Minggu, 05 Januari 2014

Flamela


“Bagaimana perasaanmu padaku?” tanyaku pada orang itu.
“Perasaanku akan tetap sama baik itu dulu, sekarang ataupun nanti” jawabnya tegas.
“Benarkah?” pertanyaanku hanya di jawab anggukan olehnya. Cukup lega setelah mendengar jawabannya, setidaknya kami akan tetap bersama untuk waktu yang lama, pikirku.
“Treya” panggilku pada laki-laki yang sejak tadi duduk disampingku.
“Hm” jawabnya tanpa memalingkan wajahnya dari buku yang ia baca.
“Lihat aku” kataku sambil menatap wajahnya.
“Ada apa Fla?” ucapnya, Kini Treya sedang menatapku.
“Eemm, apa kau sudah bosan denganku?” tanya denga mimik wajah cemas.
Treya mengerutkan dahinya, dia tampak bingung dengan pertanyaan yang kuajukan padanya.
“Kenapa kau tanyakan itu?” tanyanya kembali membaca buku yang ada ditangannya.
“Tidak apa-apa” jawabku lirih, seperti tak punya tenaga.
FLAMELA
Treya, bagiku dia adalah cahaya dalam gelapku. Aku sangat menyanyanginya. Dia lah yang membantuku bangkit dari setiap masalah yang menimpaku. Aku selalu tenang saat bersamanya, dia selalu membagi ilmunya padaku. Dia pintar, manis dan baik. Siapapun orangnya, jika dalam kesulitan Treya pasti membantunnya dengan senang hati.
Dulu dia selalu membantuku, sejak itu kami sering bertemu dan akhirnya dia bilang padaku kalau dia menyukaiku. Aku pikir itu hanya lelucon yang sengaja ia buat, tapi dia serius.
“Kenapa bisa?” tanyaku padanya.
“Entahlah rasanya ada yang berbeda” jawabnya.
“Untuk saat ini aku belum bisa menerimamu, masih ada banyak hal yang harus kulakukan” kataku pada Treya yang menatapku tajam dengan matanya itu.
“Aku akan menunggumu” ucapnya meyakinkan.
Aku senang, dalam hati aku berteriak kegirangan. Tapi untuk saat ini kau belum jadi milikku, aku harus mengerjakan tugasku dulu. Terbang bersama awan, menembus duniaku.
Ya, kami bukanlah manusia. Kami adalah makhluk yang bertugas untuk mengendalikan musim di seluruh dunia. Setelah ini aku akan pergi jauh untuk mengganti musim, dan aku harus berpisah dengannya, dengan Treya.
TREYA
“Aku akan menunggumu Fla” ucapku lirih saat melihat Flamela terbang bersama kelompoknya meninggalkan Holora, tempat tinggal kami.
Aku peri musim dingin, sementara Flamela peri musim semi. Itu sebabnya aku dan dia tidak pergi bersama untuk melakukan tugas. Butuh waktu sekitar 1 bulan untuk kami melakukan tugas kami mengganti musim, dan 1 bulan pula aku menunggu Flamela disini tanpa kehadirannya. Rasanya begitu sepi.
“Hei” panggil seorang peri dari arah belakangku.
“Ada ada Heira?” tanya sambil menopang dagu dengan tanganku.
“Kau masih menunggu Flamelamu ya?” tanyanya lagi.
“Iya” kataku.
“Semangatlah, bantu kami untuk menyiapkan acara penyambutannya yang tinggal Seminggu lagi” kata Heira sambil menepuk pundakku lalu ia terbang pergi.
“Hhhmmm” aku bangkit dari dudukku dengan malas.
“Cepatlah kembali” kataku sendiri. Kata–kata itu tentu kutujukan untuk Flamela.
AUTHOR
Flamela sudah tak sabar ingin bertemu dengan Treya. Kini Flamela dalam perjalanannya pulang ke Holora. Dia akan menerima Treya, dan akan menjadi pasangan.
FLAMELA
“Tunggu aku Treya, kita akan bertemu lagi” kataku gembira.
“Fla, kau tampak bahagia sekali” ucap Lebriosa.
“Iya” kataku sambil tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Tidak apa-apa” kataku lalu terbang lebih cepat meninggalkannya jauh dibelakangku.
AUTHOR
Lebriosa sejak dulu kurang menyukai Flamela, dia selalu iri saat melihat Flamela senang. Lebriosa diam-diam juga menyukai Treya, tapi tak ada yang mengetahui hal itu. Lebriosa di kenal karena kecantikannya, dia sangat cantik. Banyak yang menyatakan cinta pada Lebriosa, tapi tak satupun di terima hanya karena Treya.
Apapun akan dilakukan Lebriosa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
TREYA
Akhirnya hari yang di tunggu datang juga. Pesta menyambutan sudah di mulai, mataku tak berhenti untuk mencari sosok yang selama ini ku tunggu. Tapi aku tak menemukannya.
“Treya” panggil suara lembut itu. Aku menoleh kearahnya.
“Fla” teriakku lalu menghambur memeluknya.
“Hei, banyak orang disini” katanya.
“Aku tak peduli, apa kau tak tau kalau aku sangat merindukanmu Fla” kataku sambil
Terus memeluk Flamela.
“Aku juga, tapi tidak harus disini juga Treya” katanya. Dia berhasil melepas pelukanku.
Aku menarik tangannya, bermaksud untuk menghindar dari keramaian.
“Kemana?” tanya Flamela, tapi aku tak menjawabnya.
“Nah, sampai” kataku.
“Kau masih ingat tempat ini? Ku kira kau sudah melupakannya”
“Tentu aku ingat Fla, tempat ini adalah tempat dimana kita bertemu untuk pertama Kalinya. Aku takkan lupa itu, saat itu kau menangis kan?” ucapku sambil meledek.
“Sudah lah, kenapa kau membahas itu lagi” katanya cemberut.
“Iya, maaf”.
Di bukit inilah aku dan Flamela bertemu, saat itu ia menangis entah kenapa aku tak tau pasti alasannya. Aku takkan pernah melupakannya.
“Eemm, Treya” panggilnya.
“Iya”
“Tentang itu.. aku menerimamu” kata Flamela sambil menundukkan mukanya, sepertinya dia malu.
“Tentang apa?” tanyaku pura-pura tak tau.
“Apa kau sudah lupa?” tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
Aku mengangkat bahu, aku ingin tertawa melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu, lucu sekali. Tapi aku menahan tawaku agar tidak meledak. Sampai akhirnya Flamela terlihat pasrah.
“Iya iya, aku ingat. Sangat ingat” kataku sambil terkekeh sendiri.
“Kau membohongiku” katanya dengan melipat tangannya di dada, dan tentu dengan ekspresi muka yang berbanding terbalik dengan yang tadi. Dia terlihat kesal.
“Hei aku kan bercanda. Jangan marah, apa ini sambutan yang kau berikan padaku yang telah menunggumu sekian lama” kataku menerawang ke langit.
“Kau menungguku?” tanya Flamela.
“Tentu”
AUTHOR
Tanpa sepengetahuan Treya dan Flamela, Lebriosa mendengar semua percakapan mereka berdua. Ia tampak marah, ia tak suka melihat Flamela dan Treya bahagia seperti yang ia lihat.
FLAMELA
Aku akan selalu mengingat hari ini. Hari indah bagiku.
“Fla” panggil Gideo dari arah pintu rumahku.
“Ada apa Gideo, pagi-pagi sudah bertamu kesini?” tanyaku.
“Ada masalah” kata Gideo.
“Masalah apa?” tanyaku panik. Ku harap itu bukanlah masalah yang serius.
“Kau di panggil Ratu Elliana untuk segera mengahadap, dari raut mukanya dia terlihat marah. Cepat ke istana”
“Apa benar katamu?” tanyaku tak percaya. Semua tugas sudah kulakukan dengan sempurna, pikirku.
Di istana..
“Flamela” panggil suara lembut berwibawa itu, suara Ratu Elliana.
“Iya ratu” jawabku.
“Apa benar kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik?” tanya Ratu Elliana.
“Iya ratu, saya sudah melaksanakannya dengan baik.” Kataku tetap menunduk.
“Tapi apa ini?” tanya Ratu Elliana dengan suara yang meninggi sambil menunjukkan secarik kertas.
Aku melihatnya, “Itu laporan saya Ratu” kataku menunduk kembali.
“Lalu kenapa seperti ini, ini kacau. Sangat kacau. Kerjakan kembali” kata Ratu
Elliana dan memberiku kertas laporanku. Saat aku melihatnya, aku terkejut.
“Ini bukan laporan saya Ratu” ucapku.
“Sudah, pergilah” kata Ratu Elliana. Ku lihat disana ada Lebriosa dengan senyuman sinisnya.
“Apa dia yang membuat masalah ini” pikirku.
Aku duduk terdiam di bukit memandang secarik kertas yang diberikan Ratu Elliana padaku. Ku amati satu per satu tulisan disana. Ini bukan tulisanku, ya walaupun mirip tapi aku yakin bukan aku yang menulis laporan ini.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku bingung, kesal dan kecewa. Tak terasa aku menangis lagi.
“Menangis lagi” ucap seorang peri, ternyata Treya. Lalu dia duduk di sebelahku.
“Kenapa?” tanyanya. Tapi aku tak menjawab pertanyaannya. Dia langsung mengambil Kertas yang berada dipangkuanku.
“Ini bukan tulisanmu kan?” tanya Treya sambil mengamati dengan cermat tulisan itu.
“Memang bukan” kataku masih terisak.
“Sudah, aku akan membantumu. Tapi sebisaku” kata Treya lalu tersenyum.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
AUTHOR
Melihat kedekatan antara Treya dan Flamela, Lebriosa semakin geram. Lebriosa terus mencari cara agar mereka terpisah. Sampai suatu ketika Lebriosa menemukan cara, dia membuat ramuan penghilang ingatan. Selain cantik, Lebriosa juga handal dalam hal meracik ramuan.
Hari itu juga Lebriosa menjalankan rencananya. Dia membawakan semangkuk bubur untuk Flamela di saat masih pagi buta. Flamela tak pernah curiga pada Lebriosa, jadi Flamela menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih pada Lebriosa. Tapi Flamela tak tau kalau bubur itu sudah di beri ramuan penghilang ingatan oleh Lebriosa.
Esok harinya, Flamela masih terlihat seperti biasa. Ramuan penghilang ingatan itu memang lambat tapi itu pasti.
HEIRA
“Fla, kau tak apa?” tanyaku pada Flamela yang terlihat aneh.
“Tidak apa-apa” kata Flamela, lalu beranjak pergi.
Saat aku juga hendak pergi, ku lihat Flamela terjatuh pingsan di halaman istana. Aku langsung membawanya ke rumah Toxia, dia adalah dokter di Holora.
“Dia kenapa Toxia?” tanyaku pada Toxia setelah memeriksa Flamela.
“Apa dia habis makan sesuatu?” tanya balik Toxia.
“Aku tak tau” jawabku.
“Flamela terkena ramuan penghilang ingatan” ucap Toxia.
TREYA
“Apa?” kataku tak percaya dengan apa yang diucapkan Heira.
“Itu yang dikatakan Toxia padaku” kata Heira.
“Kenapa bisa?” tanyaku lagi.
“Aku tak tau” jawab Heira, menggelengkan kepala.
Aku khawatir dengan Flamela, aku pergi ke perpustakaan kerajaan tapi aku tak menemukan penawarnya. Sampai di bukit yang biasa aku kunjungi bersama Flamela, ku lihat ada Lebriosa disana. Aku mendengar apa yang dia katakan.
“Apa maksudmu?” teriakku padanya.
“Treya” ucapnya kaget.
“Jadi kau yang melakukannnya” kataku sambil menunjuk kearahnya.
“Apa maksud ucapanmu? Aku tak mengerti”
“Aku sudah mendengar semua yang kau kau katakan tadi”
“Kenapa kau lakukan itu?” tanyaku lagi pada Lebriosa.
“Aku.. aku, aku hanya tidak suka melihat kalian dekat seperti itu. Aku menyukaimu Treya” jelas Lebriosa.
“Apa?”
“Maafkan aku” pinta Lebriosa sambil berlutut di kaki Treya.
“Apa penawarnya?” tanyaku pada Lebriosa.
“Penawarnya adalah bunga Clarissa”
AUTHOR
Treya mencari bunga Clarissa itu untuk Flamela, namun itu tak mudah karena bunga Clarissa sudah hampir punah. Tapi itu tak menyurutkan niat Treya untuk menyelamatkan Flamela. Setelah beberapa hari Treya mencari akhirnya dia menemukan bunga Clarissa. Treya membawanya pulang ke Holora dan berharap bunga itu bisa menyelamatkan Flamela.
Load disqus comments

0 komentar