Minggu, 05 Januari 2014

Peri Gigi Tania


Tania adalah seorang gadis cilik yang rajin, baik, cantik, dan cerdas. Ia adalah anak yatim alias tidak punya ayah lagi. Ibunya, dia dan Tara, adiknya, kemudian tinggal bersama paman Joni dan tante Rani, om dan tantenya Tania.
Suatu pagi, saat Tania sedang sarapan, ia merasakan sesuatu benda yang keras. Dia mengambil benda itu dan menyadari kalau giginya patah. Memang giginya masih gigi susu dan pasti akan berganti menjadi gigi tetap. Tetapi Tania tidak mengerti kenapa giginya patah. Maklumlah, Tania masih kelas dua SD.
“Huhuhu… Mama! Huhuhu… gigiku patah! Huhuhu… aku, kan, sudah rajin gosok gigi! Huhuhu…” tangis Tania.
“Tania, itu enggak apa-apa. Gigimu akan tumbuh lagi, kok!” seru mama. Tania tetap tidak suka kalau giginya patah. Dia berpikir akan menjaga lebih ketat giginya agar tidak patah lagi.
Pagi ini Tania melihat bahwa giginya ada yang goyang. Ia segera berlari ke ruang belajar dan mengambil lem. Mama yang sedang membereskan buku-buku pelajaran di rak buku yang ada di ruang belajar kebingungan melihat tingkah Tania.
“Tania, untuk apa lem itu?” tanya mama.
“Lem ini untuk menempel gigiku, Ma” jawab Tania. Mama sangat kaget.
“Jangan, Nak, nanti gigimu bisa rusak! Gigimu nanti membusuk dan banyak cacingnya, lho!” kata mama menakut-nakuti Tania.
“Ah… Mama bohong! Lem ini, kan, cuma aku pakai sedikit! Gak bakalan membusuk, deh!” seru Tania.
“Hahaha… Kakak aneh, deh! Masa gigi mau ditempel pakai lem! Hahaha…” tawa Tara. Anak laki-laki yang kelihatan usil ini rupanya sering membaca buku tentang kesehatan di perpustakaan sekolah. Tara rajin juga, ya!
“Hmm…” Tania menggumam gak jelas. Ia meletakan lem yang ada digenggamannya ke atas meja. Tania mau mengalah karena malu terhadap adiknya. Dia tetap mencari cara agar giginya yang goyang bisa normal kembali.
“Rani, tahu gak si Tania udah agak aneh? Masa giginya mau ditempel pakai lem!” seru mama ke tante Rani, adik kandungnya.
“Ha? Yang benar, Mbak? Jangan mikirin yang aneh-aneh, deh!” kata tante Rani gak percaya.
“Enggak, Tante! Mama gak bohong, kok! Tara juga lihat kejadiannya!” seru Tara meyakinkan.
“Wah, kalau gitu kita harus membuat Tania tidak kesal lagi sama giginya yang goyang!” usul tante Rani.
“Iya! Aku punya rencana, nih, Ran!” seru mama. Mama lalu membisikan rencananya ke Tara dan tante Rani.
“Oke! Nanti malam Mbak lakukan rencana kita, ya!” seru tante Rani. Mama mengangguk.
Tok… tok… tok… pintu kamar Tania diketuk seseorang. Tania yang sedang asyik membaca buku dongeng ‘Cinderella’ membukakan pintu kamarnya.
“Sayang, kamu mau Mama bacakan dongeng?” tanya mama sambil mengelus rambut Tania.
“Mau, Ma! Ceritanya tentang apa? Judulnya apa? Ceritanya seru, gak?” kata Tania tak sabaran.
“Baik! Kita mulai ceritanya! Judulnya adalah ‘Peri Gigi’ peri yang sangat baik!” seru mama.
“Wah, bacain sekarang, Ma!” seru Tania senang.
“Di sebuah taman, hiduplah berbagai macam peri. Mereka mempunyai pekerjaan masing-masing. Ada peri pembuat makanan, peri pembuat sepatu, peri penjaga istana, peri pengembala, dan masih banyak lagi. Di antara semua peri, ada seorang peri yang suka pergi ke rumah-rumah manusia. Dia akan menukar gigi anak kecil dengan mainan atau benda yang diinginkan anak itu.
Peri gigi sebenarnya berprofesi sebagai peri kerajinan tetapi, ia tetap rajin ke rumah-rumah manusia. Peri gigi yang baik hati bisa mengabulkan permintaan si anak jika anak itu mengirim surat bertulis keinginan si anak. Kertasnya harus bagus dan di amplopnya ada nama anak ini. Peri gigi akan membaca surat dan menyiapkan hadiah untuk anak itu!” kata mama yang sedang bercerita.
“Lalu, gigi anak-anak yang patah mau diletakan dimana sebagai ganti dari hadiah yang diberikan oleh peri gigi?” tanya Tania.
“Letakan saja giginya ke dalam botol atau plastik kecil lalu diletakan ke bawah bantal!” jawab mama.
“Ooo… gitu, ya? Aku mau coba, Ma!” seru Tania.
“Boleh! Besok Mama akan membelikan botol kecil untuk percobaan kamu, Tania!” balas mama. Mama mematikan lampu kamar Tania dan menutup pintu kamar Tania rapat-rapat.
“Tania ini botol yang kamu minta!” seru mama sambil menyerahkan sebuah botol kecil untuk Tania. Tania melompat-lompat karena saking senangnya.
“Asyik! Kebetulan gigiku ada yang patah!” seru Tania seraya meletakan giginya ke dalam botol yang sudah dibeli mama. Dia mengambil kertas dan amplop lalu menulis surat.
Untuk Peri Gigi
Dari Tania Salsabila
Peri gigi, aku mau minta mainan rumah-rumahan yang besar dan bagus. Rumah-rumahannya kalau bisa yang ada empat orang dan seekor anjing kayak punya kawan-kawanku, ya, peri gigi! Aku mohon kabulkan permintaanku, peri gigi!
Tania meletakan surat dan giginya ke bawah bantalnya sebelum ia tidur. Ia membaca doa dan kemudian tertidur.
Pagi ini, Tania melihat sebuah rumah-rumahan yang sangat cantik dan mirip seperti permintaannya. Dia mengangkat bantalnya dan menyadari bahwa gigi dan surat miliknya sudah hilang.
“Hore! Peri gigi datang mengunjungiku!” teriak Tania senang “Mama! Peri gigi tadi datang!”
“Oh, ya? Baguslah, Nak! Mama ada beli botol mirip botol yang kemarin, lho!” kata mama sambil menyerahkan botol kecil mirip botol yang lama.
“Ya! Aku akan melakukan percobaan ini lagi!” seru Tania. Dia sangat senang.
Sudah dua minggu Tania mendapat hadiah dari peri gigi. Giginya banyak yang patah. Dia menyadari hanya sisa satu gigi susu yang belum patah. Ia berpikir apa hadiah terakhirnya. Ia tak mau menyia-nyiakan hadiah terakhirnya.
“Hmm… aku harus meminta sesuatu yang berharga! Apa, ya, benda yang belum aku punyai?” gumam Tania “Aha! Aku tahu apa yang paling kuinginkan!” Tania menulis sebuah surat.
Untuk Peri Gigi
Dari Tania Salsabila
Peri gigi, ini adalah permintaan terakhirku. Gigiku tak akan ada yang patah lagi kecuali dicabut. Aku ingin kamu menunjukan dirimu! Kumohon kali ini saja! Kumohon! Aku janji tidak akan memberi tahu siapa-siapa!
Seperti biasa, Tania meletakan surat itu dibawah bantalnya. Ia pun membaca doa dan tertidur.
Krasak… krusuk… terdengar suara ribut di kamar Tania. Tania membuka matanya dan menatap ke segala arah. Si… si… siapa itu? pikir Tania ketakutan. Ia melihat sebuah bayangan. Ia menatap lekat-lekat bayangan itu. Ah… itu Mama, Tante Rani dan Tara! pikir Tania.
“Mama, Tante Rani, Tara? Ada apa disini?” tanya Tania. Ketiga bayangan yang merupakan peri gigi bagi Tania itu menghampiri Tania.
“Ya, Nak! Kami yang menjadi peri gigi kamu!” seru mama sambil mengelus rambut Tania.
“Semua benda itu kami yang beliin!” kata Tara. Ia melompat ke kasur kakaknya.
“Kami tahu ini adalah gigi terakhirmu, jadi kami akan memberikan buku cerita peri gigi ini!” seru tante Rani sambil menyerahkan buku cerita yang judulnya ‘Peri Gigi dan Gigi Anak-anak!’. Tania senang sekali.
“Hisk… terima kasih, ya, semuanya! Hisk… kalian memang peri di duniaku! Hisk…” isak Tania terharu.
“Ya, Tania! Kami semua sayang padamu!” balas tante Rani. Semuanya memeluk Tania.
“Ma, semua gigiku Mama buang kemana?” tanya Tania kembali ceria.
“Ha? Gigi? Gigi apa? Kami gak pernah mengambil gigimu! Setiap hari kami hanya melihat surat saja!” seru tante Rani.
“Lho? Jadi yang ngambil gigiku adalah peri gigi? Siapa yang ngambil gigiku?” tanya Tania heran.
“Emangnya peri gigi itu ada, ya?” kata Tara.
Hehehe… kalau kita lanjutin terus cerita ini, gak bakalan ketemu, deh siapa yang ngambil gigi Tania. Jadi ceritanya sampai sini saja, ya! Bye… see you…
Load disqus comments

0 komentar