Sabtu, 14 Desember 2013

Asal-Usul Ritual Kebo-Keboan Banyuwangi



Membahas tuntas Kota Banyuwangi, akan terkuak sebuah suku yang memiliki kesenian unik, yaitu Suku Using. Masyarakat Using adalah keturunan Kerajaan Blambangan, mereka memiliki kesenian Kebo-Keboan yang merupakan suatu permohonan kepada Tuhan agar panen mereka subur dan dijauhi dari malapetaka.

Meski zaman kian beralih, namun setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka. Konon, tradisi ini dimulai sejak abad-18, ketika itu masyarakat Desa Alasmalang dilanda musibah wabah penyakit berkepanjangan yang disebut brindeng atau pagebluk. Peyakit ini tidak ditemukan obatnya, bagi yang terkena pada pagi hari, maka sore harinya akan mati, jika malam kena, paginya akan mati, begitulah seterusnya.

Selain itu, masyarakat Alasmalang yang sebagian besar bermata pencaharian petani itu pun lahan pertaniannya dilanda hama tikus yang amat besar, mereka terancam gagal panen. Bertindaklah salah satu sepuh desa, yaitu Mbah Buyut Karti untuk mengambil tindakan, guna melenyapkan penyakit pagebluk dan hama tikus tersebut. Ia menggelar ruwatan atau ritual, beberapa orang manusia didandani seperti kerbau, dari sinilah kemudian nama “Kebo-Keboan” muncul.

Mengapa kerbau? Ya, karena kerbau merupakan hewan yang diakui sebagai mitra petani di sawah, kerbau yang diperankan manusia itu melambangkan betapa hubungan mitra antara petani dengan kerbau harus dipertahankan. Seluruh tubuh didandani dengan coretan hitam dari arang, lengkap dengan tanduk kerbau, ini juga sebagai simbol yang menunjukan bahwa kerbau merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat Alasmalang yang mayoritas sebagai petani.

Ritual Kebo-Keboan terbagi atas beberapa tahapan, tujuh hari sebelum pelaksanaan, sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat, yaitu, di Watu Loso (sebuah batu yang berbentuk seperti tikar),  Watu Gajah (batu yang berbentuk seperti gajah) dan Watu Tumpeng (batu yang berbentuk seperti tumpeng).

Pawang tersebut haruslah keturunan Mbah Buyut Karti, ia juga diwajibkan menyediakan sesaji yang terdiri dari tumpeng, peras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang hingga inkung ayam, serta kue, dan nasi tumpeng yang nantinya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Rombongan peserta ritual berjuluk Ider Bumi ini akan berjalan menuju bendungan yang dibuka sehingga air mengaliri jalanan yang telah ditanami palawija. Aroma kemenyan tercium sesaat lepas dupa dibakar  menemani hingga proses ritual selesai.

Rombongan kerbau tersebut kemudian berkubang dan membajak sawah seperti pada umumnya yang diikuti oleh beberapa orang pemuda yang menanami benih padi. Puncaknya adalah ketika warga berebut benih padi yang ditanam tadi, namun itu tidak mudah karena “kerbau-kerbau” yang sudah diberi mantra akan secara beringas menyeruduk warga yang berusaha mengambil benih padi tadi. Benih padi dipercaya sebagai penolak bala, mendatangkan keberuntungan dan membawa berkah. Tradisi ini diakhiri dengan pagelaran wayang kulit malam harinya.

Unsur mistik dalam tradisi Kebo-Keboan memang masih kental. Sesajen harus dipenuhi tanpa ada yang kurang, jika itu terjadi tidak jarang akan terjadi kesurupan. Walaupun begitu, tradisi ini sarat akan nilai kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religious, tak heran jika masih dipertahankan oleh masyarakat Banyuwangi.
Load disqus comments

0 komentar