Sabtu, 11 Januari 2014

Kamulah Hidupku


Tentang hidup yang semua orang membicarakannya, begitu juga aku, yang belum tahu banyak tentang kehidupan, yang belum mengerti arti hidup.
Orang bilang dalam hidup ada jalan yang berliku, aku juga merasakannya. Saat cacian makian, dan hinaan datang pada kehidupanku, aku hanya bisa berkata sabar pada diriku sendiri, tanpa tahu apa arti kata sabar itu.
Sesuatu yang berhubungan dengan hidup pasti berdampingan dengan cinta. Semua yang bernyawa pasti merasakan cinta, bisa jadi yang tak bernyawa pun merasakan cinta, sungai contohnya, dia mencintai air yang mengalir di atasnya.
Cinta yang aku rasa begitu sangat indah dan terkadang menjadi sesuatu yang sangat buruk. Terlalu naif rasanya jika aku menyerah mengahadapi persoalan yang terjadi dalam hidup dan kehidupanku.
Ketika mimpi hadir untuk menemani orang tidur, aku justru mengharapkan mimpi itu datang ketika aku terbangun, karena hanya dengan bermimpi aku dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup. Dia yang selalu membuatku merasa hidup, dia yang selalu membuatku berpikir tentang kehidupan, dia yang selalu ada untuk menemani ku dalam hidup. Walau terkadang dia ingin menjauh dari hidupku dan ingin mencari makna kehidupan tanpa hadirku dalam hidupnya.
Hari ini hujan deras disertai angin mengguyur di sepanjang jalan. Aku berharap hujan akan reda ketika aku sampai di kota itu, ketika aku turun dari bus ini. Berkali-kali aku lihat handphoneku walau tak ada satu pun pesan yang aku dapati. Mungkin memang keberadaanku sudah tak ada yang mau pedulikan lagi.
Tid.. Tid.. Suara handphone ku akhirnya berbunyi, ternyata ada pesan dari Rama, pacarku. Ya, mungkin hanya dia yang selalu pedulikan keadaanku.
“Sayang, kamu udah sampe?” isi pesan darinya. Entah kenapa waktu itu aku sama sekali gak mau balas pesan darinya, padahal biasanya aku selalu buru-buru balas pesannya walaupun isinya kadang gak penting.
Tapi pesannya aku balas karena aku gak mau kehilangan perhatiannya yang selalu dia curahkan padaku.
“Blm sayang, tp bentar lagi aku sampe ..”
Hmmm, mungkin memang hanya dia yang aku punya semenjak kepergian ayah dan ibuku akibat kecelakaan tiga tahun lalu. Pernah aku berpikir, kenapa sih harus mereka yang pergi duluan dari dunia ini? Kenapa bukan aku saja? Padahal kalau aku gak pergi pun mungkin gak bakalan ada yang butuhin aku.
Ah, dunia ini harus aku taklukan. Seperti kata ayahku dulu sebelum akhirnya dia pergi. “Gina, kamu itu anak ayah paling hebat, kamu harus bisa bertarung mengalahkan dunia yang terkadang kejam bagi kamu.” Iya mungkin kata-kata dari ayah itulah yang selalu menjadi penyemangat hidupku. Ayah, Ibu, andai kalian masih bersamaku mungkin aku gak akan menjadi selemah ini.
Aku adalah anak semata wayang. Kakek dan nenek ku pun sudah lama meninggal hingga akhirnya setelah kedua orang tuaku pun meninggalkan aku, aku menjadi hidup sebatang kara.
Sekarang aku masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Beruntunglah aku karena aku mendapat beasiswa untuk belajar disana. Selain kuliah aku bekerja di restoran untuk membiayai hidupku selama aku kuliah di Bandung.
Ckiiit… Suara itu membuyarkan lamunanku, tanpa kusadari ternyata bus sudah sampai. Tapi hujan deras itu masih belum reda.
Aku turun dari bus sambil berlari mencari tempat untuk berteduh. Tanpa kusadari saat aku berlari untuk menyebrang jalan aku terpeleset. Dari arah barat terlihat mobil yang melaju kencang. Saat aku terjatuh mobil itu menyenggol kaki kananku. Tapi untunglah si pengendara mobil mau bertanggung jawab walau sepenuhnya itu bukan kesalahan dia.
Aku tiba di Rumah Sakit. Lelah, sakit, sedih, bingung dan perasaan tak menentu saat aku tiba disana. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, tapi tiba-tiba dokter berkata padaku,
“Saudara Gina, luka yang dialami kaki Mbak sangat parah, kalau dibiarkan begitu tidak ada harapan untuk sembuh, kami harus mengambil tindakan untuk segera mengamputasi kaki Mbak.”
Mendengar perkataan Dokter seperti itu aku merasa dunia runtuh, tapi apa daya aku tak ingin mengalami rasa sakit yang berkepanjangan. Aku mengiyakan saja kata dokter dan hari itu pula dokter beserta timnya segera memotong kaki kananku sampai ke bagian lutut.
Rama, andai dia tahu keadaanku sekarang, mungkin dia sudah enggan menerimaku lagi. Kuliahku, kerjaanku. Lantas darimana aku bisa membiayai hidupku hari ini, esok, lusa dan selamanya sampai aku meninggal nanti.
Dengan hati yang pasrah, akhirnya aku menelpon Rama, pacarku.
Tuut.. Tuut ..
“Iya sayang?” terdengar suara Rama dari sana yang masih belum tahu keadaanku sekarang.
Aku hanya diam, bibirku enggan mengeluarkan kata.
“Sayang?” lanjut Rama karena sudah beberapa menit aku hanya diam. “Sayang, kalau masih gak mau bicara aku tutup telponnya lho.”
Akhirnya dengan suara yang berat aku mampu berkata-kata. “Aku tunggu kamu di kostku, sekarang.”
Aku langsung tutup teleponnya dan satu jam kemudian dia datang.
Melihat keadaanku dia terlihat terkejut dan mungkin dia berusaha menutupi perasaan kecewanya padaku.
“Maafkan aku, aku gak beritahu kamu tentang ini.”
Dia hanya diam.
“Aku tahu kamu malu.” Lanjutku. “Tapi kalau kamu gak mau punya pacar cacat seperti aku, lebih baik kamu pergi saja tinggalkan aku sekarang, karena aku gak mau kamu mencintaiku karena keterpaksaan, karena merasa kasihan sama aku.” Kataku sambil tak kuasa menahan air mata.
Dia menghapus air mataku. “Sayang, aku gak akan malu punya pacar kayak kamu, aku mencintaimu bukan karena fisikmu.”
“Bohong, itu bohong. Mana ada yang mau terima pacarnya dengan keadaan seperti ini.” Kataku gak percaya.
“Percayalah sayang. Aku akan…”
“Lebih baik kamu tinggalkan aku, karena aku tahu betul bagaimana orang tuamu. Jangankan dengan keadaan yang seperti sekarang ini, gak begini pun orang tuamu gak terima aku.” Aku memotong pembicaraannya. “Kamu harus pergi sekarang sayang.”
Tanpa banyak kata, Rama pergi meninggalkan aku. “Aku akan selalu ada untuk kamu.”
Kata itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulutnya.
Sesuatu yang kusebut cinta ini menjadikan aku seperti manusia paling bodoh, karena betapa bodohnya diriku yang menyuruh pacarku pergi yang jelas-jelas dia benar-benar mencintaiku.
Satu bulan berlalu, tanpa ada kabar darinya. Aku gak tahu dia ada dimana, aku gak tahu dia masih ingat aku atau enggak, yang jelas cintaku padanya masih sama seperti dulu.
Tid.. Tid.. Handphoneku bunyi. Hmmm, ternyata pasan dari Rama.
“Sayang, klo boleh aq akan ke kostanmu sekarang.”
“Aku tnggu.” Balasku.
Tak lama kemudian Rama berada di dekatku. Aku menangis, menyesal karena waktu itu aku sempat menyuruhnya pergi.
“Aku nyesel waktu itu aku nyuruh kamu pergi, tapi aku belum yakin kamu bisa terima aku dalam keadaan yang seperti ini.”
“Aku terima kamu sayang, bagaimanapun keadaan kamu aku selalu sayang kamu, aku selalu cinta kamu.” Jawabnya.
Aku menangis mendengar jawabnya. Dia peluk erat tubuhku, dia cium bibirku. Kehangatannya, kelembutannya, masih sama seperti dulu.
Rama, kini aku mengerti ternyata memang hanya kamu yang selalu ada untukku, ternyata hanya kamu yang mampu memahamiku, ternyata hanya kamu yang mengerti keadaanku.
Itulah hidup yang semua orang membicarakannya. Sesuatu dalam hidup akan terasa indah saat ada seseorang yang mampu mengerti. Sangat indah ketika air mata yang menjadi symbol dari luka berubah menjadi senyum tanda bahagia.
Seperti yang orang katakan, sesuatu akan terasa indah pada waktunya.
Load disqus comments

0 komentar