Sabtu, 11 Januari 2014

Awal Yang Terakhir



Aku ingin memiliki cinta hanya satu di dalam kehidupanku kelak. Aku ingin cinta itu abadi sampai dibawa mati. Aku ingin semua orang tahu kalau aku dan cintaku bersama untuk selamanya.
Aku Adra, salah satu mahasiswa kampus terkenal di Bandung. Umurku sekarang 20 tahun. Menurut survei yang pernah aku lakukan, aku merupakan salah satu idola perempuan di kampusku. Entah mungkin karena aku tinggi, putih, tampan, manis ahh lupakan. Dan karena itu aku dicap sebagai play boy, tak masalah untukku toh yang akan menyesal juga perempuan yang suka padaku.
Selama ini aku tidak menghiraukan perasaan perempuan, semua aku khianati dan aku tinggalkan begitu saja. Tinggal mereka saja yang gila seperti tidak ada lagi semangat hidup. Aku tidak pernah merasa berdosa. Tentu karena karma belum datang di kehidupanku.
Hari ini aku mendapat jadwal kuliah siang. Seperti biasa aku pergi dengan motor sport ku berwarna merah. Hari ini aku pergi sendiri, tidak bersama perempuan perempuan yang selalu gonta-ganti. Sesampainya di kampus, aku memarkirkan motorku dan turun menuju kantin sekolah. Aku perlu makan siang dahulu.
Aku terus jalan dan bruuukk, ada yang menabrakku.
“Aduh mas ma..maaf saya tidak sengaja, saya buru-buru.” Suara perempuan itu.
“Lo jalan pake mata dong! Lo siapa sih? Gue gak pernah liat.” Jawabku.
“Saya mahasiswi baru mas, maaf saya harus menemui dosen saya.” Jawabnya sambil menunduk.
“Gak sopan banget lo. Udah nabrak malah main pergi. Gue gak mau maafin lo!” Jawabku sambil berjalan meninggalkannya.
Sebenarnya aku tidak marah tapi itung-itung pelampiasan kekesalanku padanya. Aku tidak mengenalnya, tentu karena dia orang baru. Tapi yang aku tahu dia sangat manis. Sampai di kantin aku langsung menuju gerombolan temanku yang sepertinya sedang sibuk membicarakan sesuatu.
“Bang, gue pesen nasi lauknya kayak biasa ya.” Teriakku ke pedagang nasi sambil duduk di bangku samping teman-temanku.
“Baik mas.” Jawab pedagang itu.
“Nah pas banget Adra udah nyampe!” Kata Tio salah satu temanku.
“Wah iya si play boy kampus hahaha. Coba kita suruh dia aja buat deketin tu cewek.” Sambar Anton.
“Tunggu.. tunggu lo pada ngomongin apa sih? Ngejek gue?” Jawabku penasaran.
“Permisi ini mas nasinya.” Pedagang sambil menaruh pesananku.
“Iya makasih bang. Lo semua pada diem? Jawab dong.”
“Dra lo tau gak ada cewek baru disini. Manis banget Dra, kita mau nantangin lo nih!” Jawab Roy.
“Iye Dra, lo kan terkenal dengan jurus ngedapetin hati cewek. Kalo lo berhasil, kita-kita bakal turutin semua yang lo pengen. Hahahaha gimana?” Tantang Anton cepat.
“Ohh cewek itu. Iya gue tau tadi gue liat dia, manis sih emang. Tantangan lo mah kecil bro, liat aja ntar. Hahaha. Lo semua bakal jadi babu gue, gue jamin.” Jawabku sombong.
“Oke kalo lo gagal 3 minggu kita bertiga makan gratisss. Deal?” Tambah Tio.
“Hahaha ngerendahin gue lo. Oke deal.”
Seminggu dari tantangan itu aku berusaha mendekatkan diri dengan perempuan baru itu. Tapi seperti sulit sekali menemukan keberadaannya. Aku tidak tahu dia dimana, dan aku teringat selama di kampus ini, satu tempat yang sangat jarang aku datangi. Perpustakaan kampus.
Benar saja, aku menemukan perempuan itu sedang membaca buku, sendiri temannya hanya tumpukan buku lain yang dipinjam nya.
“Eheemmm.” Aku mencoba memancingnya.
“Kenapa? Duh kamu mas yang kemarin kan? Yang aku tumbur. Maaf yah mas maaf.” Jawab nya langsung sambil berdiri.
“Oke gak masalah. Gue maafin lo. Masalah itu lupain aja, boleh gue duduk disini?” Jawabku sambil menunjuk kursi di sebelahnya yang kosong.
“Emmm…. boleh duduk saja mas, ini kan tempat untuk seluruh mahasiswa.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Iya iya. Oh ya ngomong-ngomong jangan panggil gue mas dong. Panggil aja Adra. Nama lo siapa?” Aku mulai berkenalan. Kali ini aku harus terlihat sopan untuk mengimbangi sifat dia juga.
“Ohh Adra. Saya Riska pindahan dari Jakarta.” Jawabnya lembut.
“Ohh Riska. Jurusan apa emang? Umur kamu berapa?” Jawabku tiba-tiba lembut.
“Saya kedokteran Dra, baru 19 tahun. Emang kenapa sih Dra?”
“Ohh gak papa kok. Ya udah aku ke kelas duluan Ka. See you.” Jawabku canggung.
“Oke Dra.”
Waw baru kali ini aku terbawa sifat perempuan. Biasanya “lo gue” yang aku pakai, kali ini tidak. Sepertinya sulit meluluhkan hati Riska, setiap perempuan yang aku ajak bicara pasti raut mukanya menjadi sangat bahagia. Tapi tidak dengan dia yang dingin seperti tidak meresponku. Aku tidak boleh gagal hanya karena dia.
Setiap hari aku mencoba terus mendekatinya. Dan setiap itu pula dia selalu dingin. Dia berbeda dengan perempuan lainnya. Sepertinya aku benar-benar menyukainya. Sepertinya dia membuat aku jatuh cinta kali ini.
“Hai Ka. Sendirian nih?” Tanyaku.
“Oh hai. Iya sambil menikmati suasana taman di kampus ini aja.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Hehe tapi kayaknya tiap hari deh kamu sendirian…”
“Kamu kok tau? Kamu tiap hari ngeliatin aku ya Dra? Haha.” Tanya nya sambil tertawa ringan.
“Ge’er kamu, tapi iya sih.” Jawabku seperti anak umur 15 tahun yang ingin menyatakan perasaannya.
“Kurang kerjaan juga kamu Dra haha.”
“Gak apalah Ka. Oh ya nanti malem kamu ada acara gak? Aku pengen ngajak kamu jalan-jalan.” Tanyaku tanpa ragu.
“Emm kayaknya gak ada. Boleh deh tapi kamu jangan ngelakuin yang enggak-enggak yah ke aku. Haha.”
“Tenang ajalah kamu bakal aman sama aku.”
Malam ini aku janji pergi bersama dia. Entah kali ini aku merasa sangat bahagia. Bukan karena rencana ku berjalan mulus tapi karena orang yang aku suka menerima tawaranku.
“Riska..” Panggilku saat sampai didepan rumahnya.
“Iya, ehh ada temen Riska. Ayo masuk dulu nak.” Jawab ibunya ramah.
“Riska ada te?” tanyaku sambil menyalami tangan ibunya.
“Ada, tunggu sebentar yah.”
“Baik te.”
Sekitar 10 menit Riska keluar menemuiku bersama ibu dan ayahnya.
“Mau kemana emang kalian?” Tanya ayahnya.
“Saya mau ngajak Riska keliling Bandung om. Dia kan kurang tahu tentang Bandung.” Jawabku seperti remaja yang meminta izin keluar malam minggu ke orang tua pacarnya.
“Ohh baiklah. Kalian hati-hati yah. Jangan pulang larut malam.” Kata orang tua Riska.
Malam ini aku merasa seperti laki-laki yang sempurna. Bisa berdua bersama orang yang terkasih meskipun dia bukan kekasih. Sampai di sebuah taman aku berhenti dan kami turun disana. Aku mengajaknya berkeliling taman sampai akhirnya aku bicara sebenarnya apa yang terjadi di hatiku sekarang.
“Ka, aku pengen ngomong sesuatu, boleh?” Tanyaku pelan.
“Tentu saja Dra. Kamu seperti kita baru kenal saja ngomong pake minta izin.” Jawabnya.
“Aku.. aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu. Sejak pertama aku ngelihat kamu, aku sudah merasakan ada yang beda dengan dirimu. Ternyata tiga bulan kita dekat aku sudah mencintaimu. Maaf mungkin terlalu cepat, tapi sepertinya hati ini sudah tidak bisa menahan terlalu lama.” Kataku dengan jujur mengungkapkan semua.
“Hah? Dra kamu ngomong apa? Kamu suka sama aku sejak awal kita ketemu?” Tanyanya penuh tidak kepercayaan.
“Aku bersumpah, aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku?”
“Maafkan aku Dra, aku tidak bisa menjawabnya saat ini juga. Berikan aku kesempatan untuk berfikir. Berikan aku kesempatan untuk melihat kamu lebih jauh. Maaf.” Jawabnya pelan takut menyakiti hatiku.
“Kalau begitu baiklah, aku akan menunggu mu. Memang benar ini terlalu cepat. Kamu tidak salah Ka. Waktu kita masih lama untuk bersama.” Jawabku senyum meyakinkan dia agar dia pilih untuk menjawab iya. Dia hanya diam menunduk lalu menatapku dalam sejenak, lalu kembali dia senyum.
“Ya sudah kita pulang saja yah. Ini sudah hampir larut, nanti orang tuamu khawatir. Tak apa kan?” tanyaku.
“Baiklah tak apa. Ayo kita pulang.”
Aku menyusul teman-temanku yang kemarin. Mereka sudah penasaran dengan apa yang terjadi denganku. Manis mereka menungguku sambil makan makanan yang biasa mereka pesan.
“Weiii datang juga nih anak.”
“Gimana-gimana sukses gak acara kita? Hahahha.”
“Kalian diam dulu. Perempuan ini berbeda.”
“Maksud mu apa Dra? Lebih morotin kamu? Atau lebih manja? Hahahah.”
“Kita gak mau tau. Pokoknya lo Dra harus jalani taruhan kita, dapetin cewek itu atau lo jadi atm jalan kita. Hahahaha.”
“Tapi dia itu be…” Baru aku mau jawab ejekan mereka, tiba-tiba ada suara yang memotong.
“Dra!!! Kamu jahat Dra. Kamu Cuma manfaatin aku buat mereka! Kamu bohong Dra, aku kira cinta kamu tulus ke aku. Mana Dra? Mana? Sakit hati aku Dra. Kamu sama saja seperti laki-laki lain. MUNAFIK!!”
“Riska? Kamu disini? Tunggu Ka dengar dulu penjelasanku aku tidak bohong. Aku mencintai kamu Ka. Bukan seperti aku mencintai perempuan yang pernah dulu menjadi kekasihku. Percaya aku Ka.. tolong…”
Tuhan, aku tidak menyangka semua ini terjadi sangat cepat. Mengapa ada dia di kantin kampus. Kacau semua kacau. Mengapa saat aku tulus malah menjadi hancur segalanya. Ini apa Tuhan? Karma?
“Kamu jahat Dra. Kamu… aku benci kamu Dra. Kamu gak akan nemuin cinta lagi Dra, gak akan. Tuhan tau hukuman untuk kamu Dra.”
“Riska.. tunggu… RISKAAA!”
“DRA! Lo jatuh cinta sama dia? Dra sorry kita gak tahu Dra. Maafin kita Dra.”
“Lo semua ngancurin semuanya. Arrgggh…”
“Dra lo mau kemana Dra? Lo mesti buktiin ke Riska Dra. Adraaa?”
Aku tak peduli teriakan bajingan seperti mereka. Aku gagal. Dalam sejarahku ini kali pertama aku merasakan kesalahan, penyesalan kepada perempuan. Tuhan aku mencintai Riska sebesar yang Engkau tahu Tuhan.
Malam ini aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak tahu minta maaf atau arrgggh… batas inikah Adra menyerah? Tidak, aku harus meminta maaf dan menyatakan semuanya.
Hampir seminggu sejak kejadian itu aku tidak pernah melihat Riska. Entah dia kemana, aku mencari di seluruh ruang kampus termasuk perpustakaan namun nihil hasilnya. Sampai akhirnya aku duduk di taman kampus berharap dia juga kemari. Tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Ini Adra?” suara itu bertanya.
“Iya, kamu…? Kamu Riska?” tanyaku kaget karena itu benar-benar Riska.
“Maaf aku mau pergi.” Buru-buru dia memalingkan badannya dari pandanganku. Buru-buru pula aku menggenggam tangannya.
“Tunggu Ka, dengarin penjelasan aku dulu.”
“Apa lagi? Mau ngomong apalagi? Bukannya kamu sudah puas nyakitin aku, menangin taruhan itu. Hah?”
“Dengar sebentar. Aku tulus mencintai kamu Ka. Seminggu aku tidak melihatmu. Aku rindu kamu. Aku minta maaf beribu maaf Ka. Aku memang taruhan untuk mendapatkan cintamu. Aku kira kamu sama tapi ternyata beda Ka, kamu membuat aku benar-benar jatuh cinta.”
“Sudah berapa kali kamu membohongi perempuan Dra? Aku ini yang keberapa Dra? Hati kamu mana?”
“Demi Tuhan aku mencintai mu Ka. Tolong, aku ingin lupakan semua yang buruk. Aku ingin memulai kebahagiaan denganmu Ka, untuk selamanya. Aku ini menunggu jawaban mu Ka!”
“Itu masih berlaku? Kamu masih menunggu jawabanku?” suaranya mulai menurun.
“Aku mencintaimu Ka.”
“Aku tidak tahu mengapa aku bodoh Dra. Seharusnya aku tahu dari awal tentang semua ini. Semua tentang kamu aku tahu Dra. Dari awal tabrakan itu aku mencari tahu tentangmu. Seharusnya aku sadar, seharusnya aku mampu menahan resiko sifat kamu itu. Tapi aku gak bisa Dra. Aku minta maaf.”
“Maksudmu Ka? Kamu menolakku? Kamu tidak percaya?”
“Aku tidak percaya Dra. Aku tidak percaya kamu bisa menunggu aku setelah aku menghina mu kemarin. Maafkan aku Dra.”
“Jadi maksud mu? Kamu menerima cintaku?”
“Untuk apa aku menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaiku dan yang aku cintai. Tentu saja, aku menunggu semua ini Dra.”
“Terimakasih Ka. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku bersumpah akan bersamamu selamanya.”
Hari itu aku tenggelam dalam kehangatan kebahagiaan, sore itu dia terlarut dalam kehangatan pelukku. Ini yang aku tunggu. Terimakasih Tuhan, Engkau mengabulkan semuanya. Kejadian yang telah lalu tidak pernah akan aku ungkit lagi. Aku ingin kami bahagia.
“Ini sudah sore, sudah jam pulang. Kita membolos kuliah hari ini.” Kataku.
“Tidak apa, ini lebih berharga dari materi kedokteran.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Kamu sudah bisa rupanya hahaha. Kita ke rumahku ya?” tawarku.
“Kenapa?”
“Aku ingin orang tuaku tahu kalau aku ada hati ada cinta.”
“Dengan senang hati.”
Sore itu aku pulang tidak sendiri, melainkan bersama perempuan lain yang tidak akan tergantikan. Entah mengapa aku yakin dia adalah cinta terakhirku. Sepanjang jalan menuju rumahku tidak ada hentinya kami bercanda. Saling mengungkapkan rasa bahagia. Aku naikkan kecepatan motorku, semakin tinggi, tinggi dan meninggi. Aku rasakan pelukan dia yang semakin erat, pelukan yang mengisyaratkan ketakutan. limapuluh meter hampir sampai di rumahku, aku melihat mobil yang melaju kencang, berlawanan arah. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap. Hilang.
Aku terbangun dari tidurku. Sepertinya sudah terlalu lama aku tidur. Kulihat sekelilingku, papa, mama dan adikku dan ini di kamar rumah sakit. Tapi tunggu mana Riska. Aku beranjak dari tempat tidur, keluargaku tidak mengetahui kalau aku keluar dari kamar ini. Aku berjalan mencoba mencari dimana Riska. Sampai akhirnya.
“Adra? Sini aku disini.” Suaranya terdengar bersamaan dengan senyumnya yang manis itu.
“Ka aku mencarimu. Kita harus bertemu keluargaku. Mereka di dalam.”
“Tapi susah untuk mereka menerima ku. Bagaimana kalau kamu yang ikut denganku Dra?”
“Kemana? Kita akan bahagia disana?”
“Tentu saja, yang ada hanya aku, kamu dan cinta kita. Ayo genggam tanganku.”
“Kamu memang cinta terakhirku.” Jawabku sambil menggenggam tangannya.
Baru selangkah aku berjalan bersama Riska, terdengar suara papa, terdengar kuat tangisan mama dan adik dari dalam kamarku. Memanggil ku, meraung.
Load disqus comments

0 komentar