Minggu, 05 Januari 2014

Kutukan Sang Penyihir



Di pinggir hutan yang lebat, hidup laki-laki tua bersama seorang anaknya yang telah dewasa. Pemuda tersebut selalu tinggal di rumah. Sang ayah tidak mengizinkannya untuk pergi jauh, apalagi masuk ke dalam hutan. Dia takut anaknya akan mengalami nasib yang sama seperti sang istri yang meninggal akibat diterkam binatang buas.
Sang anak selalu berusaha membujuk ayahnya untuk agar diizinkan masuk kedalam hutan. Tapi jawaban yang dia dapatkan selalu sama yaitu sebuah penolakan. Sang anak bersikukuh kalau dia telah dewasa bukan anak kecil lagi. Namun tetap saja, apapun alasan sang anak sang ayah tetap tidak bergeming dari pendiriannya.
Suatu hari sebuah kesempatan yang telah ditunggu-tunggu selama ini datang. Sang ayah akan pergi ke kota untuk belanja keperluan sehari-hari. Namun sebelum berangkat, sang ayah berpesan kalau dia akan pulang terlambat karena harus menemui teman lamanya di kota.
Ketika sang ayah pergi, pemuda itu segera mengambil panah. Ia berhasrat sekali untuk mengetahui apa yang ada di dalam hutan. Ia segera melangkah pergi meninggalkan rumah dan masuk ke hutan. Didalam hutan pohon-pohon besar tumbuh menjulang tinggi. Suara burung-burung berkicau di dahan dan puncaknya.
Sang pemuda melihat seekor burung bertengger di dahan pohon. Dahan itu cukup rendah untuk jangkauan anak panah. Segera sang pemuda membidiknya. Anak panah melesat cepat dan tepat mengenai sayap burung. Burung tersebut jatuh. Sang pemuda segera menuju tempat dimana jatuhnya burung. Ia terus mencari dan mengikuti arah jatuhnya burung tersebut. Namun, ia tak melihat apapun disana. Sang pemuda segera menelusuri semak-semak yang tumbuh di atas akar-akar pohon yang muncul ke atas tanah. Ia yakin burung itu ada disana. Namun tetap saja, tak ada hasil, bahkan anak panahnya pun tak terlihat. Ia meneruskan di sisi lain. Dari satu pohon ke pohon lainnya.
Ia tak menyadari kalau dirinya telah masuk jauh ke dalam hutan. Segera setelah sekian lama mencari dan hanya berputar-putar, sang pemuda sadar kalau dia telah tersesat jauh ke dalam hutan. Matahari hampir tenggelam. Suasana gelap mulai menyelimuti hutan. Sang pemuda mencoba kembali dengan menelusuri lagi jalannya. Namun semua itu sia-sia, ia hanya mendapati dirinya berputar-putar di tempat yang sama.
Malam telah datang, dan suasana hutan berubah mencekam. Sang pemuda sadar kalau ia takkan bisa kembali pulang ke rumah. Ayahnya pasti marah. Apalagi ia mendengar cerita kalau banyak hewan buas yang tinggal di hutan. Ia sangat ketakutan kalau-kalau bertemu hewan buas itu. Lebih-lebih ini adalah pertama kalinya ia masuk jauh ke dalam hutan. Gelap menambah rasa takutnya semakin tinggi.
Tiba-tiba ia mendengar lolongan serigala. Lolongan itu terdengar semakin dekat. Bulu kuduknya mulai naik. Dipejamkan matanya. Ia berharap serigala itu tak mendatanginya. Tangannya berusaha menggenggam busur panah. Ia mencoba memberanikan diri untuk berjaga-jaga kalau serigala itu mendekat. Tetap saja, tangannya masih gemetar oleh ketakutan meski sebuah anak panah telah siap untuk dilepas ke sasaran.
Suara itu mendekat dan tanpa berpikir panjang, sang pemuda segera melepas anak panah ke arah datangnya suara. “Bukk”, terdengar suara benda jatuh di sana. Dengan sedikit cahaya bulan, sang pemuda mencoba melihat lebih jelas apa yang telah ia panah. “Hei kau, sedang apa disana”, terdengar suara wanita agak parau. Sang pemuda segera menoleh. Matanya langsung terbelalak. Ia sangat terkejut bercampur takut. Sesosok wanita tua telah berdiri di hadapannya. Wanita itu memegang tongkat dan diujung atasnya menyala terang sehingga membuat wajahnya terlihat jelas. Wanita itu menatap tajam ke arah sang pemuda.
“Ampun, aku hanya penduduk desa yang tersesat di hutan, aku tak tahu jalan pulang,” kata pemuda ketakutan. Busur ditangannya terlepas. Ia kemudian bersimpuh. “Anak muda, berani sekali kau memanah peliharaanku,” ujar wanita itu. “Aku adalah penguasa hutan ini, aku adalah penyihir, kalau aku mau kau akan kusihir jadi kelinci biar kujadikan umpan serigalaku, hahahaha”, lanjutnya dengan tawa yang menakutkan. Sontak seluruh hutan menjadi sunyi.
“Aku mohon… aku jangan diapa-apakan… aku tidak bermaksud memanah, sungguh… aku hanya ketakutan dan tak sengaja terlepas”, kembali sang pemuda berkata ketakutan. Kali ini ia tak mampu lagi menutupi rasa takutnya. Kakinya serasa kaku. Kata-katanya terbata-bata. Mulutnya mulai tercekat.
“Sebagai hukumannya, kau harus ikut bersamaku,” seru sang penyihir. “Ba… baiklah, aku akan menuruti semua keinginanku, tapi aku mohon jangan sihir aku jadi kelinci,” jawab sang pemuda. Rasa takut masih menggelayut di tubuhnya. Sang pemuda segera berdiri. “Ayo cepat,” kata sang penyihir. Ia segera berbalik arah untuk masuk lebih dalam ke hutan. Dibelakangnya, sang pemuda dengan langkah gontai mengikutinya.
Mereka tiba di sebuah rumah besar. Sang pemuda segera masuk ke dalam rumah. dia berada di ruangan besar dengan meja dan bangku panjang yang berjajar di sisi kanan-kirinya. Namun sebuah meja lebih besar berada di ujung aula. “Mendekatlah,” perintah sang penyihir. Kali ini rasa ketakutan sang pemuda berangsur hilang. Ia mendengar suara yang berbeda dari sang penyihir.
Sang pemuda duduk di hadapan penyihir itu. “Jangan takut kepadaku, aku bukan penyihir yang banyak diceritakan orang-orang. Aku tidak membunuh manusia. Aku sendiri juga manusia seperti mereka”, katanya lembut. Aneh sekali tiba-tiba terasa suasana berbeda di dalam rumah ini. Tidak tampak mencekam seperti baru saja tiba di depan pintu. Seorang wanita lainnya berjalan mendekati sang penyihir. “Pelayan, siapkan makanan, juga kamar terbaik untuk tamu kita,” seru sang penyihir kepada wanita itu yang ternyata adalah pelayan rumahnya. Tanpa berbicara, ia menganggukkan kepala dan segera pergi.
“Tenang saja, kau aman disini. Besok kau bisa pulang. Saat ini bermalamlah dulu disini. Pelayanku akan menyediakan semua keperluanmu,” ujar sang penyihir disertai senyuman riang. Sang pemuda hanya mengangguk tak mengerti. Ia merasa aneh dengan kejadian semua ini. “Ayo kuantar kau ke kamarmu”, ajak sang penyihir. Mereka segera meninggalkan ruangan dan berjalan naik ke lantai dua melewati tangga yang berada di sudut kanan ruangan itu. Di lantai dua, sang pemuda melihat banyak kamar-kamar dengan pintu tertutup rapat. “Ini kamarmu, istirahatlah dengan tenang”, kata sang penyihir. Sang pemuda segera masuk kamar itu dan menutup pintunya.
***
”Besok pagi kau harus cepat pergi dari sini”, ujar sang pelayan. “Mengapa, bukankah penyihir itu sangat baik,” kata sang pemuda dengan bimbang. “Kau tak mengerti, ikuti apa saranku, besok kau minta izin untuk pulang dan jika dia ingin memberimu hadiah, katakan kau menginginkan seekor kuda dan seruling,” timpal sang pelayan. Wajahnya sedikit gusar. Setelah meletakkan selimut dan makanan di meja, ia segera keluar. Sebelum menutup pintu, ia kembali berkata, “ingat pesanku, turuti jika kau ingin selamat”. Ia segera menutup pintu dan pergi.
Sang pemuda masih tak mengerti maksud kata-katanya. Segera saja matanya tertuju ke makanan yang ada di atas meja. Perutnya sangat lapar sekali karena sejak siang belum terisi. Dengan lahap dia makan makanan itu tanpa tersisa. Setelah makan, ia mengambil selimut dan menuju ranjang untuk tidur. “Banyak kejadian aneh hari ini”, gumamnya. Matanya segera terpejam.
Pagi telah tiba dan sang pemuda segera bersiap-siap meninggalkan rumah sang penyihir. Setelah berpakaian rapi, dia keluar dari kamar dan segera ke lantai dasar. Setiba menginjakkan kaki di lantai bawah, ia melihat sang penyihir sedang duduk di tempat sama seperti tadi malam. “Kau sudah bangun?”, tanyanya tiba-tiba. “Ya, aku bangun pagi-pagi untuk minta izin pulang ke rumah. aku takut ayah mencariku karena mengetahui aku tak berada di rumah.” kata sang pemuda. “Kalau begitu, aku akan beri kau sesuatu untuk menemanimu pulang,” ujar sang penyihir dengan senyum mengembang di bibirnya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya lagi. Sang pemuda segera berpikir, apakah ia akan menuruti apa kata-kata pelayan itu semalam atau permintaan lain. Ia yakin sang penyihir dapat melakukan apapun. Tapi ia ingat kata-kata terakhir dari pelayan itu.
“Aku ingin seekor kuda yang ada kandang belakang rumah ini dan sebuah seruling”, jawab sang pemuda. Sang penyihir terkejut dengan permintaan pemuda itu. Ia segera berkata, “Tidakkah kau menginginkan yang lain, mungkin harta yang banyak untuk membuatmu kaya”. “Tidak, aku ingin seekor kuda untuk membawaku pulang ke rumah, karena kakiku masih lelah untuk berjalan jauh, dan seruling untuk menemaniku di perjalanan,” timpal sang pemuda.
Dengan ragu-ragu sang menyihir mengabulkan permintaan pemuda itu. “Ambillah yang kau inginkan”, kata penyihir seraya mengeluarkan sebuah seruling dari balik jubahnya. “Kudamu ada di belakang rumah, kau bisa ambil sendiri dan dapat segera pergi,” lanjutnya.
Sang pemuda segera keluar rumah dan berjalan ke arah belakang. Disana ia melihat pelayan itu sedang mengeluarkan seekor kuda hitam yang sangat gagah. “Bawa kuda ini pergi menjauh, kuda ini akan menuntunmu pulang kerumah”, kata sang pelayan. “Terimakasih”, balas sang pemuda. Tanpa banyak kata-kata lagi ia segera naik ke punggung kuda dan pergi meninggalkan rumah itu.
***
Di dalam hutan sang pemuda menghentikan laju kudanya. “Tunggu dulu, aku kan tidak tahu jalan pulang, bisa-bisa aku tersesat lagi, bagaimana ini?” gumamnya. Ia sadar kalau tak ada artinya pulang, kalau ia sendiri tak tahu jalan menuju kerumahnya. “Untuk apa kau pulang kerumah, kau telah dewasa, lebih baik pergi ke kota kerajaan, ada banyak hal menarik disana,” sebuah suara tiba-tiba terdengar oleh pemuda itu. “Siapa itu, siapa yang berbicara?”, teriak pemuda. Ia terkejut sekaligus cemas. Jangan-jangan penyihir itu sedang mengikutinya atau lebih parah lagi ada penyihir lain di hutan ini. “Hei kau, lihatlah depanmu, aku yang berbicara, aku kuda yang sedang kau tunggangi”.
Sang pemuda kembali terkejut. “Kau… kau bisa berbicara”, suaranya terbata. Ia tak mampu menyembunyikan keterkejutannya kali ini. Kuda hitam yang ia naiki bisa berbicara. “Ya, aku bisa bicara, sekarang tenanglah. Aku akan membawamu ke kota kerajaan”, timpal sang kuda. “Apa maksudmu ke kota, aku ingin pulang ke rumah. ayahku pasti sangat marah”, sergah sang pemuda. “Kau telah dewasa, tentukan nasibmu sendiri. kota memiliki banyak hal menarik. Kau bisa mendapatkan apapun disana”, jawab sang kuda. “Sekarang pegang erat tali kekang itu, aku akan berlari cepat ke kota”, tanpa menunggu jawaban sang pemuda, kuda hitam itu segera melesat cepat meninggalkan hutan dan menuju kota. Sang pemuda hanya terdiam. Ia masih berpikir apa yang dikatakan sang kuda. Benar sekali aku telah dewasa dan akan kutentukan nasibku sendiri, pikirnya.
***
Sesampai dikota, semua orang memandang kuda yang dimiliki pemuda itu. Kuda yang sangat bagus dengan perawakan yang gagah. Berita tentang kuda yang dimiliki oleh sang pemuda tak dikenal sampai ke telinga raja. Raja penasaran dan ingin melihat kuda itu. Kalau memang sangat bagus seperti apa yang ia dengar, ia ingin sekali memilikinya.
Sang pemuda diundang ke istana. Setiba diistana, sang pemuda memperkenalkan diri dan menunjukkan kudanya. Sang raja bukan main senangnya. Ia tak menyangka apa yang dibicarakan banyak orang ternyata benar. Kuda hitam itu tidak hanya sangat bagus tapi memiliki wibawa yang berbeda dari kuda lainnya.
“Anak muda, aku ingin memiliki kudamu, dan akan aku beli. Sebutkan berapa harganya, berapapun yang kau minta akan aku bayar, asalkan kudamu menjadi milikku,” pinta sang raja. Hasratnya terhadap kuda itu sangat kuat. Ia ingin menjadikannya kuda pilihan. “Maaf paduka, kuda hamba tidak dijual. Tapi jika paduka berkenan, hamba akan membiarkan kuda ini tinggal di kandang kuda istana. Kuda hamba akan membuat seluruh kuda kerajaan menjadi sebagus kuda hamba. Kuda hamba memiliki kekuatan ajaib karena mampu membuat kuda yang buruk menjadi sangat baik. Bahkan yang sudah tua berubah menjadi muda.” Sahut sang pemuda. “Jika benar yang kau katakan, baiklah. Akan lebih baik memiliki kuda-kuda bagus yang banyak karena sangat menguntungkan kerajaan. Kalau begitu bawa kudamu ke kandang kuda istana. Pegawaiku akan mengurusnya dengan baik”, perintah sang raja.
Setelah tinggal di kandang kuda istana. Seluruh kuda kerajaan berubah menjadi lebih baik. Semua prajurit merasakan kudanya lebih bertenaga dan sangat tangkas dari biasanya. Hal tersebut membuat sang raja sangat gembira. Sebagai imbalannya, diangkatlah pemuda itu menjadi salah satu pegawai kerajaan. Kuda hitam yang dibawanya telah menyebabkan banyak perubahan yang telah menguntungkan kerajaan dan itu telah terbukti.
Namun dibalik semua itu, ada seseorang yang tak suka dengan perubahan kuda-kuda kerajaan yang bertambah bagus. Ia adalah pengurus kuda istana itu sendiri. ia merasa kecewa karena pekerjaannya telah tergantikan. Dengan segenap upaya ia berusaha menghasut raja untuk menyingkirkan kuda milik pemuda itu. Ia mengatakan kalau pemuda itu adalah penyihir jahat. namun sang raja tidak terpengaruh oleh hasutannya.
Setelah berupaya keras dan tidak berhasil. Sang pengurus kuda istana mndapatkan satu cara. Ia mendatangi raja dan meminta raja jika benar kuda hitam milik pemuda itu adalah kuda ajaib maka kuda itu pasti bisa mendatangkan kuda kesayangan raja yang hilang di medan perang lima tahun lalu. Sang raja menanggapi serius apa yang disampaikannya. Keesokan hari ia memanggil sang pemuda.
“Untuk membuktikan kalau kau benar-benar abdi kerajaan, bisakah kau melaksanakan perintahku untuk mencari kuda kesayanganku yang hilang di medan perang lima tahun lalu. aku menganggap ini sebagai ajang pembuktian bagi dirimu. Sanggupkah kau melaksanakannya, jika gagal kau tinggalkan istana dan kudamu menjadi milikku”, perintah sang raja. “Hamba sanggup paduka, akan hamba laksanakan”, jawab sang pemuda.
“Bagaimana bisa mencari kuda yang telah lama hilang?,” tanyanya kepada sang kuda. “Kau tenang saja aku akan membantumu. Jangan lupa bawa seruling yang diberikan penyihir kepadamu. Besok kita akan menuju tepi sungai untuk mencari kuda milik paduka”, jawab sang kuda. “Tapi kau yakin bisa melakukannya”, tanyanya kembali. “Aku yakin, sekarang siapkan sebuah pelana”, pinta sang kuda.
Keesokan harinya, sang pemuda bersama kuda hitamnya pergi ke tepi sungai. Sang pemuda melihat diseberang sungai adalah tepi hutan yang cukup lebat. “Apakah kuda milik paduka ada di hutan itu?” tanya sang pemuda sambil menunjukkan jari ke arah seberang sungai. “Kau tidak akan mencarinya, tapi memanggilnya. Sekarang bunyikan serulingmu tiga kali. Dan lihat apa yang terjadi”, perintah sang kuda. Tanpa bertanya lagi sang pemuda segera meniup serulingnya seperti yang diperintahkan sang kuda. Setelah tiga kali tak satupun kuda yang keluar dari dalam hutan.
“Tidak terjadi apa-apa,” katanya disertai rasa ragu. “Tunggulah sebentar, kau akan mendengar derap langkah kuda keluar dari dalam hutan”, timpal sang kuda dengan tenang. Benar sekali tak berapa lama, sang pemuda mendengar derap langkah kuda bergerak mendekat. Ia melihat seekor kuda di seberang sungai. Tapi, tunggu dulu, tidak hanya seekor yang datang, ada tiga ekor kuda. Masing-masing berbulu hitan, kelabu, dan putih. “Yang mana kuda paduka, apakah semuanya?” tanyanya kembali. Ia masih belum yakin kalau semua yang dilihatnya benar.
“Biarkan mereka menyeberangi sungai. Kuda yang berhasil tiba disini pertama kali, itulah kuda milik paduka”, jawab sang kuda. Ketiga kuda itu segera menyebrangi sungai. Ketika tiba di tengah-tengah sunga kuda berwarna kelabu tiba-tiba menghilang. Tak lama diikuti kuda berwarna hitam. Sang pemuda masih tak percaya apa yang dilihatnya. Kuda yang menghilang berubah menjadi sebatang kayu yang segera hanyut terbawa arus.
“Cepat lemparkan pelanamu, kuda putih itu milik paduka,” pinta sang kuda. Dengan sigap sang pemuda segera memasang pelana. Yang telah disiapkannya. Ia segera membawa kuda putih itu ke istana untuk ditunjukkan kepada raja.
Sesampainya di istana, sang raja terkejut sekali. Kuda kesayangannya yang telah pergi, kini kembali. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada sang pemuda. Ia masih belum percaya apa yang dilihatnya. “Ini benar-benar kudaku, kuda kesayanganku. Dan telah kembali”, sorak sang raja. ia sangat gembira.
Namun dibalik kegembiraan itu, sang pengurus kuda istana kembali kecewa melihat apa yang terjadi. Tidak disangka siasatnya malah berbalik arah. Sang raja menjadi lebih percaya pada pemuda itu. Namun ia tak kehabisan akal. Ia mencoba satu siasat lagi. Saat raja sendirian, ia mendekatinya. “Paduka, hamba sangat gembira dengan kembalinya kuda kesayangan paduka. Tapi tidakkah paduka berpikir, jika pemuda itu dan kudanya sanggup mengembalikan kuda kesayangan paduka, tentunya mereka sanggup membawa kembali sang permaisuri yang telah lama pergi”, katanya. Ia tersenyum culas dan menunggu reaksi sang raja. Dengan ragu sang raja berkata, “kata-katamu benar juga. Aku telah lama merindukan istriku. Dia menghilang entah kemana dan sampai kini pun aku masih mencarinya. Lebih baik kuminta saja pemuda itu untuk mencarinya”.
Sang raja kembali memanggil sang pemuda. “Aku memberikan tugas besar kepadamu. Setelah melihat apa yang kau kerjakan kemarin. Kali ini aku ingin kau mencari permaisuriku yang hilang. Kau dan kudamu harus menemukan istriku. Jika kau kembali tanpa hasil kau akan aku hukum penjara”, perintah sang raja. Sang pemuda kembali gusar. Ia mendapatkan perintah yang tak masuk akal. Bagaimana bisa ia membawa kembali sang permaisuri, kalau ia sendiri tak tahu dimana harus mencarinya. Dengan tenang sang kuda menjawab, “Kau tak perlu khawatir, lakukan seperti kemarin.”
Keesokan hari, sang pemuda bersama kudanya pergi ke tepi sungai. Ia menunggu perintah sang kuda dan telah siap dengan serulingnya. “Lempar serulingmu ke sungai,” pinta sang kuda. Sang pemuda segera melemparkan seruling itu ketengah sungai. Sang kuda tiba-tiba bergerak ke arah sungai. Ia berjalan terus ke tengah sungai. “Apa yang kau lakukan?”, teriak sang pemuda. Ia melihat kuda itu terus berjalan ke tengah sungai hingga seluruh badannya masuk ke dalam air. Tiba-tiba kuda itu menghilang. Sang kuda tak tampak lagi dalam penglihatannya.
Sebuah gelombang air besar tiba-tiba datang dari arah hulu. Sang pemuda panik. Kudanya telah tiada. Kuda itu tenggelam di sungai. Ia sekarang tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Gelombang itu telah melewatinya. Pakaiannya basah karena tertimpa air tapi ia beruntung sebelumnya telah cepat menghindar dan tidak ikut terseret air.
Tiba-tiba sebuah cahaya putih keluar dari tengah sungai. Seorang berdiri disana. Mata sang pemuda masih tak menyangka apa yang dilihatnya. Seorang wanita cantik dengan pakaian indah berjalan diatas air. Wanita itu berjalan kearahnya. “Jangan takut, aku kuda hitam hitam itu” sapa lembut wanita itu.
“Apa… apa kau kuda hitam yang bisa berbicara itu dan kau adalah seorang…”, kata-katanya terhenti. “Aku adalah permaisuri raja yang dikutuk menjadi kuda oleh penyihir”, kata wanita itu yang mengenalkan dirinya sebagai sang permaisuri. “Aku berterima kasih kepadamu”, katanya kembali. “Kau telah menyelamatkanku dari penyihir itu. Dan telah mengembalikan wujudku kembali”, lanjutnya. Sekarang labih baik kita menuju istana, sang raja pasti telah lama menunggu,”.
***
Sang raja menunggu dengan cemas. Firasatnya mengatakan kalau hari ini sesuatu yang besar akan terjadi. Tapi apa itu. Apakah sang permaisuri yang dicintainya akan kembali. Namun langkahnya terhenti ketika sedang berjalan menuju halaman istana. Seorang wanita cantik berdiri di pintu taman. Mata sang raja kembali ditajamkan. Apakah aku bermimpi, gumamnya. Sang raja mendekati wanita tersebut.
“Paduka aku kembaii”, tiba-tiba suara itu terdengar tak asing di telinga sang raja. ternyata benar, ia tidak bermimpi. Sang permaisuri telah kembali. “Pemuda itu tidak berbohong, kau telah kembali”, kata sang raja dihadapan permaisurinya. “Sebagai ungkapan suka cita akan aku berikan anugerah besar kepada pemuda itu. Dan kepada pengurus kuda akan aku pecat dan tidak kuizinkan lagi masuk ke dalam istana”.
***
“Akhirnya dia berhasil”, kata sang pelayan. Ia kembali melipat kertas yang baru saja dibacanya. “Pelayan, cepat kemari!”, teriak sang penyihir. Dengan tergopoh-gopoh, ia berjalan mendekat ke arah penyihir yang sedang duduk di kursinya. “Apa yang kau katakan kepada pemuda itu?”, tanyanya dengan berteriak. Penyihir itu sangat marah mengetahui mantra kutukannya telah terlepas.
Ia berdiri dan mengacungkan ujung tongkatnya ke kepala sang pelayan. “Kau telah membantu pemuda itu, aku tahu semuanya. Sekarang kau harus menggantikannya. Akan aku kutuk kau menjadi kuda. Kau tidak akan bertemu dengan anakmu lagi. Rasakan!”. Sebuah sinar kebiruan keluar dari ujung tongkat dan langsung menuju ke dahi sang pelayan.
Sekejap saja semuanya berubah. Suasana rumah menjadi mencekam. Angin berhembus masuk dari pintu dan jendela yang terbuka. Suara lolongan serigala terdengar melengking. “Ini belum berakhir, akan aku balas semuanya!” teriak sang penyihir diikuti suara petir yang memekakkan telinga.
Load disqus comments

0 komentar