Minggu, 05 Januari 2014

Nan Toa


“Jas merah”. Aku teringat akan pesan presiden perdana Republik Indonesia, dalam buku sejarah yang ku pinjam di pustaka daerah kemarin. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” itulah maknanya.
Hari ini, happy birthday ke Sembilan kabupaten daerahku, tepatnya 22 Oktober. Semangat patrionisme dalam dadaku memberontak keluar, seakan ikut berjuang kembali bersama Jendral Sudirman walau hanya bersenjata bambu runcing. Kemenangan akan selalu muncul dibalik semangat yang membara.
Aku bersiap menuju peraduan menimba ilmu, menunggu angkutan sekolah bersubsidi yang biasanya menjemput pukul Enam Setengah. Bersama teman sekampungku, Andi. Kami angkatan 1997. Empat puluh dua menit melaju, kami terjun di depan gerbang SMAN 1.
“Masih awal, gimana kalau kita ke kantin Pak Tomo”. Hasutku pada Andi. Pak Tomo guru Sosiologi di kelasku, Ia belum pulang dari kebunnya. Menasehati monyet-monyet nakal yang usil. Agar jangung manisnya tumbuh normal.
“Ayolah”, jawab Andi sambil melirik jam tangan hitam yang melingkari gelangan tangan kirinya.
“Kring, kring, kring,” terdengar raungan lonceng. Tanda Upacara bendera akan segera dilaksanakan.
“Topi, Oke. Sepatu, Oke. Rambut, No problem,” batinku. Mengingat selalu ada razia atribut.
“Aduh. Aku lupa ikat pinggang” rintih Andi.
“Terus gimana, nih?,” tanya ku khawatir. Saat upacara Pak Lubis: Guru kimia yang Killer, senang sekali menggeledah kesalahan anak didiknya. Dia sangat perhatian. Mungkin itu demi melatih kedisiplinan. Tanpa disiplin kita tidak akan sukses. Itulah Motonya.
“Begini sajalah,” cetus Andi, sambil menyodorkan sedikit bagian bawah baju putihnya, menutupi lingkaran pinggang.
“Yakin?” godaku.
“Aman, aman.” singkat Andi.
Kami menuju lapangan, dengan gerakan Sa’i : lari-lari kecil mirip jamaah haji di tanah Suci : Mekah. Setiap kelas berkumpul dan rapi berbaris bersama kelas masing-masing, jama’ah guru juga tepat di sisi kanan depan lapangan, 10 meter arah kanan tiang bendera.
Upacara dimulai, protokol mengeraskan suara bernada reporter dengan kecepatan 10 Km/jam. Komandan upacara, Tegas mengambil alih pasukan. Inspektur di jemput seorang ajudan bak bupati ketika menghadiri kondangan. Pandangan kami Lurus kedepan. Menerobos buaian cahaya yang melintas. Kaku, siap, dan serius. Tiga sosok : dua pria mengapit seorang wanita melangkah serentak, kaki silang-menyilang seperti hendak terbentur, namun itu mustahil. Mereka ahli. Tegap, tegas, bagai robot buatan Amerika. Merah putih di ulur menuju punjak kejayaan, melambai-lambai, tenang dan damai tersapu angin. Gema Indonesia raya menggelegar halaman. Motor, mobil dan sepeda yang lalu-lalang terpaku. Patriotisme bergejolak.
“Hiduplah Indonesia raya,” sayup-sayup lagu serentak berhenti. Gejolak patrionisme membara bagai api tersiram bensin tiga liter. Sang berani dan si suci telah menjulang, siap melayani sapaan awan. Melambai-lambai ria, mengingat tentara Belanda yang telah lama kocar-kacir.
Pak Hairul-Inspektur upacara terpancang tegak, tegap dan wibawa. Persis Soekarno kala 17 agustus 1945 yang tanpa teks di tangannya.
“Istirahat di tempaaaaat,” gaung komandan bernada guruh. Aku menikmati sinaran mentari pagi yang mengalirkan Vitamin D untuk penguatan tulang-tulangku. Terus berdiri dengan posisi kedua tangan terlingkung di belakang, tepat di atas bagian bokong. Protokol mengisyaratkan amanat Pembina upacara. Inspektur beraksi. Beberapa bait yang terekam dalam memori Super Giga titipan Tuhan kepadaku.
“kita patut bersyukur, hari yang berbahagia ini : Ulang tahun ke-9 Kabupaten kita. Jadikan moment ini untuk memacu semangat pendidikan kalian, bangunlah daerah ini memalui pendidikan, perkembangan pendidikan berbanding lurus dengan perkembangan daerah. Sebagai anak daerah kalian dituntut menguasai daerah. Menjelajah, Menggali potensi, dan mengembangkan kretifitas. Awali dengan sejarah daerah ini, dengan sejarah kita dapat dengan sempurna memahami sesuatu hal dari akar-akarnya. Begitu juga dengan Kabupaten ini, ungkapan “laut sakti rantau bertuah” harus kalian pahami.
Potensi alam tidak terhingga, ciptaan Tuhan yang kuasa memang tak terkira. Cadangan Gas alam 40% dari gas dunia. Laut terbentang 98% menggerogoti daratan. Cintailah daerahmu dengan berbuat hal yang berguna.”
Empat puluh satu menit sebelas detik. Kami tercengang. Masih kaku. Kaki terasa keram, ubun-ubun terserang demam dengan amper 100 derajat Celsius. Sengat mentari seakan berjarak beberapa kilo meter dari kepala. Panas, haus, dan menyenangkan. Upacara dibubarkan. Semangat Indonesia raya mesih tertanam, terus tertanam dan tetap tertanam.
Sore ini, Aku bersama teman sekelas, menuju pantai kencana. Persis pantai Nusa dua : Bali yang tanpa turis. Permainan rakyat dipajang memenuhi luasan tanah kuning, di atapi awan putih nuansa bias laut yang biru. Sepoi-sepoi melanda menghanyutkan pandangan, menerpa jiwa, menusuk sanubari, membuat membahana para pengunjung. Panjat pinang 3,5 meter dengan peserta 4 orang ditambah 1 orang. Bergelantungan kupon-kupon, melambai-lambai menunggu seorang pahlawan penyelamat : bermandikan Oli kotor. Merayap di pokok pinang. Tarik tambang antar kecamatan, tepat di sudut utara. Bersorak supporter bagaikan Derby manchester akan bertanding sore ini di stadion Old Trafford – Inggris. Sebelah selatan, tiang-tiang seukuran betis tercancang. Berbaris lingkar. Terdengar suara hitungan. “Satu, Ikat kepala. Dua, gulung penuh. Tiga, siap-siap”.
Benda pipih yang berputar dilemparkan bersamaan ke tanah, pak cik-pak cik sibuk memulung kembali menggunakan skop khusus: berbentuk sendok nasi namun agak besar dan rata terbuat dari triplek. Gasing tetap berputar. Menari-nari di atas kaca. Pakcik-pakcik duduk rapi. Posisi nol besar persis mengelilingi api unggun di malam penutupan camping : pramuka.
Terus berputar. Tiga puluh menit berlalu, lima gasing berhenti berputar. Mundur dari arena. Empat puluh tujuh menit, tersisa dua gasing. Bersaing ketat. Saling menunjukkan potensi. Meliuk-liuk, namun putaran semakin lembut nan lamban. Pertanda tenaga listrik : Baterai melemah. Lima puluh dua menit. Jawara bertahan. Angka dua juta rupiah sudah dibenak pak cik: Tuan gasing hitam nan berkilau. Juri mengintrogasi jawara. Mengukur diameter kemudian membelah dada sang gasing, khawatir ada besi atau timah yang memberatkan hingga perputaran gasing menjadi lebih lama. Tamatlah sang juara. Tuannya tentu tidak merasa iba. “Itulah aturan main yang disepakati,” jawabnya ketika kami tanya.
Kelompok ibu-ibu riuh di sisi tenggara, mengayam ketupat sambil berjalan. Gemuruh, nyaring dan menggelora. Hari mulai gelap, bukan karena corak hitam yang menggantikan awan putih. Mentari tersipu malu, cahaya memudar. Akibat rotasi bumi yang mengelilingi matahari hingga tercipta siang dan malam. Maghrib akan bertamu. Kami melangkahkan gerakan kaki ke arah peraduan, memaksa diri menuju rumah masing-masing.
Ingatanku terus berkobar. Penarasan tentang sejarah daerah ini semakin kuat. “Semua hal pasti ada sejarahnya”, pikirku. Manusia berasal dari tanah, sejarah dalam al-quran. Namun evaluasi Darwin bertentangan, Manusia berasal dari kera. Samakah sejarah daerah ini dengan perjalan Columbus yang menemukan daratan. Negeri Paman Sam itu. Siapakah manusia pertama pulau ini?, dari mana nama daerah ini dibuat?, Pertanyaan menyerang otak miniku. Aku pusing. Berharap terlelap lebih awal malam ini.
Harapan bermimpi tentang semua hal yang dipertanyakan di benakku, walau mimpi hanyalah bunga tidur. Itu sedikit memberikan jawaban. Aku mulai merangkai mimpi. Kawan, ternyata mimpi bisa dirancang. Aku pernah membaca di media massa. Tips merancang mimpi. Salah satu baitnya, “pikirkan terus menerus apa yang ingin kamu impikan hingga matamu terpejam.” Insyaallah hal itu menjelma dalam mimpimu. “Malam ini moment tepat untuk mengaplikasikannya”, pikirku. Benar saja, aku pun bermimpi sesuai rencana. Mimpi yang tak dapat dirangkai dalam sastra. kelu bila di ungkap pada bibir. Terputus-putus dalam dunia ingatan.
Pagi ini mata pelajaran sejarah di kelasku. Pak Usman menampakkan posturnya yang kurus tinggi legam di ruang tunggu para guru. Sebuah lorong yang dihuni bergantian oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Sebelum berangkat berjuang berbagi ilmu pada penerus kecil yang setia menunggu di bilik kelas.
“Assalamu a’laikum,”
“Walaikum salam,” nada kami serentak.
“Selamat Pagi,” sapa Pak Usman.
“Pagi,” suara gemuruh bersamaan kembali menggelegar dalam kelas. Pelajaran Berlangsung. Aku dan Andi duduk bersebelahan. Tepat di sudut kanan, menempel di tembok bercorak putih orange. Baris ke dua dari muka. Aku kembali sakau. Ingin tahu sejarah daerahku. Sejarah amat penting bagiku demi menyelami lebih dalam potensi daerah ini dan demi kecintaanku pada tanah tumpah darah.
“Ini kesempatannya” batin ku. Tiga puluh menit lewat lima puluh satu detik. Pelajaran hampir selesai.
“Ada pertanyaan?,” Pak Usman melontarkan kalimat penting bagi muridnya. Kadang saat murid tidak bertanya itu tandanya paham, kadang pula murid itu paling tidak paham sehingga tidak bisa bertanya.
“Saya, Pak?,” sontak Aku mengacungkan tangan.
“Iya, Apa pertanyaanmu?,”
“Bisakah bapak bercerita tentang sejarah daerah ini?”
Pertanyaanku membuat Pak Usman harus mengulang kaji. Kembali ke singgasana merah tua : kursi. Melipat tangan, menegakkan badan dan memulai merangkai cerita.
“Pertanyaan bagus” puji Pak Usman bernada rata. Dia mulai melangkahkan kata-katanya. Seperti yang dijelaskan ilmu Fisika bahwa suara bisa di dengar manusia karena merambat melalui udara. Corong-corong rekaman dalam otak kanan dan kiri telah di aktifkan. Siap menangkap semua huruf, semua kata dan semua kalimat yang disampaikan Pak Usman.
“Kala itu adalah masa Pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan asal Sumatra. Ada seorang pendeta cina yang menjelajah laut cina selatan kemudian beristirahat dan singgah di Sriwijaya. Pendeta itu Bercerita bahwa dia sebelum sampai ke Sriwijaya telah mengarungi laut dan berjumpa gugusan pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau besar itu dalam bahasanya di ungkapkan “NAN TOA”. Nan yaitu Pulau, Toa berarti Besar. Berangkat dari ungkapan tersebut, kemudian di adopsi masyarakat setempat menjadi sebutan NATUNA.”
Kami semua terdiam, merekam, menikmati, dan menangkap ide cerita. Pengetahuan baru tercipta di buku lintang ilmuku. Mempatri jejak-jejak yang di ukir Pak Usman. Melukis nuansa indah dalam hati bak lukisan manohara yang terkenal. Andi mendekatiku, mengganggu khayalanku, mengagetkan ku.
“Begitu rupanya,” kata Andi.
“Apanya?” sahutku sambil menepuk pundaknya.
“Cerita Pak Usman tadi, Benar atau Tidak, Ya.?”
“Entahlah, Aku percaya karena Ia lebih tua dari kita, pun di guru, kan.?” Jelasku.
Perjalanan menunggu Bis pulang sekolah, suasana hati terisi penuh, penasaran kabur. Angka-angka sejarah di benakku menghilang. Aku meyakinkan Andi.
“Mungkin saja NANTOA itu susah penyebutannya bagi pribumi kita,” Kata ku.
“Bisa saja, Kakek kita mungkin lebih mudah menyebutnya NATUNA” Ungkapan setuju Andi. Kami menuju perut angkutan itu. Melelepas kepenatan. Menunggu setengah jam lebih sejak pukul 12.30 bel pertanda pulang berjerit
Load disqus comments

0 komentar