Minggu, 05 Januari 2014

Biarkan Aku Membalas Kebaikanmu


Pria itu berjalan perlahan dengan tumpukan kayu bakar di punggungnya. Berat memang, tetapi ia tidak boleh kedinginan malam ini. Ia terus melanjutkan langkahnya, walau mulai tampak kepayahan. Menapaki jalan yang mendaki menuju rumahnya. Seketika, ia dikejutkan oleh suara. Tampaknya seperti suara erangan. Tapi… bukan, itu bukan suara manusia. Arahnya berasal dari dalam hutan. Segera, ia meletakkan kayu-kayu yang ia kumpulkan seharian ini.
Dengan perasaan takut-takut, ia memasuki hutan menuju arah suara tersebut. Pikirannya mulai berimajinasi bebas, menebak-nebak, mungkin saja itu suara harimau atau beruang. Langkahnya sempat terhenti sesaat, tetapi cepat-cepat ia menghapus semua dugaan itu. Ini musim dingin, tidak mungkin ada hewan yang masih berkeliaran. Pasti mereka sedang ber-hibernasi, tidur pada musim dingin. Maka ia pun melanjutkan langkahnya perlahan. Mendekati suara erangan tersebut.
Suaranya makin jelas! Pasti di balik semak-semak di hadapanku, pikirnya. Ia menerobos semak-semak itu. Ia kaget dengan apa yang dilihatnya. Ternyata suara tersebut berasal dari seekor serigala yang berbulu putih bersih. Putih bersih? Tidak! Putihnya bulu serigala itu ternodai darah dari kakinya yang terperangkap oleh jebakan. Sementara tubuhnya terluka oleh peluru. Ia menduga, ini pasti ulah pemburu.
Dengan ragu-ragu, ia mendekati serigala itu. Ia takut serigala itu akan menggigitnya ketika ia mencoba melepaskan jebakan di kakinya tersebut. Namun ia tetap memberanikan diri, di dorong oleh perasaan ikhlas untuk menolong. Benar saja, serigala itu menancapkan gigi-giginya yang tajam sambil menggeram karena merasakan sakit yang luar biasa ketika lukanya di sentuh. Sang pemuda juga merasakan sakit yang serupa karena gigitan itu. Tetapi, sang pemuda tersenyum tulus sambil menatap sang serigala dengan pandangan lembut. Seakan mengerti maksud sang pemuda yang ingin menolongnya, serigala itu melepaskan gigitannya. Dan menjilati lengan sang pemuda yang berdarah akibat gigitannya. Jebakan itu berhasil di lepas. Ia segera menggendong sang serigala dengan susah payah. Tapi niat tulusnya untuk menolong sang serigala, seakan memberi tenaga ekstra pada dirinya.
Ketika keluar dari hutan, ia terkejut dengan hilangnya kayu bakar yang ia tinggalkan tadi. Oh, rupanya ia tidak mengikat kayu-kayu itu dengan erat. Akibatnya, ikatan terlepas, kayu-kayu itu pun menggelinding melalui jalan setapak menurun yang ia lalui tadi. Tapi rasanya aku sudah mengikat tumpukan kayu itu dengan sangat erat, batin si pemuda itu. Bagaimanapun, sudah tidak mungkin ia mengumpulkan semua kayu tersebut. Matahari sudah mulai meredup, butiran salju juga sudah mulai terjun bebas dari langit. Lagipula, serigala ini harus segera diobati sebelum ia kehabisan darah. Maka ia pun mempercepat langkah menuju rumahnya. Meninggalkan semua kayu tersebut.
Cukup jauh ia berjalan sambil memapah serigala yang terluka, akhirnya ia sampai di rumahnya. Yang sangat terpencil. Tapi pantaskah “tempat” ini disebut sebagai “rumah”? Atapnya hanya terdiri dari bambu-bambu dan batang pohon lainnya. Sementara, dindingnya, terbuat dari bebatuan sungai yang ia tumpuk tanpa menggunakan semen atau perekat lainnya. Lantainya? Hanyalah balok-balok kayu yang di susun dan di tumpuk. Luas rumah ini tidak lebih dari kamar tidur pada rumah umumnya. Hanya sekitar 3 x 4 meter. Tingginya-pun hanya sebatas jangkauan tangan sang pemuda. Tak ada rumah lagi di sekitarnya. Benar-benar terasing. Penduduk kota yang terkadang ke hutan untuk berburu dan mencari tumbuhan obat, mengira rumah sang pemuda adalah kandang yang di buat oleh beruang. Tapi, bagi sang pemuda, rumah ini sangatlah nyaman. Inilah satu-satunya tempat ia berlindung dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan serta salju. Ia pun memasukinya bersama serigala yang makin kepayahan itu.
Ia meletakkan sang serigala dengan hati-hati dan perlahan. Setelahnya, ia menyalakan perapian di tengah ruangan, dengan kayu bakar sisa semalam. Cukup cerdas ia mendesain rumah ini. Ia tidak lupa membuat “cerobong” dari bebatuan yang ia kumpulkan di hutan, untuk membuang asap dari perapian. Hutan ini sungguh menyediakan apapun yang ia butuhkan untuk kehidupannya.
Setelah perapian menyala, ia memanaskan pisau sederhana yang sehari-hari ia gunakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk memasak. Setelah cukup panas, ia mengelus serigala tersebut untuk menenangkannya. “Tenang ya. Memang akan sakit sekali, tapi peluru itu harus segera dikeluarkan.”.
Ia segera mengeluarkan peluru yang tertanam di dalam tubuh serigala itu dengan pisau panas tadi. Serigala itu berteriak kesakitan. Untungnya, proses tersebut berjalan cepat. Setelah dikeluarkan, peluru tersebut ia buang keluar rumah. Setelah itu, bagian tubuh serigala yang terluka itu dibalurinya dengan dedaunan obat yang telah ia tumbuk. Sang serigala sudah tampak lebih tenang sekarang, walau masih nampak sangat lelah.
Malam dingin-pun tiba. Api perapian jelas sudah padam mengingat sedikitnya kayu yang dapat di bakar. Angin dingin menerpa, berhembus melalui celah-celah dinding. Sang pemuda sudah tertidur dalam keadaan menggigil kedinginan. Gemeretuk gigi terdengar lebih jelas daripada suara dengkuran. Ia juga tertidur dalam keadaan lapar. Kalkun yang ia tangkap tadi pagi sudah ia berikan semua kepada sang serigala. Tapi sang pemuda sudah cukup senang, karena setidaknya sang serigala masih memiliki nafsu makan untuk menambah tenaganya.
Seketika, sang pemuda merasa sangat hangat. Rupanya sang serigala beranjak dari tidurnya dan menghampiri sang pemuda yang masih terlelap. Sang serigala seakan memeluk sang pemuda, menghangatkan tubuh sang pemuda dengan bulu-bulunya yang lembut. Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai ucapan terima kasih atas kebaikanmu, mungkin begitu ucapan sang serigala. Inilah pertama kalinya, sang pemuda merasakan kasih sayang dan perhatian.
Mentari pagi menyeruak dari ufuk timur. Keceriaan hari baru menyelimuti seluruh isi bumi. Seluruhnya? Tidak! Si pemuda menangis tersedu-sedu. Mengapa? Ternyata, teman yang ia tolong semalam, telah meninggal di sisi sang pemuda. Ia harus meninggalkan dunia ini karena lukanya yang parah dan kehabisan cukup banyak darah. Kesedihan makin memenuhi hati sang pemuda ketika ia menguburkan sang serigala di samping rumahnya. Selamat tinggal, sahabatku… selamat tinggal…
Setahun berlalu. Musim dingin berikutnya-pun tiba. Sang pemuda masih melakukan rutinitas hariannya, berburu dan mengumpulkan kayu bakar. Namun, wajah sang pemuda masih muram di rundung duka. Ditinggalkan teman satu-satunya yang ia sayangi. Karena memang, ia dijauhi banyak orang karena keburukan wajahnya. Dan di tambah lagi, karena ia hidup dan tinggal di hutan, mereka menjulukinya “Monster Rimba”. Tapi ia tidak membenci mereka. Tidak sama sekali. Walau ia dijuluki dengan berbagai julukan buruk. Bahkan melemparinya dengan telur dan tomat busuk, ketika ia sedang ke kota untuk mengumpulkan bahan makanan yang tercecer dan di buang oleh warga kota. Tidak, ia tidak dendam sedikitpun pada mereka. Juga tidak menyesal dilahirkan dengan wajah yang buruk rupa.
Namun, dia menyesali dua hal saat ini. Dia menyesal, tidak dapat menolong sang serigala lebih cepat. Juga menyesali keputusan Tuhan mengambil nyawa teman satu-satunya itu. Namun seketika dia tersadar, Tuhan hanya membebaskan sang serigala dari rasa sakit dan penderitaan serta dari manusia-manusia jahat yang menembaknya. Jangan disesali! Sang serigala sudah beristirahat dengan tenang sekarang. Aku tidak boleh mengusik istirahat abadinya itu, batin sang pemuda.
Malam menjelang. Dingin kembali menerpa. Salju turun makin deras. Untungnya, kali ini persediaan kayu bakar cukup banyak. Perut-pun sudah terisi oleh kelinci panggang yang ia tangkap tadi pagi. Sangat mudah menangkap hewan-hewan pada musim dingin ini, terutama mereka yang sedang ber-hibernasi di dalam sarangnya. Sekarang, malah rasa kantuk yang mulai menyerang sang pemuda. Ia-pun mulai berbaring dan memejamkan mata, seraya berharap ia dapat tenggelam dalam buaian mimpi indah.
Belum lama ia memejamkan mata, ia dikejutkan oleh ketukan di pintu rumahnya. Dengan terheran ia terbangun. Baru kali ini ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dengan langkah gontai karena mengantuk, ia berjalan ke arah pintu yang diketuk makin keras itu. Kantuknya serta-merta hilang sepenuhnya ketika ia membuka pintu dan melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita cantik nan anggun mengenakan kimono panjang berwarna putih bersih. Rambut hitamnya indah tergerai. Wajahnya dihiasi bibir mungil merah bagai buah delima, hidung yang mancung serta garis mata yang tegas dan menawan.
Rupanya sang wanita memohon pertolongan karena ia tersesat di tengah derasnya salju. Ia sudah berjalan jauh, namun tak kunjung menemukan tujuannya. Setelah lelah berjalan, kemudian ia melihat adanya cahaya dari rumah ini, maka ia segera menghampiri kemari.
Dengan senang hati, sang pemuda menerima sang wanita cantik ini di rumahnya. Walau hampir tak pernah bersosialisasi dengan masyarakat, sang pemuda tahu apa yang harus dilakukan untuk menjamu seorang tamu. Sang wanita diberi makan kelinci yang ia panggang beserta nasi gabah yang ia pungut dari lumbung beras di kota. Agak memalukan, namun hanya itu yang ia miliki. Tapi, sang wanita dengan lahap memakannya. Setelah selesai menyantap, sang wanita mengucapkan terima kasih. Sang pemuda sangat senang dengan kesopanan sang wanita. Ia sangat cantik, anggun dan sopan. Sesaat ia berpikir, apakah ini mimpi indah yang kuharapkan tadi?
Sang wanita ingin membalas budi atas kebaikan hati sang pemuda. Namun, sang pemuda menolaknya dengan alasan bahwa ini kewajibannya menolong seseorang yang sedang membutuhkan. Tak perlu ada imbalan. Sang wanita tetap memaksa, membuat luluh sang pemuda yang akhirnya mengalah. “Biarkan aku membalas kebaikanmu,” mohon sang wanita. “Apa yang akan engkau lakukan?” Tanya sang pemuda. “Itu rahasia,” jawab sang wanita. Sang pemuda-pun tidak bertanya lebih jauh.
Karenanya, ketika sang pemuda terlelap dalam tidurnya, sang wanita membuat sesuatu demi rasa terima kasihnya kepada sang pemuda. Sambil sesekali menatap wajah sang pemuda ketika ia tertidur. Senyuman tulus menghiasi wajah cantiknya.
Enam hari berlalu semenjak kedatangan sang wanita. Enam hari itu pula, sang pemuda benar-benar merasakan kebahagiaan. Ia kini memiliki teman yang sudi mendengarkan setiap curahan hatinya. Ia tidak lagi merasa kesepian, kini ada yang menemani hari-harinya. Berburu, mencari kayu bakar, memetik tumbuhan obat, kini tidak lagi menjadi pekerjaan yang membosankan. Dinginnya salju dan dinginnya hati masyarakat kota, tidak lagi terasa semenjak sang wanita berada di sisi sang pemuda. Ia kini lebih banyak tertawa dan tersenyum melupakan kesedihannya. Sang pemuda sangat mencintai sang wanita. Sang wanita-pun dengan tulus menyambut rasa cinta sang pemuda.
Namun, pada malam harinya, sang wanita menjelaskan bahwa ini adalah malam terakhir bersamanya. Ia harus pergi esok pagi. Jelas si pemuda kecewa. “Kita sudah saling mencintai, tidak bisakah kita bersatu selamanya?”. Sang wanita memohon maaf karena tak dapat mengabulkan keinginan sang pemuda yang satu itu. “Aku akan kesepian lagi tanpamu,” timpal sang pemuda. Sang wanita segera memeluk sang pemuda seraya berkata, “Kekasihku, mari kita jadikan malam terakhir ini menjadi malam terindah bagimu.”
Sang pemuda membuka matanya berkat cahaya mentari yang menerobos masuk melalui celah-celah dinding rumah. Ia langsung terbangun sepenuhnya ketika melihat ke arah samping, tempat sang wanita tidur semalam. Sang wanita sudah tidak ada! Mata sang pemuda mulai penuh oleh air mata yang akhirnya mengalir ke pipinya. Kesedihan mulai melandanya lagi. Namun ia segera menghapus air matanya ketika ia melihat ada bercak darah di sekitar lantai rumahnya, tepatnya di tempat sang wanita tidur semalam. Di sampingnya juga terdapat dua buntelan besar. Bercak darah? Rasa panik kini yang melanda dirinya. Ia langsung menuju pintu rumahnya, khawatir terjadi sesuatu pada sang wanita. Jangan-jangan sang wanita terluka, pikirnya. Tapi, tak ada bercak darah di atas salju depan rumahnya. Bahkan, tak ada jejak kaki sang wanita di situ. Lalu, bercak darah apa itu?
Kini ia terheran. Akhirnya, ia menghampiri dua buntelan besar tadi. Buntelan pertama dibukanya dengan penuh rasa penasaran. Betapa terkejutnya dia melihat isi di dalamnya. Kain sutra yang sangat panjang, ditemani untaian mutiara dengan benang emas serta berbagai perhiasan lainnya. Termasuk di dalamnya, kalung berlian berliontinkan simbol segitiga dengan satu mata di tengahnya dan hiasan berbentuk piramid yang terbuat dari batu rubi. Dengan semua harta itu, ia dapat hidup dengan makmur hingga tujuh keturunan. Tapi, ia kan tidak punya keturunan.
Rasa terkejut dan bahagianya makin bertambah ketika ia membuka buntelan kedua. Ternyata di dalamnya terdapat bayi yang tampaknya baru lahir. Bayi perempuan yang sangat cantik sekali. Jadi dari sinilah asal bercak darah itu. Bayi ini merupakan harta paling indah dibandingkan semua yang ada di dunia ini. Kini air mata kebahagiaan yang meleleh di pipi sang pemuda.
Ia segera melangkah ke arah depan rumahnya, sambil menggendong sang bayi. Tak jauh dari rumahnya, ia melihat ada seekor serigala putih. Sang pemuda langsung memahami, bahwa wanita cantik yang menjadi pendampingnya selama ini adalah jelmaan serigala putih yang meninggal setahun lalu itu. Serigala tersebut benar-benar berterima kasih dan bangga atas kebaikan hati sang pemuda. Maka, sebagai balas budinya, ia memberikan kebahagiaan berupa kekayaan untuk memenuhi kebutuhan sang pemuda. Dan seorang bayi cantik yang lahir dari rahimnya.
Ia menatap sang pemuda, seakan berkata, “Tetaplah berbuat baik dan jangan lagi merasa kesepian. Karena kau tidak sendiri lagi. Semua akan baik-baik saja.”. Sang pemuda menangkap pesan sang serigala dari tatapan matanya. Ia berkata perlahan, “Ya…kini aku tidak sendiri lagi.”
Sang serigala berbalik, melangkah perlahan dan hilang di antara hamparan putihnya salju. Disahut lolongan tanda perpisahan. Meninggalkan suami tercintanya.
TAMAT
Load disqus comments

0 komentar