Minggu, 05 Januari 2014

Cinta Julia dan Gibran


Mereka duduk berdua di antara dinginnya malam
“Julia, kamu masih ingat saat aku pertama kali mengatakan cinta kepadamu.”
“Ya tentu saja. Yang aku ingat saat itu adalah ketika banyak sekali kupu-kupu yang bermain di atas kepala kita Gibran. Dan kamu memberikan satu untukku dan aku bahagia akan hal itu.”
“Hahaha, kita lucu sekali ya saat itu.”
“Iya Gibran, dan aku benar-benar tidak menyangka aku bisa bersamamu.”
“Aku kan sudah pernah bilang Julia. Kemungkinan itu pasti akan ada.”
“Iya, tapi bagi ku saat itu semuanya hanya imajinasi ku saja Gibran.”
“Sstttt. Kamu jangan bahas masa-masa yang itu lagi ya Julia. Kamu harus lihat, sekarang aku ada sama kamu. Aku milih kamu sebagai sahabatku sampai mati. Dan semuanya yang bagimu adalah imajinasi, kini menjadi nyata Julia. Ini adalah kenyataannya. Kamu adalah tulang rusukku.”
“Hahaha, iya Gibran kau benar ini adalah nyata. Kamu tahu Gibran, kamu adalah laki-laki pertama yang mampu membuatku jatuh cinta, kamu adalah laki-laki pertama yang mampu membuatku kagum karena pribadimu yang sabar, yang memiliki solidaritas tinggi Gibran. Bagiku, kamu adalah laki-laki yang sempurna dan pasti bukan orang seperti aku yang kamu cinta”
“Aku tahu Julia, perasaanmu itu tidak pernah tidak tampak di depanku ketika aku bersamamu. Aku tahu kamu memiliki rasa yang berbeda terhadapku. Tapi memang saat itu, aku tidak melirikmu. Aku tidak pernah menganggapmu ada. Bahkan pernah aku berpura-pura membahagiakanmu lewat rayuan-rayuanku akan masa depan kita. Tetapi Julia, kamu ingat kan ketika aku berkata kalau kemungkinan untuk kita berjodoh itu ada. Dan hal itu benar-benar ada Julia.”
Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Julia berkata.
“Gibran kamu tahu, betapa aku sangat bahagia ketika kata-kata itu kamu lontarkan dari mulutu yang mungil itu. Kamu pernah bilang dalam imajinasimu, kamu akan melamarku, kamu akan memberikan resepsi pernikahan yang tidak merepotkan orang banyak, kamu ingin mempunyai anak dari rahimku, dan kamu juga pernah bilang kalau kamu ingin cucu kita tahu bagaimana cinta kita bermula dan diakhiri. Gibran kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? aku sangat bahagia Gibran, sangat sangat bahagia. Tetapi, di waktu yang lain aku melihat kamu melakukan hal sama kepada sahabatku. Kamu tahu Gibran, saat itu aku seperti tertimpa batu yang jatuh dari bukit. Hatiku benar-benar hancur Gibran. Aku mengira kamu hanya melontarkan imajinasimu itu kepadaku, ternyata tidak. Aku tidak pernah tahu berapa banyak perempuan yang kau perlakukan seperti itu.”
“Maafkan aku Julia. Ketika itu, aku memang belum sungguh-sungguh untuk melabuhkan hatiku. Aku mencoba mencari pasangan yang tepat untuk hidupku sampai tua nanti.”
“Itu bukan salahmu Gibran. akulah yang bersalah. Karena aku tidak dapat membedakan, mana yang serius dan mana yang tidak. Maaf, ini adalah kesalahan dari hatiku.”
“Julia, kamu tahu betapa aku sangat terpukul ketika kamu sempat lupa ingatan karena infeksi yang kamu derita saat itu. Kamu tahu betapa aku menyadari kamu sangat berharga bagiku Julia. Aku sangat terpuruk ketika kamu tidak mengenalku dan bahkan membenciku. Kamu tahu Julia, aku kehilangan rasa cinta yang kau beri untukku saat itu. Aku juga tidak menyangka, kenapa aku menjadi mulai perduli kepadamu. Kamu ingat bagaimana sikapku ketika kau amnesia?”
Masih dalam tangisnya Julia menjawab
“Maaf Gibran, aku tidak ingat apapun saat itu. Aku seperti kehilangan episode dalam hidupku Gibran. Aku baru menemukannya ketika aku berada di taman kupu-kupu bersamamu saat itu. Aku hanya mengingat kejadian sebelum infeksi itu membuatku amnesia. Dan aku tidak mengingat sama sekali kejadian apa yang menimpahku ketika aku amnesia Gibran. Kamu tahu, aku sangat menghargai hari itu, 20 oktober 1958 ketika aku menemukan ingatanku kembali dan ketika itu pula kau menyatakan cintamu kepadaku. Aku, bagaimanapun juga, aku bersyukur kepada infeksi itu. Karena dia yang telah membawamu untuk menyambut cintaku Gibran. Tuhan menjawab doaku, yang menginginkan kamu sebagai yang pertama dan terakhir untukku Gibran. Walaupun aku tahu, aku bukanlah yang pertama bagimu, tetapi menjadi yang terakhir bagimu itu mejadi sebuah penghormatan atas cintaku padamu Gibran.”
Gibran mendekap Julia erat sekali. Julia terisak dalam dekapannya.
“Julia, aku sayang kepadamu. Sayang sekali. Jangan tinggalin aku lagi ya Julia. Aku mohon, jangan pernah kamu lupa untuk cinta kepadaku. Kamu sudah menjadi jantung dan paru-paruku Julia. Badan ini tidak akan hidup tanpamu. Aku cinta kamu Julia, aku sayang sama kamu, kamu adalah hidupku Julia.”
“Gibran, trimakasih kamu sudah ada di dalam hidupku. Terimakasih kamu mengijinkan aku untuk memberikan anak dan cucu untuk mu. Terimakasih Gibran, karena kamu telah menyambut cintaku. Aku pasti akan mati bahagia karena aku hidup sampai tua denganmu sebagai suamiku. Trimakasi Gibran atas cinta dan kasih sayangmu.”
Gibran melipat kembali surat yang diberikan Julia untuknya. Air matanya tak kunjung henti ketika ia membacanya hingga akhir. Didekapnya surat itu erat-erat.
Gibran tidak menyangka, Julia memiliki imajinasi yang tinggi tentang dirinya dan kehidupannya bersama Gibran. Hal yang membuat terpukul adalah ketika Julia tidak dapat mencapai imajinasinya itu. Cinta Gibran untuk Julia memang tumbuh. Gibran mengutarakan perasaannya itu di bukit kupu-kupu. Dan mereka tidak hidup bersama sampai mereka tua dengan anak dan cucu dari rahim Julia. Karena tiga hari setelah ingatan Julia kembali, Julia pergi dengan infeksi yang dideritanya. Gibran tenggelam dalam tangisnya. Ketika ia lihat tanggal penulisan dari surat itu (21 oktober 1958). Julia pergi dengan mimpinya.
“Nah seperti itu lah kisah dari cinta Julia dan Gibran. Kalian tahu, nenek itu dulu seperti Julia yang cinta mati sama Gibran dan kakek adalah Gibrannya. Ehehehehe. Bedanya, nenek tidak mengidap infeksi.”
Nenek yang berada di dekat kakek hanya tersenyum dalam rangkulan kakek.
Begitulah cerita yang dilontarkan laki-laki tua itu, di depan 18 cucunya yang sudah remaja.
Load disqus comments

0 komentar