Sabtu, 14 Desember 2013

Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi

( Geredoan - Tradisi Mencari Jodoh Khas Banyuwangi )



Banyuwangi adalah kota atau daerah yang memiliki multi kebudayaan yang patut dibanggakan oleh masyarakat Using. Kebudayaan yang ada di Bumi Blambangan pun berjalan secara turun menurun. Seperti halnya adalah Geredoan, yang ada di daerah Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

          Geredoan adalah tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Geredoan berasal dari kata Gredo yang artinya menggoda. Sebab, yang menggoda dalam tradisi ini adalah si pria, bukan si gadis. Tradisi ini merupakan salah satu rangkaian dari beberapa acara yang dilaksanakan masyarakat Using.

          Acara ini dimulai malam hari sebelum Muludan Gedi dilaksanakan, yaitu sehabis Maghrib sampai pukul 00.00 WIB. Karena begitu terkenalnya tradisi ini, seolah – olah menempatkan Geredoan sebagai tradisi yang terpisah dari Muludan Gedi. Dan pemuda-pemuda Banyuwangi pun sangat senang bila tradisi ini diadakan. Karena itulah yang membuat mereka memiliki rasa “ Cinta Banyuwangi  “.

          Tradisi ini dimulai saat warga Kecamatan Kabat mengundang banyak gadis dari desa lain. Mereka di undang untuk membantu memasak atau mempersiapkan untuk acara Muludan Gedi besoknya. Ketika mereka memasak, si pemuda mulai mengintip si gadis yang berada di dapur dari celah gedhek ( anyaman bambu ). Tanpa di undang pun, si pemuda berbondong-bondong untuk datang. Mereka yang boleh mengikuti tradisi ini adalah pemuda yang belum pernah menikah atau yang sudah menikah namun sudah bercerai ( duda atau janda ). Setelah mereka mendapatkan gadis yang diinginkan, si pemuda mulai menggeredo dan mengajak si gadis untuk mengobrol di teras rumah. Biasanya si pemuda menggeredo si gadis dengan pantun yang menggunakan bahasa Using. Lalu, jika dirasa sudah memiliki kecocokan, mereka bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih dalam dengan cara menemui keluarga si gadis.

          Jika dari satu rumah si pemuda tidak mendapatkan gadis yang diinginkan, meraka boleh pindah ke rumah yang lain untuk mendapatkan gadis sesuai keinginan mereka. Jadi mereka bebas untuk mampir  dari rumah warga yang satu ke rumah warga yang lainnya. Sebab itulah, pemuda-pemuda Banyuwangi, khususnya pemuda Kecamatan Kabat sangat antusias jika tradisi ini dilaksanakan. Karena begitu banyaknya, kisah yang mempertemukan jodoh bagi mereka, maka tradisi ini dijadikan sebagai ajang untuk mencari jodoh.

          Geredoan sangat menarik untuk diikuti semua pemuda yang belum mendapatkan jodoh, sehingga pemuda-pemuda dari desa lain atau dari kota lain di seluruh Indonesia bisa datang ke Kecamatan Kabat untuk mengikuti tradisi ini. Seiring dengan adanya event “ Banyuwangi Digital Society.
Load disqus comments

1 komentar: