Jumat, 03 Januari 2014

10.000 Keluarga Ingin Mengadopsi Anak Ini


Nasib Davion Only memang tidak beruntung. Ia lahir saat ibunya dipenjara. Setelah itu ia dibesarkan di rumah penampungan anak hingga usia 15 tahun. Satu-satunya warisandari ibunya adalah namanya yang panjang dan sertfikat kelahirannya.
Namanya sendiri adalah Davion Navar Henry Only. Ia hapal masing-masing arti katanya yaitu dicintai, coklat, penguasa rumah, dan satu-satunya. Sayangnya sampai sejauh ini tak seluruh arti nama itu dapat ia rasakan. Bahkan setiap kali libur sekolah saat teman-temannya bisa berkumpul dengan keluarga atau kerabat, dirinya selalu seorang diri. Seolah-olah hanya nama terakhirnyalah yang cocok.

Pertengahan tahun ini ia begitu ingin memiliki keluarga. Boleh jadi juga karena anak-anak yang dibesarkan di rumah penampungan tapi belum diadopsi hingga usia 16-17 tahun memiliki risiko tak akan diadopsi selama hidupnya atau tak akan memiliki keluarga permanen. Padahal anak-anak yang keluar dari rumah penampungan (menginjak usia dewasa 18 tahun sesuai peraturan) tanpa memiliki keluarga (adopsi atau bukan) kebanyakan jadi gelandangan atau terjerumus ke dunia gelap. Davion tak mau seperti itu.

Karena itu langkah pertama yang dilakukannya adalah menemukan keluarga. Pertengahan Juni 2013 ia datangi perpustakaan sambil membawa sertifikat kelahirannya. Ketika ia mengetikkan nama ibunya ia menemukan data: tinggi, besar, pencuri yang licik, kokain, La-Dwina Ilene "Big Dust" McCloud, 55, meninggal 5 Juni 2013. Berarti ibunya meninggal beberapa minggu sebelumnya. Ia terhenyak.

Namun ia tak terpuruk lama. Empat bulan kemudian ia memutuskan untuk mencari calon orangtua asuh sendiri. Ketika ia ikut pembaptisan ia meminta waktu untuk diberi kesempatan berpidato di depan 300-an orang di gereja itu. Ia datang dengan pengasuhnya Connie Doing. Ia mengenakan jas lengkap yang kedodoran hasil dari pemberian. Meski ia pada dasarnya pemalu ia paksakan untuk tampil. “Barangkali akan ada orangtua yang mendengar cerita saya,” katanya pada Connie.

Maka setelah upacara pembaptisan selesai ia pun bicara. “Nama saya Davion dan saya selalu ada di rumah penampungan sejak lahir. Saya tahu Tuhan tidak pernah menyerah untuk saya. Begitu pun saya,” katanya. Ia lalu berbicara tentang dirinya, kalau libur ia bekerja. Karena beratnya pekerjaan ia pernah kehilangan bobot sampai 40 pound (18 kg).  Meski begitu nilainya baik. Ia mendapat nilai A untuk seluruh pelajaran kecuali geometri.

Ketika ditanya, keluarga seperti apa yang diharapkannya, ia menyahut, “Saya akan terima siapa pun, tua atau muda, ayah atau ibu, hitam, putih, atau ungu. Saya tak peduli. Dan saya akan sangat menghargainya. Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan,” ujarnya.

Kontan pernyataan itu menggema ke mana-mana. Awalnya hanya koran lokal, Tampa Bay Times, yang memuatnya. Tak lama kemudian koran-koran nasional AS memuatnya. Davion bahkan diwawancara sejumlah stasiun TV. Media luar AS pun beramai-ramai memuatnya hingga seluruh dunia memberitakan kisah inspiratif dari Davion. Sejak itu, agen yang menangani proses adopsi Davion memperolah sekitar 10.000 penawaran dari keluarga yang ingin mengadopsinya. Belum jelas keluarga mana yang akan dipilih Davion. “Saya tahu, tak memiliki siapa-siapa itu seperti apa, (seperti) tanpa cahaya di ujung terowongan, tak ada orang yang menginginkan kita. (Tapi) Saya tetap berkata, ‘Bukan hanya saya, tetapi semua teman-teman di rumah penampungan, semua anak membutuhkan keluarga’. Saya hanya berharap mereka tak menyerah. Suatu saat akan ada orang yang memberi kesempatan...,” katanya dalam suatu wawancara.

Cerita Davion memang mengharukan. Bahkan ini menyentuh banyak orangtua tak hanya di AS tapi di dunia bahwa banyak anak seperti Davion yang butuh naungan keluarga. Sebagai akibatnya, tawaran adopsi tak hanya diterima Davion tetapi anak-anak terlantar lainnya. Inilah yang oleh media disebut “Davion Effect”.
Load disqus comments

0 komentar