ia hanya tersenyum sambil memandangi wajah putri Angelita.
“Maafkan kelancangan hamba, Tuanku… Tapi, apa pernah putri Angelita membohongi seorang nenek tua yang biasa bersemedi di gunung Sukai?” tanya penasihat Ufuk. Putri Angelita menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Sudahlah, tuan putri berkata jujur saja. Karna jika tuan putri berkata bohong maka panjang hidungnya akan semakin bertambah..” terangnya. Kali ini, putri Angelita tak bisa berbuat banyak lagi selain mengakui semua kesalahannya pada nenek tua yang pernah ia temui di pasar kota.
Penasihat Ufuk memanggut-manggutkan kepala dan mendengarkan cerita putri Angelita sampai selesai.
“Saran saya, sebaiknya putri Angelita menemui nenek tua yang pernah putri bohongi. Beliau sekarang berada di gunung Sukai. Tapi, seetelah tuan putri meminta maaf, kutukan itu tidak langsung hilang begitu saja. Selama 6 bulan, putri akan mengalami masa pencobaan. Pada masa itu, tuan putri tidak boleh berdusta sekecil apapun dan pada siapapun juga. Maka, kutukan itu akan hilang dengan sendirinya.”
Setelah tuan raja tahu bahwa semua saran penasihat Ufuk itu baik, raja langsung menyuruh putri Angelita dengan diantar oleh prajurit-prajuritnya pergi menuju gunung Sukai, meminta maaf pada si nenek tua misterius. Ketika bertemu dengan nenek tua, putri Angelita segera menghampirinya dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Baru kali ini, ia serius mengucapkan kalimat ‘maaf’ dalam hidupnya. Hati nenek pun tersentuh dan akhirnya mengembalikan hidung putri Angelita seperti semula. Hanya saja, dalam kurun waktu 6 bulan ini, putri Angelita tidak boleh berbohong sekecil apapun dan juga pada siapapun. Entah itu bohong putih atau bohong hitam. Semuanya sama. Jika putri Angelita berbohong maka konsekuensinya adalah hidung putri Angelita akan kembali panjang 2 kali lipat dari yang sebelumnya dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula lagi.
Putri Angelita berusaha melakukannya meskipun pada awalnya terasa sulit. Tapi, nyatanya, dalam 6 bulan ini, ia berhasil melewati masa-masa percobaannya. Bahkan, putri Agelita sekarang benar-benar menjadi putri yang sangat jujur meskipun sudah melewati masa pencobaannya
Load disqus comments

0 komentar